BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan sektor kunci yang memegang peranan penting dalam pergerakan SDM. Dalam perjalanan perkembangan dunia pendidikan kita selalu berhadapan dengan berbagai kendala, halangan, serta permasalahan-permasalahan pendidikan dalam bentuk dan dimensi yang relative berbeda-beda.
Selama pendidikan masih ada, maka selama itu pula masalah-masalah tentang pendidikan akan selalu muncul, dan orang pun tak akan henti-hentinya untuk terus membicarakan dan memperdebatkan tentang keberadaannya, mulai dari hal-hal yang bersifat fundamental-filsafah sampai dengan hal–hal yang sifatnya teknis-operasional. Sebagian besar pembicaraan tentang pendidikan terutama tertuju pada bagaimana upaya untuk menemukan cara yang terbaik guna mencapai pendidikan yang bermutu dalam rangka menciptakan sumber daya manusia yang handal, baik dalam bidang akademis, sosio-personal, maupun vokasional.
Salah satu masalah pendidikan yang belakangan ini mulai menarik perhatian para pengamat pendidikan maupun para peneliti adalah masalah Inovasi Pendidikan.
Inovasi merupakan suatu fikiran, gagasan, praktek atau pendekatan, strategi, produk baru atau yang dianggap sebagai sesuatu yang baru baik oleh seorang individu, organisasi, atau institusi yang dapat memperbaiki atau memecahkan masalah-masalah yang dihadapi individu, organisasi, atau institusi tersebut”.
Inovasi pendidikan adalah suatu fikiran, gagasan, praktek atau pendekatan, strategi, produk baru atau yang dianggap sebagai sesuatu yang baru yang mampu memperbaiki keadaan, memecakan masalah-masalah terkait pendidikan, sehingga dapat meningkatkan kualitas pendidikan.
Dalam prakteknya implementasi Inovasi Pendidikan tak lepas dari permasalahan-permasalahan yang perlu dicermati.
Sebagai stake holder pendidikan kita dituntut untuk senantiasa melakukan inovasi-inovasi seiring dengan berkembengnya ilmu dan teknologi yang brdampak cukup signifikan terhadap seluruh tatanan pendidikan. Saat ini inovasi sudah merupakan kebutuhan, bukan sesuatu yang harus dihindari. Sedangkan dalam implementasinya sebuah inovasi menuntut peran serta seluruh warga institusi terutama para manajer yang ada di lembaga tersebut.
Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengetengahkan makalah ini dengan judul: ” Implementasi Manajemen Dalam Inovasi Pendidikan”.
Tulisan ini akan memaparkan secara rinci konsep manajemen, Inovasi, Inovasi Pendidikan, Implementasi manajemen dalam Inovasi Pendidikan (Analisis Akar Masalah, Analisis SWOT, sampai Monitoring dan Evaluasi terhadap program inovasi).
B. Tujuan Penulisan
Makalah ini ditulis dengan tujuan:
1. Memberikan referensi kepada para pembaca terutama pihak-pihak yang terlibat dalam perancangan sebuah inovasi dalam pendidikan, dimana peran managemen sangat penting.
2. Memberikan gambaran tentang analisa Akar Masalah, Analisis SWOT, Inovasi Pendidikan dan Bagaimana aplikasi Manajemen Dalam Inovasi pendidikan.i
3. Memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Inovasi Pendidikan
BAB.II
IMPLEMENTASI
MANAJEMEN DALAM INOVASI PENDIDIKAN
A. KONSEP DASAR MANAJEMEN
1. Pengertian/ Definisi Manajemen
Di bawah ini adalah beberapa definisi tentang “manajemen”:
a) Pengertian Manajemen Menurut James A.F. Stoner
Manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya dari anggota organisasi serta penggunaan sumua sumber daya yang ada pada organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya.
b) Pengertian Manajemen Menurut Mary Parker Follet
Manajemen adalah suatu seni, karena untuk melakukan suatu pekerjaan melalui orang lain dibutuhkan keterampilan khusus.
c) Menurut Dr. SP. SIAGIAN Manajemen dapat diartikan sebagai “kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui orang lain”.
d) Menurut Prof. Dr. H. Arifin Abdurrahman dalam buku “Kerangka Pokok-pokok manajemen”
a. Manajemen adalah Kegiatan-kegiatan atau aktifitas-aktifitas.
b. Proses, yakni Kegiatan dalam rentetan urutan-urutan.
c. Institut atau orang-orang yang melakukan kegiatan dan proses kegiatan.
Dari serentetan definisi manajemen diatas penulis mencoba memberikan batasan tentang manajemen sebagai “seni kelola organisasi yang di dalamnya meliputi proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya dari anggota organisasi serta penggunaan sumua sumber daya yang ada pada organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya”.
Sedangkan fungsi-fungsi manajemen menurut para ahli diantaranya sbb:
1. Menurut George R.Terry
a. Perencanaan (Planning);
b. Pengorganisasian
c. Organizing);Penggerakan
d. (Actuating);
e. Pengawasan (Controlling).
2. Menurut Luther M. Gulick yang disadur oleh Dr. BN.Silalai
a. Perencanaan
b. Planning);
c. Pengorganisir
d. (Organizing);
e. Melengkapkan
f. Tenaga Kerja (Staffing);
g. Mengarahkan (Directing);
h. Menyelaras/Mengkoordinir (Coordinating);
i. Melaporkan (Reporting);
j. Menyusun Anggaran (Budgeting).
3. Menurut Henry Fayol
a. Perencanaan (Planning);
b. Mengorganisir (Organizing);
c. Memerintah (Commanding);
d. Mengkoordinir (Coordinating);
e. Mengawasi (Controlling).
4. Menurut Koontz dan O. Donnel
a. Perencanaan
b. Planning);
c. Mengorganisir (Organizing);
d. Melengkapkan Tenaga Kerja (Staffing);
e. Mengarahkan (Directing);
f. Mengawasi (Controlling).
Pada prinsipnya pengelopokan-pengelompokan fungsi-fungsi manajemen diatas memiliki kemiripan, karena pada pelaksanaannya ke empat pengelompokan itu memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing.
Seorang manajer yang baik akan menerapkan model yang sesuai dengan situasi internal dan external lembaga.
B. INOVASI PENDIDIKAN
1. Pengertian Inovasi
Inovasi adalah memperkenalkan ide baru, barang baru, pelayanan baru dan cara-cara baru yang lebih bermanfaat.
Amabile et al. (1996) mendefinisikan inovasi yang hubungannya dengan kreativitas adalah: Inovasi atau innovation berasal dari kata to innovate yang mempunyai arti membuat perubahan atau memperkenalkan sesuatu yang baru. Inovasi kadang pula diartikan sebagai penemuan, namun berbeda maknanya dengan penemuan dalam arti discovery atau invention (invensi). Discovery mempunyai makna penemuan sesuatu yang sebenarnya sesuatu itu telah ada sebelumnya, tetapi belum diketahui.
Prof. Dr. Anna Poejiadi (2001) memberikan penjelasan: Secara harfiah to discover berarti membuka tutup. Artinya sebelum dibuka tutupnya, sesuatu yang ada di dalamnya belum diketahui orang. Sedangkan invent yang dalam kamus didefinisikan sebagai menciptakan sesuatu yang baru yang tidak pernah ada sebelumnya. Contoh invention adalah penemuan Thomas Alva Edison (1847-1931), yaitu penemuan perekam suara elektronik, penyempurnaan mesin telegram yang secara otomatis mencetak huruf mesin, mesin piringan hitam, dan pengembangan bola lampu pijar.
Inovasi diartikan penemuan dimaknai sebagai sesuatu yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang baik berupa discovery maupun invensi untuk mencapai tujuan atau untuk memecahkan masalah tertentu. Dalam inovasi tercakup discovery dan invensi.
Kata kunci lainnya dalam pengertian inovasi adalah baru. Santoso S. Hamijoyo dalam Cece Wijaya dkk (1992 : 6) menjabarkan bahwa kata baru diartikan sebagai apa saja yang belum dipahami, diterima atau dilaksanakan oleh si penerima pembaharuan, meskipun mungkin bukan baru lagi bagi orang lain. Akan tetapi, yang lebih penting dari sifatnya yang baru adalah sifat kualitatif yang berbeda dari sebelumnya. Kualitatif berarti bahwa inovasi itu memungkinkan adanya reorganisasi atau pengaturan kembali dalam bidang yang mendapat inovasi.
Kita berada di tengah-tengah samudera hasil inovasi. Ada inovasi: pengetahuan, teknologi, ICT, ekonomi, pendidikan, sosial, dsb. Inovasi dapat dikelompokkan pula atas inovasi besar dan inovasi kecil-kecil namun sangat banyak. Inovasi itu tidak harus mahal. Inovasi itu dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, dimana saja. Kalau leluhur kita tidak inovatif, kita semuanya akan tetap tinggal di gua-gua, dalam kegelapan, tanpa busana.
Inovasi dapat menjadi positif atau negatif. Inovasi positif didefinisikan sebagai proses membuat perubahan terhadap sesuatu yang telah mapan dengan memperkenalkan sesuatu yang baru yang memberikan nilai tambah bagi pelanggan. Inovasi negatif menyebabkan pelanggan enggan untuk memakai produk tersebut karena tidak memiliki nilai tambah, merusak cita rasa dan kepercayaan pelanggan hilang.
Menurut Joseph Schumpeter definisi inovasi dalam ekonomi,1934:
Mengenalkan barang baru dimana para pelanggan belum mengenalnya atau kualitas baru dari sebuah barang;
a. Mengenalkan metoda produksi baru yang dibutuhkan, ditemukan melalui serangkaian uji coba ilmiah;
b. Membuka pasar baru, dimana perusahaan sejenis tidak memasukinya, baik pasar tersebut ada atau belum ada ketika perusahaan memasukinya;
c. Menguasai sumber bahan baku baru untuk industri barang;
d. Menjalankan organisasi baru, seperti menciptakan monopoli, atau membuka monopoli perusahaan lain.
Dalam OECD, (1995) definisi Inovasi Teknologi adalah: Mengimplementasikan produk dan proses teknologi baru yang dapat meningkatkan pangsa pasar. Penciptaan proses dan produk baru melibatkan penelitian ilmiah, teknologi, organisasi, finansial dan aktifitas periklanan.
Menurut Regis Cabral (1998, 2003) bahwa Inovasi adalah elemen baru yang diperkenalkan dalam jaringan yang dapat mengubah, meskipun hanya sesaat, baik harganya, pelakunya, elemen-nya atau simpul dalam jaringan.
Dari berbagai definisi tentang definisi penulis dapat memberikan sebuah definisi bahwa:
“Inovasi merupakan suatu fikiran, gagasan, praktek atau pendekatan, strategi, produk baru atau yang dianggap sebagai sesuatu yang baru baik oleh seorang individu, organisasi, atau institusi yang dapat memperbaiki atau memecahkan masalah-masalah yang dihadapi individu, organisasi, atau institusi tersebut”.
Inovasi pendidikan adalah suatu fikiran, gagasan, praktek atau pendekatan, strategi, produk baru atau yang dianggap sebagai sesuatu yang baru yang mampu memperbaiki keadaan, memecakan masalah-masalah terkait pendidikan, sehingga dapat meningkatkan kualitas pendidikan.
2. Tipe inovasi
Ada 5 tipe inovasi menurut para ahli, yaitu:
a. Inovasi produk; yang melibatkan pengenalan barang baru, pelayanan baru yang secara substansial meningkat. Melibatkan peningkatan karakteristik fungsi juga, kemampuan teknisi, mudah menggunakannya. Contohnya: telepon genggam, komputer, kendaraan bermotor, dsb;
b. Inovasi proses; melibatkan implementasi peningkatan kualitas produk yang baru atau pengiriman barangnya;
c. Inovasi pemasaran; mengembangkan metoda mencari pangsa pasar baru dengan meningkatkan kualitas desain, pengemasan, promosi;
d. Inovasi organisasi; kreasi organisasi baru, praktek bisnis, cara menjalankan organisasi atau perilaku berorganisasi;
e. Inovasi model bisnis; mengubah cara berbisnis berdasarkan nilai yang dianut.
Karakteristik inovasi ditentukan oleh pasar dan bisnis. Inovasi yang mengikuti kondisi, memungkinkan pasar dapat dijalankan seperti biasanya. Inovasi yang terpisah, dapat mengubah pasar atau produk contohnya penemuan barang murah, tiket pesawat murah. Inovasi inkrementasi (penambah) muncul karena berlangsungnya evolusi dalam berpikir inovasi, penggunaan teknologi yang memperbesar peluang keberhasilan dan mengurangi produk yang tidak sempurna.
Inovasi radikal, mengubah proses manual menjadi proses berbasis teknologi keseluruhannya.
3. Sumber inovasi
Terdapat dua sumber utama inovasi, yaitu:
a. Secara tradisional, sumbernya adalah inovasi fabrikasi. Hal tersebut karena agen (orang atau bisnis) berinovasi untuk menjual hasil inovasinya.
b. Inovasi pengguna; hal tersebut dimana agen (orang atau bisnis) mengembangkan inovasi sendiri (pribadi atau di rumahnya sendiri), hal itu dilakukan karena produk yang dipakainya tidak memenuhi apa yang dibutuhkannya.
4. Tujuan Inovasi
Tujuan utama inovasi adalah:
a. meningkatkan kualitas
b. menciptakan pasar baru;
c. memperluas jangkauan produk;
d. mengurangi biaya tenaga kerja;
e. meningkatkan proses produksi;
f. mengurangi bahan baku;
g. mengurangi kerusakan lingkungan;
h. mengganti produk atau pelayanan;
i. mengurangi konsumsi energi;
J. menyesuaikan diri dengan undang-undang;
5. Kegagalan Inovasi
Hasil survey menunjukkan, bahwa dari 3000 ide tentang sebuah produk, hanya satu yang sukses di pasaran. Kegagalan inovasi mengakibatkan hilangnya sejumlah nilai investasi, menurunkan moral pekerja, meningkatkan sikap sinis, atau penolakan produk serupa dimasa datang. Padahal produk yang gagal seringkali memiliki potensi menjadi ide yang baik, penolakan terjadi karena kurangnya modal, keahlian yang kurang, atau produk tidak sesuai kebutuhan pasar. Kegagalan harus diidentifikasi dan diselesksi ketika proses berlangsung. Penyeleksian dini memungkinkan kita dapat menghindari uji coba ide yang tidak cocok dengan bahan baku, sehingga dapat menghemat biaya produksi.
Penyebab umum gagalnya suatu proses inovasi, dapat disaring kedalam 5 macam, yaitu: definisi tujuan yang buruk
1. buruknya mensejajarkan aksi untuk mencapai tujuan;
2. buruknya partisipasi anggota tim;
3. buruknya pengawasan produk;
4. buruknya komunikasi dan akses informasi.
6. Siklus Inovasi
Siklus inovasi berlangsung seperti kurva difusi dimana pada tahap awal, tumbuh relatif lambat, ketika kemudian pelanggan merespon produk tersebut sebagai sebuah kebutuhan maka pertumbuhan produk meningkat secara eksponensial. Pertumbuhan produk akan terus meningkat bila dilakukan inkrenetori inovasi atau mengubah produk. Di akhir kurva pergerakannya melambat kembali dan cenderung menurun.
Perusahaan yang inovatif akan bekerja dengan cara inovasi baru, yang menggantikan cara lama untuk mempertahankan tumbuhnya kurva melalui pembaharuan teknologi, bila teknologi tidak dilakukan pembaharuan pertumbuhan akan cenderung stagnan atau bahkan menurun.
C. MANAJEMEN DALAM INOVASI PENDIDIKAN
Seperti informasi yang sering kita temukan dari berbagai sumber bahwa pada dasarnya inovasi pendidikan dilaksanakan karena adanya permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam penyelenggaraan program pokok dalam suatu instansi pendidikan. Jadi Inovasi dimaksudkan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan inti.
Ada beberapa langkah yang perlu dilaksanakan ketika kita mengimplementasikan program inovasi diantaranya:
1. Analisis Akar Masalah
2. Menentukan Tujuan Program Inovasi
3. Penentuan dan Penyusunan Konsep Program inovasi
4. Analisis SWOT
5. Penentuan Strategi-strategi( langkah-langkah Strategic)
6. Merumuskan/ menyusun Program-program Strategic
7. Implementasi Program Inovasi
8. Monitoring Dan Evaluasi
1. Analisis Akar Masalah
a. Konsep Dasar Analisis Akar Madalah
Metode Analisis Akar Masalah dan Solusi (MAAMS) menyajikan suatu cara berpikir yang diperagakan dengan tata-alir (flow chart). Penerapan MAAMS membantu penggunanya untuk berpikir induktif maupun deduktif, kualitatif maupun kuantitatif, lebih mendalam dan menyeluruh, serta mempermudah kerjasama inter, multi, atau transdisiplin.
Perbincangan tentang suatu masalah yang berlangsung dalam rapat, sidang, diskusi, maupun talk show seperti diatas sering kali berkembang menjadi semakin rumit. Ketika itulah, walaupun amat sangat jarang, dirasakan pentingnya mengetahui apa yang menjadi akar atau duduk perkara dari masalah. Sayangnya ketika ada seseorang yang menyatakan sesuatu sebagai akar masalah, peserta lain pun mengemukakan sesuatu yang lain sebagai akar masalah. Masing-masing mengklaim pernyataannya sebagai akar masalah, tetapi tidak disertai penjelasan yang gamblang, eksplisit, sistematik, dan mudah diperagakan; dengan kata lain tidak metodis.
Akibatnya, perbincangan lisan maupun tertulis menjadi bertele-tele dan tidak berakhir dengan solusi (yang mendasar); menghamburkan pikiran, waktu/ ruang, dan biaya; serta tetap membingungkan hadirin maupun banyak orang yang awam. Secara keseluruhan perbincangan tersebut tidak mencerdaskan, tidak meningkatkan kualitas berpikir, dan tidak membantu masyarakat mengatasi masalah. Oleh karena itu diperlukan adanya suatu metode – sekurang-kurangnya sesuatu yang lebih metodis dan dapat diperagakan– untuk membantu proses berpikir dan proses perbincangan agar produktif.
Metode berpikir dengan menggunakan tata alir (flow chart) terutama dimaksudkan untuk mendapatkan “sebab terdalam atau akar suatu masalah”, dan kemudian, berdasarkan itu, dapat membuat alternatif solusi dasar. Metode ini dilengkapi dengan beberapa konsep dan syarat yang perlu digunakan dalam menerapkannya”. Konsep yang terpenting adalah pendekatan terhadap masalah (realitas); sumber-sumber kebenaran (hati nurani, ilmu, filsafat, agama, ditambah seni sebagai fasilitator); dan teori-teori kebenaran (theory of truth), yang secara keseluruhan mengarahkan kecerdasan akal dan kejujuran dalam proses berpikir.
b. Beberapa Konsep Pendukung
Sebelum analisis dilakukan perlu diperhatikan lebih dulu tiga komponen konseptual yang melengkapi Metode Analisis Akar Masalah dan Solusi (. AAMS) yaitu:
1. Sumber kebenaran, yang tidak hanya satu seperti hakikatnya penampakan realitas yang beragam. Ia mencakup hati nurani, ilmu, filsafat, dan agama (ditambah seni sebagai fasilitatornya); semuanya digunakan secara menyeluruh dan saling melengkapi. Sedangkan teori kebenaran antara lain: teori korespondensi, teori konsistensi/ koherensi, teori pragmatis (Muhadjir, 2001), dan teori konsensus dari Habermas (Budi Hardiman, 1990).
2. Pendekatan masalah (dan solusi) yang dibedakan menjadi dua. Ada masalah sosial dan kemanusiaan yang khas individual artinya: “tergantung pada individu masing-masing atau ada pula masalah yang khas sistemik. Masalah sosial dan kemanusiaan sebagian besar membutuhkan kedua-duanya.
a. Pendekatan individual/personal/mentalistik beranggapan bahwa letak sebab dari masalah adalah di dalam diri manusia pelaku (aktor/agen), kualitas perorangan seperti niat, iman, disiplin-diri, nilai-budaya, kadar moralitas, kognisi, dan sebagainya, yang proses internalisasinya tak dapat dikenai sanksi hukum (lebih bersifat imbauan).
b. Pendekatan sistemik/struktural/ institusional/legalistik beranggapan bahwa letak sebab dari masalah adalah di luar diri manusia berupa kesempatan, kualitas sistem, kualitas hukum, undang-undang, peraturan yang mempunyai sifat memaksa.
3. Kecerdasan (IQ) dan kejujuran (EQ dan SQ) dalam berpikir, khususnya dalam mengidentifikasi sebab-sebab. Di samping kecerdasan yang memadai, yang lebih diutamakan adalah kejujuran yang merupakan keutamaan moral dasar (Magnis-Suseno, 1989). Kejujuran sangat dituntut, khususnya ketika menemukan sebab negatif yang ternyata berkait dengan diri sendiri. Pada titik ini sering orang menghindar untuk tidak mengidentifikasinya, dan sebagai gantinya menyebut sebab lain yang juga masuk akal, bahkan tampak sangat masuk akal, tapi tidak berkait dengan dirinya. Jika ini yang terjadi akar masalah/penyebab tidak ditemukan, atau kalaupun dianggap sebagai akar masalah, jadinya semu bahkan menyesatkan secara sengaja (manipulasi). Dari kesembilan unsur kejujuran, yang terpenting adalah pengakuan yang tulus bahwa diriku atau pendapatku lebih keliru dibanding orang lain (Harsono P., 2002). Jika ketulusan tidak muncul perlu pengkondisian agar pengakuan akhirnya muncul, seperti yang dilakukan di pengadilan (dengan sumpah dan lie detector).
c. Metode dengan Peragaan Tata-Alir
Umumnya metode yang digunakan adalah metode atau model verbal, Model verbal hanya berupa rangkaian “mengapa–sebab(-sebab)–mengapa, dan seterusnya” yang ditujukan pada kasus atau masalah sosial tertentu. Setelah diujicoba dalam kuliah, dibuat model verbal berikutnya berupa “mengapa–sebab (sebab)–benarkah (ya/tidak)–mengapa, dan seterusnya”. Kemudian, agar lebih mudah lagi, kongkrit, dan dapat ditirukan mahasiswa, dibuat peraga/model visualnya berupa tata-alir (flow chart).
Ari Harsono dalam Metode Analisis Akar Masalah dan Solusi terilhami pernyataan sederhana “Kalau mau berpikir mendalam, ajukanlah pertanyaan “mengapa” secara berulang-ulang”. Lalu secara apa adanya, terhadap berbagai masalah sosial yang ramai diperbincangkan beliau ajukan pertanyaan “mengapa/ mengapa terjadi” secara berulang-ulang mengiringi setiap jawaban yang dikemukakan sendiri. Praktik latihan ini tidak memberi hasil yang memuaskan bagi beliau. Anjuran atau saran tersebut ternyata tidak dapat dilaksanakan begitu saja atau sesederhana itu. Jawaban yang muncul demikian banyak kemungkinannya dan “tanpa akhir”. Karena itu model diperbaiki lagi dengan membuat beberapa pembatasan atau syarat.
d. Langkah-langkah menjalankan MAAMS:
1. Rumuskan suatu masalah (sosial dan kemanusiaan) dalam bentuk yang dapat diajukan pertanyaan “apa sebab-sebabnya.” Misalnya, apa penyebab timbulnya perkelahian pelajar; mengapa kualitas SDM kita rendah, mengapa Malaysia berani mengincar Ambalat, apa sebab penularan HIV/AIDS, juga pemakaian narkoba yang semakin meluas? Jenis pertanyaan yang mengarah pada solusi ini harus didukung fakta. Jika dari judul (artikel, makalah, skripsi, tesis, disertasi) tidak dapat diajukan pertanyaan (“Apa Sebabnya” atau “Mengapa”), identifikasi lebih dulu alasan-alasan atau fakta-fakta yang biasanya ditulis sebagai latar belakang masalah. Terhadap alasan-alasan atau fakta-fakta inilah diajukan pertanyaan mengapa atau apa sebab-sebabnya.
2. Identifikasi sebab-sebab negatif yang paling lang-sung dari X. Misalnya ada 4 faktor, ditandai dengan Sa1, Sb1, Sc1, Sd1. (S=sebab; abcd=masing-masing faktor; angka 1=tahap pertama penelusuran sebab). Sebab negatif yaitu suatu keadaan salah-buruk yang perlu diatasi atau diperbaiki; sedangkan paling langsung yaitu sebab yang tidak diantarai oleh sebab lain. Dalam fenomena sosial hampir tidak ditemukan adanya satu faktor yang menyebabkan satu fakta lain, melainkan beberapa faktor sekaligus, baik secara kausal maupun korelasional. Di sinilah muncul kebutuhan untuk berpikir dan berkerjasama secara interdisiplin, multidisiplin, atau transdisiplin.
3. Terhadap masing-masing sebab (faktor) diajukan pertanyaan “benarkah?” dalam arti apakah ia memang menjadi sebab dari masalah X. Untuk itu lebih dulu dilakukan pengkajian atau penelitian, baik secara logis (formal) ataupun empiris (material), kualitatif maupun kuantitatif, induktif maupun deduktif (Hayon, 2005). Jika hasilnya benar, tahap kedua dari penelusuran sebab dapat dilakukan, yang berarti mencari sebab-sebab dari setiap sebab pada tahap pertama (Sa1, Sb1 dan seterusnya). Jika hasilnya salah, sebab tersebut diabaikan dan kembali ke awal dengan mengidentifikasi kemungkinan sebab lainnya. Pada langkah ketiga inilah keseluruhan pengetahuan tentang kebenaran dan pendekatan terhadap masalah diterapkan secara kritis.
4. Tahap kedua dan seterusnya (tahap ke n) caranya sama seperti tahap pertama. Bedanya adalah bahwa kemungkinan sebab (faktor) yang diidentifikasi menjadi semakin sedikit karena adanya kesamaan sehingga bukan a,b,c,d lagi tapi a,b,c, dan pada akhirnya a dan b sebagai sebab terdalam atau akar masalah (a dan b menunjukkan bahwa sebab dasar terdiri lebih dari satu sebab).
5. Penelusuran dapat dihentikan dengan memperhatikan dua syarat.
a) Pertama, apa yang dipandang sebagai akar masalah tersebut dapat secara sekaligus dicarikan solusi individual/ personal/mentalistik –berupa imbauan pada nurani atau niat seseorang– maupun solusi sistemik/ struktural/ institusional/ legalistik –berupa UU atau peraturan dengan sanksi hukum. Solusi individual relatif mudah dilaksanakan, sedangkan solusi sistemik lebih sulit dilaksanakan. Oleh karena itu untuk memenuhi syarat solusi sistemik ini, rumusan sebab atau akar masalah hendaknya memperlihatkan perilaku nyata yang cukup mudah diamati, dan tentu saja layak untuk dijatuhi sanksi hukum. Jika syarat ini tidak terpenuhi, proses diulang dari tahap sebelumnya atau dari awal lagi.
b) Kedua, terdapat persetujuan dari peserta yang terlibat perbincangan.
e. Contoh-contoh penerapan metode MAAMS :
MAAMS (Metoda Analisis Akar Masalah dan Solusi) memiliki sejumlah manfaat sebagai berikut:
a) Menyediakan alternatif metode berpikir (mendalam) yang disertai dengan model atau peraga visual.
b) Memberi dasar epistemologis bagi penerapan mixed methodology ataupun multimethods.
c) Memfasilitasi pengkajian masalah dan solusi fundamental secara interdisipliner, multidisipliner, transdisipliner; berpikir out of the box.
d) Memperbaiki, mempercepat, meningkatkan, dan meluruskan proses berpikir, diskusi, perbincangan, dsb. yang bermaksud mencari solusi.
e) Menghindarkan kekeliruan identifikasi sebab/akar masalah (dari gejala masalah).
f) Mengkategorikan masalah secara hirarkhis: permukaan, tengah, dan dasar. Hal ini secara praktis dapat digunakan untuk menyusun agenda dan program penelitian dari visi research university, dan menyeleksi daftar usulan penelitian.
g) Mempermudah pengkategorian penyelesaian masalah secara strategis dan kronologis (menghasilkan jenjang solusi suatu masalah): jangka pendek, menengah, panjang.
h) Membedakan mana kegiatan yang seharusnya sementara saja dan mana yang harus berkelanjutan (mencegah vested interest “aktivitas sosial” tertentu yang lebih menguntungkan pelakunya (popularitas dan finansial).
i) Mengajak penggunanya berpikir dengan menyertakan nilai-nilai dan norma kebenaran dan kebaikan, mengarahkan pemikiran pada kebenaran dan kebaikan perilaku, bukan hanya sukses pencapaian teknis.
Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa analisis akar masalah adalah suatu metoda pemecahan masalah dengan mengungkap semua factor-faktor penyebab yang mungkin, dan menentukan factor penyebab yang paling dominan dengan tujuan untuk menemukan solusi terbaik untuk permasalahan yang muncul dalam suatu organisasi.
.
e. Diagram Tulang Ikan; Sebuah Alat Analisis Masalah
Selain dengan metoda AAMS, seperti digambarkan diatas mencari penyebab atau akar masalah bisa dilakukan melalui analisa yang menggunakan alat berupa Diagram Tulang Ikan(Fishbone /Ishikawa Diagram).
Dr Kaoru Ishikawa, seorang pengendali mutu statistic bangsa Jepang, menemukan alat analisis ini. Oleh karena itu, sering disebut sebagai diagram Ishikawa. Diagram tulang ikan adalah sebuah alat analisis yang menyediakan cara sistematis untuk melihat efek dan sebab-sebab yang menciptakan atau berkontribusi pada munculnya permasalahan-permasalahan.
Desain diagram terlihat mirip seperti kerangka ikan. Oleh karena itu, sering disebut sebagai diagram tulang ikan. Apa pun nama yang Anda pilih, yang perlu diingat adalah bahwa fungsi dari diagram tulang ikan adalah untuk membantu dalam mengkategorikan factor-faktor yang berpotensi sebagai
Bagaimana diagram fishbone dibangun?
Langkah-langkah pokok
1. 1. Gambarkan diagram tulang ikan ....
2. 2. Daftar masalah / isu yang akan dipelajari di kepala "ikan".
3. 3. Beri nama masing-masing "" tulang "ikan" ". Kategori-kategori utama biasanya digunakan adalah:
The 4 M's: M 4's:
(Methods, Machines, Materials, Manpower/ Metode, Mesin, Material, Manusia)
The 4 P's: P 4's:
(Place, Procedure, People, Policies /Place, Prosedur, Orang, Kebijakan )
The 4 S's: S 4's:
(Surroundings, Suppliers, Systems, Skills) Sekitarnya, Pemasok, Sistem, Manusia(keMampuan Manusia)
Catatan: Anda dapat menggunakan salah satu dari empat kategori yang disarankan, menggabungkan mereka dalam satu model atau mambuat sendiri modelyang lebih mudah difahami sendirii. Kategori tersebut adalah untuk membantu Anda mengatur ide-ide Anda.
Contoh Analisa Akar Masalah dengan menggunakan Alat Fishbondnya Ishikawa.
2. Menentukan Tujuan Program Inovasi
Tahapan selanjutnya setelah kita menemukan akar permasalahan inti yang paling berpengaruh terhadap suatu masalah(masalah inti) maka kita perlu menentukan tujuan dilaksanakannya program inovasi, yaitu yang diharapkan dapat menjadi solusi terhadap akar masalah tadi, dan diharapkan dengan program ini selain menjadi solusi terhadap akar masalah tadi maka dalam arah yang sama akan mampu menyelesaikan masalah-masalah yang lainnya terkait tujuan organisasi.
Misalnya suatu hari penulis berbincang-bincang dengan seorang stakeholder pendidikan di Dinas pendidikan kabupaten Ciamis. Pada saat itu beliau diminta informasi tentang permasalahan yang dialami dunia pendidikan di Ciamis, beliau mengungkapkan bahwa sertifikasi guru di Ciamis belum memberikan dampak positif terhadap kinerja guru. Namun sepertinya beliau hanya membaca sebuah data tertentu dan belum meneliti secara lebih detail.
Untuk menemukan jawaban mengapa dan factor apa penyebab terjadinya kondisi ini, terlebih dahulu perlu dilakukan Analisis Akar Aasalahnya. Banyak factor yang mungkin menjadi penyebab dan yang mempengaruhi kondisi guru tersertifikasi yang berkinerja rendah diantaranya; Sebut saja Proses Sertifikasi yang tidak bermutu yang paling dominan. Hal ini juga mungkin dipengaruhi banyak factor diantaranya:
• Guru Yang Bersangkutan
( Pemahaman terhadap konsep Sertifikasi guru,
Mindset guru yang rendah memungkinkan adanya prilaku tidak jujur dll)
• Metode Assessement
Portofolio merupakan bentuk Evaluasi program yang cukup baik namun ternyata yang dianggap baik tidak selamanya tepat untuk digunakan.
• Pengawasan
Apakah sudah dilakukan pengawasan yang betul-betul terencana dan terprogram dengan segala kemungkinan yang ada?
Mungkin belum ada system pengawasan yang memadai dari pemerintah terhadap pelaksanaan sertifikasi guru tersebut.
• Tim Pelaksana Sertifikasi
Lagi-lagi kita perlu menganalisa apakah TIM sudah solid? Apakah TIM mampu melaksanakan program sertifikasi dengan adil? Apakah masih terdapat praktek-praktek diskriminatif? Apakah kriteria-kriteria yang dipakai untuk menentukan A, B, atau C yang harus mengikuti program sertifikasi sudah benar?
• Asessor
Asessor juga manusia. Apakah individu-induvidu yang dianggap penentu nasib bangsa ini sudah benar-benar teruji kredibilitasnya?
• Masih adakah diantara petinggi-petinggi manusia ini yang menerima titipan-titipan, pesan-pesan, kapan kinerja guru bisa meningkat sesuai harapan program? Dll.
Masih puluhan bahkan mungkin ratusan factor yang mungkin dapat mempengaruhi proses pelaksanaan sertifikasi guru.
Dari sekian banyak factor secara brain storming ditarik benang merahnya yang mana yang benar-benar berpengaruh terhadap rendahnya proses sertifikasi guru. Misalnya akar permasalahannya itu adalah Metode/teknik Assessement-nya.
Maka pada tahapan ini kita merumuskan tujuan dilaksanakannya program inovasi ini misalnya:
“Meningkatkan mutu Proses Sertifikasi Guru”.
3. Penentuan dan Penyusunan Konsep Program Inovasi
Setelah menentukan tujuan pelaksanaan inovasi guru barulah kita menyusun Konsep Program Inovasi: Perencanaan, Implementasi, Monitoring dan Evaluasi.
Apa nama Program Inovasi tersebut.
Berapa orang yang diperlukan? Siapa-siapa saja?
Kapan kemungkinan Waktunya? Dimana? Bagaimana?
Berapa Dana Yang dibutuhkan?
Dan lain-lain sampai konsep implementasi dan monev secara rinci dan jelas.
4. Analisis SWOT
Langkah selanjutnya dalam manajemen inovasi adalah melakukan Analisa SWOT untuk melihat sejauh mana kesiapan organisasi menghadapi program inovasi yang akan dilaksanakan.
A. Pengertian
Analisa SWOT adalah sebuah bentuk analisa situasi dan kondisi yang bersifat deskriptif (memberi gambaran). Analisa ini menempatkan situasi dan kondisi sebagai sebagai faktor masukan, yang kemudian dikelompokkan menurut kontribusinya masing-masing. Satu hal yang harus diingat baik-baik oleh para pengguna analisa SWOT, bahwa analisa SWOT adalah semata-mata sebuah alat analisa yang ditujukan untuk menggambarkan situasi yang sedang dihadapi atau yang mungkin akan dihadapi oleh organisasi, dan bukan sebuah alat analisa ajaib yang mampu memberikan jalan keluar yang cespleng bagi masalah-masalah yang dihadapi oleh organisasi.
Analisa ini terbagi atas empat komponen dasar yaitu :
1. Strength (S), adalah situasi atau kondisi yang merupakan kekuatan dari organisasi atau program pada saat ini.
2. Weakness (W), adalah situasi atau kondisi yang merupakan kelemahan dari organisasi atau program pada saat ini.
3. Opportunity (O), adalah situasi atau kondisi yang merupakan peluang diluar organisasi dan memberikan peluang berkembang bagi organisasi dimasa depan.
4. Threat (T), adalah situasi yang merupakan ancaman bagi organisasi yang datang dari luar organisasi dan dapat mengancam eksistensi organisasi dimasa depan.
Selain empat komponen dasar ini, analisa SWOT, dalam proses penganalisaannya akan berkembang menjadi beberapa Sub. komponen yang jumlahnya tergantung pada kondisi organisasi. Sebenarnya masing-masing subkomponen adalah pengejawantahan dari masing-masing komponen, seperti Komponen Strength mungkin memiliki 12 subkomponen, Komponen Weakness mungkin memiliki 8 subkomponen dan seterusnya.
Jenis-Jenis Analisis SWOT
1. Model Kuantitatif
Sebuah asumsi dasar dari model ini adalah kondisi yang berpasangan antara S dan W, serta O dan T. Kondisi berpasangan ini terjadi karena diasumsikan bahwa dalam setiap kekuatan selalu ada kelemahan yang tersembunyi dan dari setiap kesempatan yang terbuka selalu ada ancaman yang harus diwaspadai. Ini berarti setiap satu rumusan Strength (S), harus selalu memiliki satu pasangan Weakness (W) dan setiap satu rumusan Opportunity (O) harus memiliki satu pasangan satu Threath (T).
Kemudian setelah masing-masing komponen dirumuskan dan dipasangkan, langkah selanjutnya adalah melakukan proses Evaluasi program. Evaluasi program dilakukan dengan cara memberikan skor pada masing -masing subkomponen, dimana satu subkomponen dibandingkan dengan subkomponen yang lain dalam komponen yang sama atau mengikuti lajur vertikal. Subkomponen yang lebih menentukan dalam jalannya organisasi, diberikan skor yang lebih besar. Standar Evaluasi program dibuat berdasarkan kesepakatan bersama untuk mengurangi kadar subyektifitas Evaluasi program.
2. Model Kualitatif
Urut-urutan dalam membuat Analisa SWOT kualitatif, tidak berbeda jauh dengan urut-urutan model kuantitatif, perbedaan besar diantara keduanya adalah pada saat pembuatan subkomponen dari masing-masing komponen. Apabila pada model kuantitatif setiap subkomponen S memiliki pasangan subkomponen W, dan satu subkomponen O memiliki pasangan satu subkomponen T, maka dalam model kualitatif hal ini tidak terjadi. Selain itu, SubKomponen pada masing-masing komponen (S-W-O-T) adalah berdiri bebas dan tidak memiliki hubungan satu sama lain. Ini berarti model kualitatif tidak dapat dibuatkan Diagram Cartesian, karena mungkin saja misalnya, SubKomponen S ada sebanyak 10 buah, sementara subkomponen W hanya 6 buah. Sebagai alat analisa, SWOT berfungsi sebagai panduan pembuatan peta. Ketika telah berhasil membuat peta, langkah tidak boleh berhenti karena peta tidak menunjukkan kemana harus pergi, tetapi peta dapat menggambarkan banyak jalan yang dapat ditempuh jika ingin mencapai tujuan tertentu. Peta baru akan berguna jika tujuan telah ditetapkan. Bagaimana menetapkan tujuan adalah bahasan selanjutnya yaitu membangun visi-misi organisasi atau program.
Analisa SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats) telah menjadi salah satu alat yang berguna dalam dunia industri. Namun demikian kini mulai digunakan sebagai alat bantu pembuatan keputusan dalam hamper semua institusi termasuk institusi pendidikan.
Proses penggunaan manajemen analisa SWOT menghendaki adanya suatu survei internal tentang strengths (kekuatan) dan weaknesses (kelemahan) produk, serta survei eksternal atas opportunities (ancaman) dan threats (peluang). Pengujian eksternal dan internal yang terstruktur adalah sesuatu yang unik dalam dunia perencanaan dan pengembangan produk pendidikan.
Contoh pengembangan produk lembaga pendidikan menggunakan analisa SWOT, adalah suatu cara yang berguna dalam menguji kondisi lingkungan tentang produk baru yang ditawarkan suatu lembaga lembaga pendidikan. Sebuah tinjauan atas aplikasi potensial SWOT dalam jangkauan yang luas juga merupakan tujuan dari pada tulisan ini.
Lingkungan eksternal mempunyai dampak yang sangat berarti pada sebuah lembaga pendidikan. Selama dekade terakhir abad ke duapuluh, lembaga-lembaga ekonomi, masyarakat, struktur politik, dan bahkan gaya hidup perorangan dihadapkan pada perubahan-perubahan baru.
Para administrator atau pengelola lembaga pendidikan harus berperan sebagai penggagas atau inovator dalam merancang masa depan lembaga yang mereka kelola. Strategi-strategi baru yang inovatif harus dikembangkan untuk memastikan bahwa lembaga pendidikan akan melaksanakan tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan masyarakat mendatang khusunya pada abad 21 dan setelahnya. Untuk melakukan hal ini, antara lain dibutuhkan sebuah pengujian mengenai bukan saja lingkungan lembaga itu sendiri tetapi juga lingkungan eksternalnya (Brodhead, 1991). Analisis kekuatan, kelemahan, kesempatan/peluang, dan ancaman atau SWOT (juga dikenal sebagai analisis TOWS dalam beberapa buku manajemen), menyediakan sebuah kerangka pemikiran untuk para pengelola dalam memfokuskan secara lebih baik pada layanan kebutuhan dalam masyarakat.
Meskipun sebenarnya analisis ini banyak ditujukan untuk penerapan dalam bisnis konvensional, namun demikian penggunaan perangkat ini dalam bidang pendidikan bukanlah hal dilarang. Penulis memandang bahwa analisis SWOT merupakan alat yang cukup efektif sebagai pendekatan manajemen. Perangkat manajemen yang sedianya ditujukan untuk bidang industri seringkali bisa diolah untuk diterapkan di bidang jasa, karena adanya kemiripan yang fundamental dalam tugas-tugas administratif.
SWOT adalah sebuah teknik yang sederhana, mudah dipahami, dan juga bisa digunakan dalam merumuskan strategi-strategi dan kebijakan-kebijakan untuk pengelolaan pegawai administrasi (administrator). Sehingga, SWOT disini tidak mempunyai akhir, artinya akan selalu berubah sesuai dengan tuntutan zaman. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk menunjukkan bagaimana SWOT dapat digunakan oleh para pengelola lembaga pendidikan dalam menganalisis dan memulai pembuatan program baru yang inovatif untuk ditawarkan dalam lembaga pendidikan.
2. Perkembangan Analisis SWOT
Analisis SWOT secara sederhana dipahami sebagai pengujian terhadap kekuatan dan kelemahan internal sebuah organisasi, serta kesempatan dan ancaman lingkungan eksternalnya. SWOT adalah perangkat umum yang didesain dan digunakan sebagai langkah awal dalam proses pembuatan keputusan dan sebagai perencanaan strategis dalam berbagai terapan (Johnson, dkk., 1989; Bartol dkk., 1991). Jika hal ini digunakan dengan benar, maka dimungkinkan bagi sebuah sekolah kejuruan untuk mendapatkan sebuah gambaran menyeluruh mengenai situasi sekolah itu dalam hubungannya dengan masyarakat, lembaga-lembaga pendidikan yang lain, dan lapangan industri yang akan dimasuki oleh murid-muridnya. Sedangkan pemahaman mengenai faktor-faktor eksternal, (terdiri atas ancaman dan kesempatan), yang digabungkan dengan suatu pengujian mengenai kekuatan dan kelemahan akan membantu dalam mengembangkan sebuah visi tentang masa depan. Prakiraan seperti ini diterapkan dengan mulai membuat program yang kompeten atau mengganti program-program yang tidak relevan serta berlebihan dengan program yang lebih inovatif dan relevan.
Langkah pertama dalam analisis SWOT adalah membuat sebuah lembaran kerja dengan jalan menarik sebuah garis persilangan yang membentuk empat kuadran, keadaan masing-masing satu untuk kekuatan, kelemahan, peluang/kesempatan, dan ancaman. Secara garis besar lembaran kerja tersebut diperlihatkan dalam lembar-1. Langkah berikutnya adalah membuat daftar item spesifik yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi di bawah topik masing. Dengan membatasi daftar sampai 10 poin atau lebih sedikit, untuk menghindari generalisasi yang berlebihan (Johnson, et al., 1989).
SWOT dapat dilaksanakan oleh para karyawan secara individual atau secara kelompok dalam organisasi. Teknik secara kelompok akan lebih efektif khususnya dalam pengadaan struktur, objektifitas, kejelasan dan fokus untuk diskusi mengenai strategi, sehingga tidak akan cenderung melantur, dan bahkan akan terkena pengaruh politik atau kesenangan (interest) perseorangan yang kuat (Glass, 1991). Hal yang harus disadari jika bekerja secara kelompok dalam bidang keuangan, maka akan muncul tiga sikap yang terangan-terangan dari para karyawan di mana tergantung masa kerja mereka masing-masing. Karyawan yang mempunyai pengalaman dan masa kerja lebih lama lebih cenderung menjadi yang paling partisipatif dan receptive akan ide-ide baru.
SWOT harus mencakup semua aspek/area berikut ini, yang masing-masing dapat merupakan sumber kekuatan, kelemahan, kesempatan, atau ancaman, misalnya:
1. Beberapa contoh factor lingkungan internal lembaga pendidikan:
a) SDM ( staf pengajar, official, laboran, pimpinan)
b) Input (siswa)
c) Sarana Prasarana (Keberadaan, Kelengkapan, Jumlah, Variasi, Penataan, Kecocokan, Ukuran, dll. Euis)
Misalnya : Ruang kegiatan Belajar, Perpustakaan, sarana ibadah, fasilitas Olah-raga dll.)
2. Kurikulum (KTSP, Silabus, RPP, Evaluasi program/Evaluasi dll)
3. Bebrapa contoh lingkungan eksternal di lembaga Pendidikan:
a) Pelanggan lembaga pendidikanpesaing lainnya;
b) Demografi sosial dan ekonomi penduduk;
c) Para pemegang saham.
3. Survei Internal tentang Kekuatan dan Kelemahan
Secara historis, para guru dan warga sekolah berupaya menarik minat pelanggan agar memasuki/memlih lembaga mereka dengan cara meningkatkan produk dan layanan tanpa memperhatikan kelemahan dan kekuatan lembaga pendidikan yang mereka kelola. Apabila, keadaan audit internal seperti ini dilaksanakan, maka akan timbul area/aspek yang menghendaki beberapa perubahan. Lebih dari itu, potensi dan kemungkinan-kemungkinan akan adanya service dan program-program inovasi baru bisa juga muncul. Dengan membuat seluruh daftar tentang kelemahan internal maka akan tampak area/aspek yang bisa diubah guna untuk memperbaiki kinerja lembaga tersebut, termasuk segala sesuatunya yang berada di luar jangkauan kontrol. Contoh mengenai kelemahan inheren adalah cukup banyak. Misalnya sebagai berikut:
a) Kemampuan pendidik dan tenaga kependidikan akan IT dan Bahasa Inggris masih lemah; bangunan infrastruktur yang kurang memadai;
b) fasilitas sarana prasarana, serta langkanya sumber-sumber daya instruksional; dan termasuk lokasi lembaga pendidikan tersebut.(akses masuk area sekolah kurang mendukung)
Sedangkan kekuatan yang ada perlu juga didaftar, sebagai contoh kekuatan potensial dapat berupa:
(a) kualifikasi guru yang pada umumnya memadai.
(b) para pendidik yang berdedikasi dan bermoral tinggi.
(c) akses dengan lembaga pendidikan yang lain, dimana pelanggan dapat melakukan transaksi dengan lembaga lain, termasuk lembaga pendidikan kejuruan.
(d) reputasi yang baik dalam menyediakan layanan; dan
(e) perbedaan latar belakang pelanggan.
Penaksiran kekuatan dan kelemahan juga bisa dilakukan melalui survei, kelompok-kelompok fokus, wawancara dengan pelanggan, dan sumber-sumber lain yang dapat dipercaya. Begitu kelemahan dan kekuatan tergambar, maka akan memungkinkan untuk mengkonfirmasi item-item tersebut. Harus kita fahami bahwa persepsi yang berbeda-beda bisa timbul, tergantung pada kelompok-kelompok representatif yang dihubungi dan dimintai pendapatnya.
4. Analisis Eksternal (Ancaman dan Peluang)
Gambaran eksternal bersifat komplementer terhadap self-study internal di dalam analisis SWOT. Pengaruh-pengaruh nasional dan regional seperti masalah-masalah lokal dan negara adalah yang paling penting dalam memutuskan program baru apa saja yang perlu ditambah atau program yang sudah ada dan perlu dimodifikasi atau diganti. Gilley dkk. (1986) menetapkan sepuluh dasar-dasar institusi yang “on-the-move” (sedang maju), salah satunya adalah kemampuan institusi atau lembaga untuk menjaga pengawasan yang lebih dekat atas masyarakat. Tidak hanya karyawan saja yang harus mengawasi masyarakatnya, namun mereka juga memainkan perananan kepemimpinan dengan memberikan isu-isu itu yang berkaitan secara langsung maupun tidak.
Informasi tentang iklim dan trend bisnis yang ada dan perubahan penduduk harus dipertimbangkan dalam tahap studi pengembangan ini. Sejumlah sumber informasi harus diliput, tidak hanya terbatas kepada pendidik saja, melainkan pelanggan , tokoh masyarakat, surat kabar, majalah, jurnal bisnis, dewan pengawas syari’ah, dunia industri, dan lainnya. Sehingga masing-masing dapat merupakan sumber potensial sebagai informasi yang sangat berharga.
Salah satu strategi dalam bisnis adalah mengenali ancaman. Kita perlu mengenali ancaman atau musuh kita agar kita bisa mengatur langkah kerja yang tepat. Ingat bahwa ancaman dapat berwujud dalam berbagai bentuk.
a) Besarnya anggaran pendidikan yang terbatas dianggap suatu peraturan daripada dianggap sebagai suatu pengecualian.
b) Adanya suatu perubahan kesadaran atau pola pikir masyarakat akan menciptakan kesempatan potensial untuk memberikan isu-isu baru dengan jalan memberikan layanan yang lebih bermutu dan berkualitas.
c) Kepedulian masyarakat terhadap lingkungan yang bersifat global, juga mempunyai areal/aspek kesempatan.
d) Industri atau bisnis baru apa yang dapat muncul di masa akan datang, dengan mencari karyawan berketrampilan serta terlatih baik.
Harus dipahami juga bahwa kesempatan dan ancaman tidak absolut sifatnya. Ancaman dan Peluang kadang-kadang bisa bertukar posisi. Oleh sebab itu kita perlu melangkah dengan cermat. Apa yang pertama-tama nampak akan menjadi suatu kesempatan/peluang, mungkin tidak muncul bila dikaitkan dengan sumber-sumber daya atau harapan masyarakat. Makin banyak sumber daya atau harapan masyarakat, maka makin besar pula tantangan dalam menggunakan metode analisis SWOT, sehingga memungkinkan untuk membuat Evaluasi program yang benar dan tepat serta lebih menguntungkan baik secara institusi maupun lingkungan masyarakat.
1. Kelemahan SWOT
Pada umumnya SWOT hanya mencerminkan pandangan seseorang atau kelompok, dimana hanya mencerminkan keberpihakan dalam menilai tindakan yang telah ditentukan sebelumnya, daripada digunakan sebagai alat untuk menemukenali kemungkinan-kemungkinan peluang baru. Hal penting yang perlu perhatikan bahwa kadang-kadang ancaman juga dapat dipandang sebagai kesempatan, tergantung orang atau kelompok yang terlibat. Ada pepatah yang menyatakan, “Seorang yang pesimis adalah orang yang melihat kegagalan di dalam suatu kesempatan, dan seorang yang optimis adalah orang yang melihat kesempatan di dalam suatu kegagalan.” Dalam contoh lembar-2, kesempatan yang diberikan para ahli dalam industri untuk melatih siswa, mungkin dianggap oleh sebagian anggota lembaga pendidikan (pengajar dan staf) sebagai suatu ancaman terhadap posisi atau pekerjaan mereka sendiri.
SWOT memungkinkan sebuah institusi untuk mengambil cara yang singkat daripada melakukan sebuah penelitian khusus kekuatannya yang sesuai dengan kesempatan, sehingga mengabaikan kesempatan yang tidak dirasakan. Metode yang lebih pro-aktif dalam identifikasi kesempatan/peluang adalah paling menarik, baru kemudian merencanakan dan menemukembangkan strategi institusi untuk memenuhi kesempatan-kesempatan tersebut. Hal ini akan menciptakan strategi efektif, menurut Glass (1991), dalam menghadapi tantangan, daripada sekedar menemukan kekuatan yang ada dan kesempatan yang dipilih untuk dikembangkan kemudian.
Contoh Analisa SWOT terhadap kesiapan SMAN 1 Ciamis dalam melaksanakan Program Inovasi RSMABI.
1. Analisis SWOT (Analisa Tingkat Kesiapan Fungsi)
NO FUNGSI DAN FAKTORNYA KONDISI IDEAL KONDISI NYATA TINGKAT KESIAPAN
SIAP TIDAK
A Fungsi Proses Belajar Mengajar
1. Faktor Internal a Jadwal Pelajaran Jadwal Pelajaran diketahui oleh guru dan siswa Jadwal pelajaran telah diketahui oleh guru dan siswa Kekuatan
b Waktu Kegiatan Pembelajaran dilaksanakan tepat waktu Masih terdapat guru dan siswa kesiangan Kelemahan
c Interaksi Interaksi pembelajaran menggunakan pengantar berbahasa inggris Inter aksi pembelajaran baru sebagian kecil menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar Kelemahan
d Media Menerapkan media pembelajaran berbasis ICT 50 % guru menggunakan media berbasis ICT Kekuatan
e Pendekatan Menerapkan pendekatan dan strategi pembelajaran beorientasi kepada aktivitas siswa Pada umumnya guru telah menerapkan strategi pembelajaran yang beorientasi pada aktivitas swa Kekuatan
f Pemanfatan Lingkungan Kegiatan pembelajaran memanfatkan sumber belajar yang ada dilingkunan sekolah seperti perpustakaan, kebus sekolah dan kantin Lingkungan sekolah tela diamanfaatkan untuk kegiatan pembelajran Kekuatan
g Supervisi Kepala sekolah Kepala sekolah melakukan supervise secara berkala Kepala sekolah telah melakukan supervisi secara berkala Kekuatan
h Hasil belajar siswa Nilai UN, UAS, dan portofolio masing siswa tersedia dalam Bhs. Inggris dan Indonesia dan terdokumentasi dengan baik Nilai UN,UAS, dan portofolio belum tersedia dalam bahasa Inggris Kelemahan
2.Faktor Eksternal a Pengawas Pembina Pengawas pembina melakukan bimbinga dan pengawasan secara berkala a Pengawas Pembina telah melaksanakan bimbingan dan pengawasan Peluang
b Pengawas Mata Pelajaran Pengawas mata Pelajaran malakukan bimbingan dan penagwasan secara berkala Pengawas mata Pelajaran belum malakukan bimbingan dan pengawasan secara berkala Ancaman
c Custumer Mengadakan kerja sama dengan perguruan tinggi atau lembaga tertentu Telah menjalin kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi dan lembaga tertentu Peluang
B Fungsi Pendukung PBM : Kurikulum
1. Faktor Internal a Kurikulum Menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yang telah disyahkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi a Memilki KTSP dengan siste Satuan Kredit Semester, telah disyahkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Kekuatan
b Silabus Silabus disusun secara mandiri menggunakan bahasa Indoensia dan Bahasa Inggris b Belum tersedia silabus dalam Bahasa Inggris Kekuatan
c Bahan Ajar c Bahan Ajar Kekuatan
a. Buku Teks Siswa Tersedia dalam bahasa Indonesia dan Bhs. Inggris Telah tersedia buku teks siswa tetapi belum dalam Bahasa Inggris Kekuatan
b. Buku Teks Guru Tersedia dalam bahasa Indonesia dan Bhs. Inggris Telah tersedia buku teks guru tetapi belum dalam Bahasa Inggris Kekuatan
c. LKS / Student Worksheet Tersedia dalam bahasa Indonesia dan Bhs. Inggris Telah tersedia LKS siswa tetapi belum dalam Bahasa Inggris Kekuatan
d Rencana Pembelajaran Dibuat dalam Bhs. Inggris & Bhs. Indonesia d Rencana Pembelajaran sudah ada tapi belum dibuatdalam Bahasa Inggris Kekuatan
e Software Pembelajaran Tersedia software yang memadai dalam jumlah rasional e Software Pembelajaran
Belum proporsional Kelemahan
a. Software Pembelajaran Tersedia dalam bahasa Indonesia dan Bhs. Inggris a. Tersedia dalam jumlah terbatas kelemahan
f Instrumen Evaluasi Tersedia instrument evaluasi dalam bahasa Inggris f Belum tersedia Instrumen Evaluasi berbahasa Inggris Kelemahan
a. Soal-soal Utama Tersedia dalam bahasa Indonesia dan Bhs. Inggris Soal Sudah ada tetapi belum berbahasa Ingris Kekuatan
b. Remedial Tersedia dalam bahasa Indonesia dan Bhs. Inggris Soal Sudah ada tetapi belum berbahasa Ingris Kekuatan
c. Pengayaan Tersedia dalam bahasa Indonesia dan Bhs. Inggris Soal Sudah ada tetapi belum berbahasa Ingris Kekuatan
2. Faktor Eksternal a Fasilitator Menguasai pembelajaran Matematika dalam Bhs. Inggris, berijazah min S2 Matematika/Pendidikan Matematik a Belum tersedia fasilitator mata pelajaran Science dan matik yang yang mampu membimbing tenaga pendidik dan kependidikan untuk mampu menguasai bahasa Inggris.secara berkala. Ancaman
b Ujian Nasional Malaksnakan Ujian NasionalSesuai dengan POS UN b Telah MelaksanaknUjian Nasional Sesuai dengan POS UN Peluang
C. Fungsi Pendukung PBM : Ketenagaan
3 1. Faktor Internal a Kepala Sekolah Berijazah minimal S1, dapat berkomunikasi dlm Bhs. Inggris, , dapat mengoperasikan ICT, dan menguasai MBS a Berijazah S1, Menguasai MBS, dapat mengoperasikan ICT, komunikasi dalam bahasa Inggris masih terbatas Kekuatan
b Guru Berijazah S1, dapat berkomunikasi dlm Bhs. Inggris, TOEFL > 500, menguasai mata pelajaran yang diampu dan dapat menggunakan ICT dalam proses pembelajaran b 50% guru dapat menggunakan ICT dalam mengajar, 25% dapat berkomunikasi dalam bahasa Inggris; belum melaksanakan TOEFL Kekuatan
c Laboran Tersedia laboran yang memiliki kompetensi untuk melakukan tugasnya dan dapat berkomunikasi dlm Bhs. Inggris (TOEFL > 400) c Belum tersedia laboran Fisika Kelemahan
d Teknisi Tersedia teknisi Lab. Komputer yang memiliki kompetensi untuk melakukan tugasnya dan dapat berkomunikasi dlm Bhs. Inggris (TOEFL > 400) d Belum tersedia teknisi Komputer yang mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris Kelemahan
e Pustakawan Tersedia Pustakawan yang memiliki kompetensi untuk melakukan tugasnya dan dapat berkomunikasi dlm Bhs. Inggris (TOEFL > 400) e Belum Tersedia Pustakawan yang memiliki kompetensi; belum mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris Kelemahan
f Pegawai TU Tersedia tenaga TU yang memiliki kompetensi untuk melakukan tugasnya dan dapat berkomunikasi dlm Bhs. Inggris (TOEFL > 400) f Tersedia tenaga TU yang memiliki kompetensi; tapi belum mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris Kekuatan
g Pengem. Profesi Guru Berkompetensi dalam pembelajaran secara profesional g Kompetensi guru baik Kekuatan
h Forum pengem. komp. guru Tersedia satu hari 'off duty' bagi semua guru untuk mengikuti kegiatan forum pengembangan profesi h Belum tersedia hari "off duty" bagi guru Kekuatan
i IHT Diselengarakan dengan rutin oleh sekolah i Telah dilaksanakan IHT untuk meningkatkan komptenesi guru Kekuatan
2. Faktor Eksternal a Pelatihan Guru mengikuti pelathan yang diselengarakan oleh Departmen pendidikan atau lembaga lain a Hanya sebagian kecil guru memilki kesempatan mengikuti pelatihan Peluang
b Lomba kreataivitas Guru Guru mengikuti lomba kreatifitas guru b Baru 10 % guru yang mengikuti lomba kreativitas Guru Peluang
C.
Fungsi Pendukung PBM : Sarana Prasarana
1. Faktor Internal a Media Pembelajaran a Media Pembelajaran
a. Laptop, LCD/TV, OHP Tersedia Laptop, LCD/TV, OHP minimal masing-masing 1 unit per kelas a. Tersedia Laptop, LCD, TV; untuk kelas X dan Lab Komputer Kekuatan
b Peralatan Lab Bahasa Tersedia standard diknas b Belum Memilki Lab Bahasa Kelemahan
c Lab dan Perpus Tersedia standard diknas*) c Laboratorium dan Perpustakaan sudah tersedia
Lab. Fisika Tersedia minimal 1 laboratorium Fisika lengkap dengan peralatan dan bahan yang diperlukan untuk pembelajaran Peralatan lab Fisika belum lengkap Kelemahan
Lab Kimia Tersedia minimal 1 laboratorium Kimia lengkap dengan peralatan dan bahan yang diperlukan untuk pembelajaran Tersedia lab Kimia lengkap dengan peralatan yang diperlukan Kekuatan
Lab Biologi Tersedia minimal 1 laboratorium Fisika lengkap dengan peralatan dan bahan yang diperlukan untuk pembelajaran Tersedia lab Biologi lengkap dengan peralatan yang diperlukan Kekuatan
Lab Bahasa Tersedia minimal 1 laboratorium Bahasa lengkap dengan peralatan yang diperlukan untuk pembelajaran Belum Tersedia lab Bahasa lengkap dengan peralatan yang diperlukan Kelemahan
Lab Komputer Tersedia minimal 1 laboratorium Komputer lengkap dengan peralatan yang diperlukan untuk pembelajaran Tersedia lab komputer lengkap dengan peralatan yang diperlukan Kekuatan
Lab. Multimedia Tersedia minimal 1 laboratorium Multimedia lengkap dengan peralatan yang diperlukan untuk pembelajaran Belum Tersedia lab Multimedia, Kelemahan
Perpustakaan Tersedia minimal 1 perpustakaan lengkap dengan buku dan bahan pustaka berbahasa inggris serta dilengkapi peralatan yang diperlukan untuk pembelajaran dan berbasis digital (Elecctric Librally) Perpustakaan sudah ada tetapi belum lengkap, dab belum berbasis TIK (Electric Libarally) Kelemahan
d Ruang d Ruang
a. Ruang kelas Tersedia sesuai dengan jumlah rombongan belajar a. Sudah tersedia ruang kelas sesuai jumlah rombongan belajar Kekuatan
b. Ruang Kepala Sekolah Tersedia dan berfungsi b. Sudah tersedia ruang Kepala Sekolah dan berfungsi Kekuatan
c. Ruang Guru Tersedia dan berfungsi c. Sudah tersedia ruang guru dan berfungsi Kekuatan
d. Ruang TU Tersedia dan berfungsi d. Sudah tersedia ruang TU dan berfungsi Kekuatan
e. Ruang Serbaguna Tersedia dan berfungsi e. Sudah tersedia ruang serbaguna dan berfungsi Kekuatan
f. Ruang UKS Tersedia dan berfungsi f. Sudah tersedia ruang UKS dan berfungsi Kekuatan
g. Ruang MGMP/TRRC Tersedia sesuai dg jumlah rombel g. Belum tersedia ruang MGMP mandiri Kelemahan
h. KM/WC Tersedia dan berfungsi h. Tersedia Kamar Mandi dan WC dan berfungsi Kekuatan
i. Gudang Tersedia dan berfungsi i. Tersedia gudang dan berfungsi Kekuatan
j. Ruang Koperasi Tersedia dan berfungsi j. Tersedia ruang koperasi dan berfungsi Kekuatan
k. Ruang ibadah Tersedia dan berfungsi k. Tersedia ruang ibadah dan berfungsi Kekuatan
l. Ruang BK Tersedia dan berfungsi l. Tersedia ruang BK dan berfungsi Kekuatan
m. Ruang OSIS Tersedia dan berfungsi m. Tersedia ruang OSIS dan berfungsi Kekuatan
n. Kantin Tersedia dan berfungsi n. Tersedia kantin yang cukup memadai Kekuatan
o. Ruang Multi Media Tersedia ruang multi media yang memadai minimal 2 unit dan berfungsi dengan baik Tersedia baru 1 unit dan peralatannya belum lengkap kelemahan
e Website Tersedia, berfungsi dan terupdate secara teratur e Tersedia; terupdate secara teratur Kekuatan
f TIK Tersedia berfungsi dan terawat e Belum lengkap dan terawat kelemahan
D Fungsi Pendukung PBM : Kesiswaan
1. Faktor Internal 1 Sistem Seleksi Kriteria jelas, tegas dan terbuka 1 Sudah memiliki kriteria sistem seleksi yang tegas dan jelas Kekuatan
2 Pemb. & Pengemb. Intrakur Terprogram, didukung dana, dan sarana prasarana dari sekolah Pembinaan dan pengembangan Intrakurikuler terprogram Kekuatan
a. MIPA Siswa menguasai materi pelajaran sesuai dengan SI dan SKL 30 % siswa menguasai materi pembelajaran MIPA Kekuatan
b. Bhs. Inggris Siswa menguasai materi pelajaran sesuai dengan SI dan SKL dan mampu berkomunikasi dalam bhs. Inggris. Skor TOEFL > 500 2 30 % siswa mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris Kekuatan
c. ICT Siswa menguasai ICT 80% siswa menguasai ICT Kekuatan
3 Pemb.& Pengemb. Kokur Terprogram untuk seluruh warga sekolah, didukung dana, dan sarana prasarana dari sekolah 1 Pembinaan dan pengembangan Kokurikuler sudah terprogram, dan dukungan dana dari sekolah kurang memadai Kekuatan
1.Pengembangan diri Sekolah memilki program pengembangan diri 2 Sekolah sudah memiliki program pengembangan diri dana memadai Kekuatan
2. English Experience Day Terprogram minimal 2 hari per minggu 3 Belum melaksanakan English experience day Kelemahan
4 Pemb.& Pengemb Ekstraku Terprogram dan siswa aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minatnya Pembinaan danpengembangan ekstra kurikuler terprogram dan dukungan dana dari sekolah kurang memadai Kekuatan
a. KIR Terprogram dan siswa aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minatnya a. KIR sudah terprogram dan dilaksanakan Kekuatan
b. Pramuka Terprogram dan siswa aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minatnya b. Pramuka sudah terprogram dan dilaksanakan Kekuatan
c. Kesenian tradisional Terprogram dan siswa aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minatnya c. Kesenian tradisional sudah terprogram dan dilaksanakan Kekuatan
d. Olah raga Terprogram dan siswa aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minatnya d. Olah raga sudah terprogram dan dilaksanakan Kekuatan
e. Seni Musik Terprogram dan siswa aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minatnya e. Terprogram dan dilaksanakan Kekuatan
f. Seni lukis Terprogram dan siswa aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minatnya f. Belum terprogram Kelemahan
g. Seni suara Terprogram dan siswa aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minatnya g. Sudah terprogram dan dilaksanakan Kekuatan
h. Fotografi Terprogram dan siswa aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minatnya h. Belum terprogram Kelemahan
i. Komputer Terprogram dan siswa aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minatnya i. Sudah terprogram dan dilaksanakan Kekuatan
j. Debat Bhs. Inggris Terprogram dan siswa aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minatnya j. Sudah terprogram dan dilaksanakan Kekuatan
k. Jurnalistik Terprogram dan siswa aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minatnya k. Sudah terprogram dan dilaksanakan Kekuatan
l. Ikatan Remaja Mesjid Terprogram dan siswa aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minatnya l. Sudah terprogram dan dilaksanakan Kekuatan
m. PASKIBRA Terprogram dan siswa aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minatnya m. Sudah terprogram dan dilaksanakan Kekuatan
n. Palang Merah Remaja Terprogram dan siswa aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minatnya n. Sudah terprogram dan dilaksanakan
2. Faktor Eksternal a Lomba kreativitas siswa Mengikutsertakan siswa dalam berbagai lmba dan meraih peringkat kejuaraan a Mengikuti berbagai lomba kreativitas siswa dan berhasil meraih juara Peluang
b Lomba siswa Beprestasi Mengikutsertakan siswa dalam berbagai lmba dan meraih peringkat kejuaraan b Selalu megikuti lomba dan meraih juara Peluang
c Lomba Cerdas Cermat UN Mengikutsertakan siswa dalam berbagai lomba dan meraih peringkat kejuaraan c Selalu mengikuti dan berhasil meraih juara ! Peluang
d Orang Tua/wali mengadaan pertemuan dengan orang tua siswa minimal dua kali dalam sau tahuan d Mengadakan pertemuan dengan orang tua siswa dua kali dalam 1 ahuan Peluang
e Alumni Bekerja sama dengan alumni dalam melaksanakan berbagai even baik akademi maupun non akademik e Telah melakukan kerja sama dalam melaksanak berbagai epen di sekolah Peluang
f Beasiswa Siswa berprestasi dan kurang mampuh difasilitasi dengan beasiswa f Memberikan bea siswa kepada siswa berprestasi baiak akademik maupn non akademik. Peluang
E Fungsi Pendukung PBM : Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
1. Faktor Internal a Warga SMA Sosialisasi Progaram sekolah ke seluruh warga sekolah a Sudah melaksanakan Sosialisasi program ke seluruh warga sekolah Kekuatan
2. Faktor Eksternal a Sekolah Setara
a. Dalam Negeri Terprogram secara bertahap a Memiliki program kemitraan dengan sekolah dalam negeri Peluang
b. Luar Negeri Terprogram secara bertahap b. Belum memiliki program kemitraan dengan sekolah luar negeri Ancaman
b Universitas
a. Dalam Negeri Terprogram secara bertahap b a. Sudah memiliki program kemitraan dengan Universitas dalam negeri Peluang
b. Luar Negeri Terprogram secara bertahap b. Belum memiliki program kemitraan dg Universitas luar negeri Ancaman
c Institusi lainnya c Instansi lain
a. Dalam Negeri Terprogram secara bertahap a. Memiliki program kemitraan dengan Instansi dalam negeri Peluang
b. Luar Negeri Terprogram secara bertahap b. Belum memiliki program kemitraan dengan instansi luar negeri Ancaman
d SMP, MTs, N/S sekitar Sosialisasi ke seluruh sekolah untuk promosi program d Sosialisasi program belum menyeluruh Ancaman
e Komite sekolah Sosialisasi ke Orang tua siswa untuk mendapatkan dukungan finansial e Sosialisasi program ke orang tua untuk mendapatkan dukungan finansial belum memadai Peluang
f Pemkab/kota Sosialisasi ke Pemkab/kota untuk mendapatkan dukungan finansial f Sudah melaksanakan Sosialisasi program dengan Pemkab Peluang
g Pemprov Sosialisasi ke Pemprov untuk mendapatkan dukungan finansial g Sudah melaksanakan sosialisasi program dengan Pemprov Peluang
h Lainnya Sosialisasi ke instansi lainnya untuk mendapatkan dukungan finansial h Bekerja sama dengan koperasi dan telkom untuk mendapatkan dukungan dana
F Fungsi Pengelolaan Pendidikandan Administrasi
1. Faktor Internal a Jumlah Tersedia anggaran dalam jumlah yang cukup untuk membiayai program program sekolah a Tersedia jumlah anggaran yang cukup untuk membiayai program sekolah Kekuatan
b Sumber Sumber dana jelas dari berbagai institusi b Sumber anggaran jelas
c Data c Data
a. Akademik Tersedia, mudah diakses Data akademik tersedia, dalam komputer dan print out. Kekuatan
b. Kesiswaan Tersedia, mudah diakses Data kesiswaan tersedia, dalam komputer dan print out. Kekuatan
c. Keuangan Tersedia, mudah diakses Data keungan tersedia, dalam komputer dan print out. Kekuatan
d. sarana prasarana Tersedia, mudah diakses Data sarana prasarana tersedia, dalam komputer dan print out. Kekuatan
e. Alumni Tersedia, mudah diakses Data alumni tersedia, dalam komputer dan print out. Kelemahan
f. Personalia / SDM Tersedia, mudah diakses Data personalia belum terakses di internet Kekuatan
d Struktur organisasi Tersedia, terpasang di ruang guru, KS dan dokumen sekolah d Sudah tersedia struktur Organisasi sekolah Kekuatan
e Uraian Jabatan Tersedia, terinci dan diketahui oleh masing masing guru/pegawai e Sudah tersedia dan diketahui oleh guru dan pegawai Kekuatan
f ICT Memanfaatkan ICT dalam administrasi dan proses pembelajaran f Belum semua guru menggunakan ICT dalam pembelajaran Kekuatan
2. Faktor Eksternal a Standar ISO Sekolah memiliki sertifikasi ISO a Sekolah belum memiliki sertifikasi ISO Ancaman
G Fungsi Pengembangan Iklim Sekolah G
a Kebersihan: f Kebersihan
a. WC Bersih, tidak bau, ada air mengalir a. WC cukup bersih Kekuatan
b. Ruang Kelas Lantai, dinding maupun plafon bersih, ada tempat sampah. b. Ruang Kelas cukup bersih Kekuatan
c. Lab/perpus Lantai, dinding maupun plafon bersih, ada tempat sampah. c. Lab/ perpustakaan bersih, ada tempat sampah Kekuatan
d. Tempat Ibadah Lantai, dinding, plafon dan tempat bersuci bersih. d. Tempat ibadah bersih , ada tempat bersuci Kekuatan
e. Kantin Lantai, dinding maupun plafon bersih, ada tempat sampah, sampah tidak berserakan, air cukup dan mengalir. e. Kantin cukup bersih, ada tempat sampah Kekuatan
f. Halaman Bersih, sampah tidak berserakan dan tersedia tempat sampah yang cukup f. Halaman bersih , tersedia tempat sampah yng cukup Kekuatan
b Kerapihan : g Kerapihan : Kekuatan
1. Ruang Kelas Ada hiasan dinding yang tertata serasi a. Ruang kelas rapih,ada hiasan dinding Kekuatan
2. Lab/perpus Buku dan papan peringatan tertata di tempatnya b. Lab/ perpustakaan tertata rapih Kekuatan
3. Tmp Ibadah Perlengkapan ibadah dan hiasan tertata ditempatnya c. Tempat ibadah rapih Kekuatan
4. Kantin Perlangkapan makan/minum, meja, kursi dan hidangan tertata di tempatnya d. Penataan kantin kurang Ancaman
5. Ruang Kantor/TU Peralatan kerja, meja, kursi, hiasan tertata di tempatnya e. Ruang kantor/ TU tertata rapih Kekuatan
6. Ruang Guru Peralatan kerja, meja, kursi, hiasan tertata di tempatnya f. Ruang guru cukup rapih Kekuatan
7. Pakaian Warga Sekolah Logo dan atribut seragam terpasang, alas kaki sepatu berkaos kaki, rambut disisir rapih. g. Pakaian Warga sekolah baik, dan rapih Kekuatan
c Keamanan Bebas dari pencurian, pengrusaan dan gangguan lainnya h Keamanan Kekuatan
1. Ruang kantor/TU Bebas dari pencurian, pengrusaan dan gangguan lainnya a. Ruang kantor/TU sangat baik Kekuatan
2. Lab/perpustakaan Bebas dari pencurian, pengrusaan dan gangguan lainnya b. Lab/ Perpustakaan sangat baik Kekuatan
3. Ruang Ibadah Bebas dari pencurian, pengrusaan dan gangguan lainnya c. ruang ibadah sangat baik Kekuatan
4. Ruang Kelas Bebas dari pencurian, pengrusaan dan gangguan lainnya d. Ruang kelas sangat baik Kekuatan
5. Halaman/ruang terbuka Bebas dari pencurian, pengrusaan dan gangguan lainnya e. Halaman terbuka, sangat baik Kekuatan
d Keindahan i Keindahan Kekuatan
1. Gedung Warna cat serasi dan tidak pudar a. Gedung , baik Kekuatan
2. Taman Jenis tanaman bervariasi dan warna-warni b. Taman, baik Kekuatan
3. Ruang Ada hiasan serasi dengan ruangan c. Ruang , baik Kekuatan
e Kerindangan j Kerindangan Kekuatan
1. Pohon Pelindung tersedia, jumlah memadai a. Pohon pelindung kurang Kekuatan
2. Tempat duduk tersedia, memadai, nyaman b. Tempat duduk, tersedia cukup nyaman Kekuatan
f Bebas Asap rokok k Bebas asap rokok Kekuatan
a. Papan peringatan Tersedia, memadai, terpasang di beberapa tempat a. Tersedia papan peringatan Kekuatan
b. Penegakan sanksi Tersedia lembar perjanjian b. Tersedia lembar perjanjian untuk penegakkan sanksi Kekuatan
g Bebas Narkoba l Bebas narkoba Kekuatan
1. Papan peringatan Tersedia, memadai, terpasang di beberapa tempat a. Tersedia papan peringstan Kekuatan
2. Penegakan sanksi Tersedia lembar perjanjian b. Tersedia lembar perjanjian untuk penegakkan sanksi Kekuatan
h Disiplin m Disiplin Kekuatan
1. Waktu belajar Tepat waktu a. Waktu belajar tepat waktu Kekuatan
2. Tata tertib sekolah Tersedia dan terpasang di tiap ruang kelas b. Tata tertib tersedia terpasang di tiap ruang kelas Kekuatan
i Budaya Baca n Budaya Baca Kekuatan
1. Buku Siswa terbiasa membaca buku di lingkungan sekolah a. Budaya baca masih kurang Kelemahan
2. Forum diskusi bedah buku Ada forum diskusi bedah buku yang terjadwal b. Belum memiliki forum diskusi bedah buku yang terjadwal Kekuatan
2. Faktor Eksternal a Penlaian Adipura Melaksanakan dan memelihara kebersihan secara berkala Telah melaksanakan dan memelihara kebersiahan
5. Penentuan Strategi-strategi( langkah-langkah Strategic)
Setelah melakukan Analisis SWOT perlu dilakukan penentuan Strategi-strategi dengan mempertimbangkan factor-faktor internal dan factor-faktor external hasil analisa SWOT.
Gunakan Matrik Faktor Internal dan Faktor External dalam merumuskan Langkah-langkah Strategik
a. Merumuskan Strategi-strategi untuk mencapai tujuan/sasaran program
Dari table Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman diatas kita dapat membuat strategi-strategi untuk setiap fungsi yang ada sbb:
Faktor Internal
Faktor External Kekuatan-kekuatan
(Strengths) Kelemahan-kelemahan
(Weakneses)
Peluang
(Opportunities) S-O
Memanfaatkan kekuatan –kekuatan yang dimiliki untuk meraih peluang W-O
• Tekan Kelemahan untuk dapat meraih Peluang
• Raih Peluang untuk menekan Kelemahan
Ancaman
(Threaths) S-T
Galang Kekuatan untuk menghadang ancaman W-T
Tekan Kelemahan dan Hindari Ancaman
b. Contoh Perumusan strategi-strategi dengan menggunakan Matrik factor
Internal dan external.
Perumusan Strategi-strategi dengan menggunakan Matrik Faktor Internal dan External yang sudah diperoleh sebelumnya di SMAN1 CIAMIS
Untuk Fungsi Sumberdaya Manusia.
INTERNAL FACTORS
EKSTERNAL FACTORS STRENGTH
1. Sekitar 60% tenaga guru sudah mahir dalam menerapkan & memanfaatkan IT untuk berbagai keperluan WEAKNESSES
2. Kondisi mental siswa usia belasan relatif rentan terhadap pengaruh. PROGRAM /KEGIATAN
OPPORTUNITIES
1 Tersedianya begitu banyak sumber informasi, pengetahuan teknology, seni, budaya, politik, dll melalui internet
STRATEGI S-O(1-1)
1. Mengoptimalkan kualitas proses pembelajaran dengan memanfaatkan IT.
STRATEGI W-O(1-1)
2. Meningkatkan kemampuan IT guru dan tenaga kependidikan agar dapat mengakses dan memanfaatkan internet sebagai sumber belajar dalam berbagai kesempatan serta mampu melaksanakan pembelajaran berbasis internet.
a) Melaksanakan proses pembelajaran berbasis IT bagi guru-guru yang sudah menguasai IT.
b) Melaksanakan pembelajaran dengan memanfaatkan internet sebagai sumber belajar baik di dalam maupun di luar kelas.
c) Mengikutsertakan guru-guru dalam berbagai kegiatan pengembangan profesi baik sebagai narasumber, kepanitiaan.
2. Adanya program
Penyelenggaraan program peningkatan dan pengembangan kompetensi dan profesionalisme guru seperti seminar, lokakarya, pelatihan, dll baik tingkat kecamatan, kabupaten, prov, nasional, atau inter- nasional oleh berbagai instansi seperti Disdikkab/Disdikprof/diknas/LPMP/ Dll. STRATEGI S-O(1-2.)
3. Mengembangkan professionalisme guru melalui partisipasinya dalam kegiatan pelatihan (IT) sebagai pelatih atau narasumber dalam berbagai level kegiatan STRATGI W-O(1-2)
4. Meningkatkan kemampuan IT guru dan tenaga kependidikan yang lainnya dengan memberikan kesempatan untuk mengikuti program peningkatan dan pengembangan kompetensi dan profesionalisme guru seperti seminar, lokakarya, pelatihan, dll baik tingkat kecamatan, kabupaten, prov, nasional, atau inter- nasional oleh berbagai instansi seperti Disdikkab/Disdikprof/diknas dll.
d) Mengikutsetakan guru-guru pada pelatihandan seminar IT baik di tingkat kabupaten, Profinsi maupun nasional.
e) Melaksanakan program Pelatihan IT bagi para guru dan tenaga kependidikan yang membutuhkannya
THREATS
1. Berkembanynya Teknologi
memungkinkan masuknya budaya luar dan dikhawatirkan dapat berdampak terhadap terjadinya degradasi moral. STRATEGI S-T(1-1)
6. Meningkatkan system control dan penyaringan terhadap situs-situs yang riskan.
STRATEGI W-T(1-1)
7. Meningkatkan pemahaman warga sekolah terhadap baik buruknya internet dan bagaimana seharusnya kita mengendalikan teknologi. f) Melakukan pemblokiran terhadap situs-situs tertentu.
g) Melaksanakan sosialisasi terhadap warga sekolah tentang manfaat dan bahaya dari teknologi dan internet.
Langkah-langkah Strategik inilah yang kemudian dijabarkan kedalam program-program secara lebih rinci.
6. Merumuskan/ menyusun Program-program Strategic
Tugas perumusan dan penyusunan program ini diberikan kepada orang-orang yang bertanggungjawab dalam pelaksanaan program tersebut. Program dibuat sesuai strategi-strategi yang sudah ditentukan bersama. Program merupakan pedoman kerja yang akan selalu dijadikan acuan oleh semua orang yang terlibat.
Contoh Penjabaran Strategi ke program
Strategi Program
STRATEGI S-O(1-1)
Mengoptimalkan kualitas proses pembelajaran dengan memanfaatkan IT.
STRATEGI S-O(1-2.)
5. Mengembangkan professionalisme guru melalui partisipasinya dalam kegiatan pelatihan (IT) sebagai pelatih atau narasumber dalam berbagai level kegiatan. a. Melaksanakan proses pembelajaran berbasis IT bagi guru-guru yang sudah menguasai IT.
b. Melaksanakan pembelajaran dengan memanfaatkan internet sebagai sumber belajar baik di dalam maupun di luar kelas.
c. Mengikutsertakan guru-guru dalam berbagai kegiatan pengembangan profesi baik sebagai narasumber, kepanitiaan.
d. Mengikutsetakan guru-guru pada pelatihandan seminar IT baik di tingkat kabupaten, Profinsi maupun nasional.
e. Melaksanakan program Pelatihan IT bagi para guru dan tenaga kependidikan yang membutuhkannya
STRATEGI S-T(1-1)
6. Meningkatkan system control dan penyaringan terhadap situs-situs yang riskan.
f. Melakukan pemblokiran terhadap situs-situs tertentu.
g. Melaksanakan sosialisasi terhadap warga sekolah tentang manfaat dan bahaya dari teknologi dan internet.
STRATEGI W-O(1-1)
7. Meningkatkan kemampuan IT guru dan tenaga kependidikan agar dapat mengakses dan memanfaatkan internet sebagai sumber belajar dalam berbagai kesempatan serta mampu melaksanakan pembelajaran berbasis internet. h. Melaksanakan program pelatihan IT secara berkala bagi guru-guru yang memerlukannya.
i. Melaksanakan lomba karya IT bagi warga sekolah.
STRATGI W-O(1-2)
8. Meningkatkan kemampuan IT guru dan tenaga kependidikan yang lainnya dengan memberikan kesempatan untuk mengikuti program peningkatan dan pengembangan kompetensi dan profesionalisme guru seperti. j. Melibatkan para guru dan tenaga kependidikan secara merata berkeadilan kedalam acara seminar, lokakarya, pelatihan, dll baik tingkat kecamatan, kabupaten, prov, nasional, atau inter- nasional oleh berbagai instansi seperti Disdikkab/Disdikprof/diknas dll.
STRATEGI W-T(1-1)
7. Meningkatkan pemahaman warga sekolah terhadap baik buruknya internet dan bagaimana seharusnya kita mengendalikan teknologi. Dan menjauhi pengaruh buruk teknologi. k. Membuat dan Melaksanakan Pembinaan terhadap siswa akan pentingnya filter diri terhadap pengaruh buruk teknologi(terutama internet(melalui berbagai media)
l. Melaksanakan program pembloiran situs-situs internet yang sangat rawan terhadap kontribusi pengaruh buruk
6. Implementasi Program Inovasi
Pada tahapan ini seluruh warga sekolah sudah memiliki peran, tugas, fungsi, tanggung jawab, serta wewenang masing-masing. Semua warga bekerja secara kompak dan bersinergi. Peran manajemen disini bergantung pada peran, tugas, fungsi, tanggung jawab, serta wewenang masing-masing pula.
Namun demikian top leader memegang tangungjawab penuh terhadap sukses tidaknya pelaksanaan program dan sama halnya tercapai-tidaknya tujuan dan target program inovasi yang sudah dirancang.
7. Monitoring Dan Evaluasi
a. Monitoring Program Inovasi
Monitoring merujuk kepada pengertian usaha memberikan tindakan monitor terhadap sesuatu. Monitoring inovasi adalah kegiatan yang bertujuan melihat perkembangan pelaksanaan penyelenggaraan program inovasi, apakah sesuai dengan yang direncanakan atau tidak, sejauh mana kendala dan hambatan ditemukan, dan bagaimana upaya-upaya yang sudah dan harus ditempuh untuk mengatasi kendala dan hambatan yang muncul selama pelaksanaan program. Monitoring lebih berpusat kepada pengontrolan selama program berjalan dan lebih bersifat klinis (Rohiat, 2008 : 115).
Melalui monitoring, dapat diperoleh umpan balik bagi sekolah atau pihak lain yang terkait untuk menyukseskan ketercapaian tujuan. Oleh karena itu, pihak-pihak yang berwnang dalam melaksanakan monitoring harus melakukan monitoring sesuai dengan kapasitas dan tanggung jawabnya masing-masing.
Kegiatan monitoring berhubungan dengan salah fungsi manajemen, yaitu controlling atau pengawasan. George R. Terry menerangkan, bahwa controlling adalah proses penentuan apa yang harus diselesaikan berkenaan dengan pelaksanaan, Evaluasi program pelaksanaan, bila perlu dilakukabn tindakan korektif agar pelaksanaan tetap sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan (standar). Di bagian lain, H, Koontz dan O’Donnell, controlling adalah tindakan Evaluasi program/perbaikan terhadap bawahan untuk menjamin agar pelaksanaannya sesuai dengan rencana.
Controlling merupakan kegiatan mengawasi yang terdiri atas:
1) Menetapkan standar pelaksanaan, artinya pelaksanaan inovasi harus terlebih dahulu
melakukan standadisasi, sehingga ada sesuatu yang menjadi kejaran target. Pelaksanaan inovasi bukan hanya sekedar kegiatan tanpa arah, tanpa tujuan, tanpa kepastian target. Kegiatan inovasi adalah sesuatu yang bertujuan untuk mencapai makna dan kemudian makna itu berguna bagi kepentingan pendidikan secara keseluruhan. Utamanya adalah untuk mencaai kualitas pendidikan yang selama ini didambakan.
2) Pengukuran pelaksanaan pekerjaan dibandingkan dengan standar. Standar pada tahapan kerja selanjutnya akan menjadi sebuah tolok ukur. Ketercapaian standar, berarti indikasi positif terhadap tercapainya keberhasilan. Namun jika terjadi kesenjangan, ketercapaian hanya akan menjadi sebuah mimpi. Maka, para pelaksana inovasi akan berusaha mencapai kedekatan standar seoptimal mungkin. Sehingga, kalaupun tidak tercapai seluruhnya, ukuran ketidaktercapaiannya hanya dalam prosentase yang kecil, tidak terlalu signifikan.
3) Menentukan kesenjangan antara pelaksanaan dengan standar dan rencana.
Kesenjangan artinya bentangan jarak antara hasil dan standar. Tindak lanjut akan dapat ditentukan ketika kesenjangan tampak jelas ukurannya.
Proses pengawasan akan menghasilkan informasi yang penting untuk kegiatan inovasi. Informasi tersebut menyangkut beberapa temuan selama pengawasan yang kemudian dijadikan umpan balik bagi kegiatan inovasi. Pengawasan pada prinsipnya merupakan pengendalian, Evaluasi program, dan koreksi agar inovasi terarah kepada tercapainya tujuan yang ingin dicapai. Dalam hubungan dengan kegiatan inovasi, monitoring dilaksanakan untuk mengawasi dan mengecek kegiatan inovasi. Dari tindakan ini akan diketahui berbagai hal yang menyangkut pelaksanaan inovasi, kelebihan, kekurangan, kekuatan, dan kelemahannya. Jika terdapat kekeliruan, artinya suatu inovasi tidak sesuai dengan yang diharapkan, maka pihak yang melakukan monitoring melakukan tindakan-tindakan yang sekiranya dapat merubah atau setidaknya membuat program menjadi sesuai dengan apa yang diharapkan. Tindakan-tindakan itu antara lain :
• Memperbaiki (peralatan atau sarana yang rusak, tidak memadai, atau bahkan tidak menunjang program). Misalnya, dalam pembelajaran berbasis ICT, peralatan internet rusak. Ini akan menjadi hambatan tidak tercapainya program. Perbaikan harus segera dilakukan agar program bisa dilanjutkan. Bila mungkin, mengganti program dengan program yang baru, dengan susunan dan perencanaan yang lebih baik dari sebelumnya.
• Mengubah perilaku (para pelaku inovasi atau pun para penerima inovasi). Kembali mereka diarahkan kepada kesadaran, bahwa mereka sedang melaksanakan inovasi. Re-komitmen dalam hal ini harus dibangun, agar semua anggota memiliki tanggung jawab yang sama demi keberhasilan program.c) Melakukan re-organisasi organisasi atau institusi. Ini penting mengingat keberhasilan program inovasi berkaitan dengan keberadaan organisasi. Di sekolah, organisasi dimaksud adalah susunan organisasi kepengurusan sekolah, sejak dari Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Komite sekolah, Urusan Tata Usaha, Para pembantu Kepala Sekolah yang mengurusi masing-masing bidang, guru-guru, dan siswa. Restruturisasi memungkinkan terjadinya pemikiran-pemikiran baru yang dapat menunjang terlaksananya program.
b. Evaluasi Program Inovasi
Keterangan tentang monitoring atau pengawasan di atas pada hakikatnya berhubungan dengan masalah evaluasi. Sebagaimana diketahui, bahwa evaluasi adalah suatu proses mendapatkan berbagai informasi secara berkesinambungan dan menyeluruh, tentang proses dan hasil yang telah dicapai melalui kegiatan sesuai standar yang ditetapkan sehingga dapat dijadikan dasar untuk menentukan perlakuan selanjutnya.
Setiap individu atau human being pasti memiliki tujuan hidup. Apa pun tujuannya itu. Apakah tujuan sementara, tujuan perantara, tujuan akhir, dan tujuan-tujuan lain yang dapat didefinisikan. Untuk mencapai tujuan itu perlu dilakukan suatu usaha atau tindakan. Orang selalu ingin mengetahui sejauh mana usaha yang telah dilakukan itu dapat mencapai tujuan yang ditetapkan sebelumnya.
Kegiatan evaluasi pada dasarnya adalah untuk mengetahui sejauh mana kesuksesan pelaksanaan penyelenggaraan program inovasi dan sejauh mana keberhasilan yang sudah dicapai.
Inovasi pendidikan merupakan salah satu usaha manusia untuk mencapai perubahan dan pembaharuan sebagaimana di atas telah dibahas. Inovasi pendidikan memiliki makna hakiki tentang bagaimana individu atau sekelompok ndividu melakukan perubahan terhadap sesuatu yang selama ini menjadi pekerjaan atau bidang kegiatannya. Rutinitas yang biasa dilakukan akan sampai pada puncak stagnasi dan kecenderungan untuk bosan.
Menghilangkan kejenuhan dan stagnansi semacam ini harus dilalui dengan upaya mengalami sesuatu yang baru. Dan inovasi pendidikan adalah salah satu jawabannya.
Sebagai suatu usaha yang mempunyai tujuan, sudah sewajarnya baik secara implisit maupun eksplisit, inovasi pendidikan mengandung masalah Evaluasi program. Hal ini dilakukan sebab setiap saat orang perlu mengetahui dengan alasan bermacam-macam sampai sejauh mana standar yang ditetapkan itu sudah terwujud atau terlaksana dalam usaha-usaha yang dijalankan (Suryabarata, 1984 : 317).
Bagi para pelaksana inovasi, Evaluasi adalah masalah yang selalu implisit dalam pelaksanaan inovasinya, sehingga oleh karena itu Evaluasi menjadi bagian penting dalam kelengkapan program inovasi pendidikan. Evaluasi menjadi bagian integral dalam usaha inovasi pendidikan. Pemahaman ini harus dikuasai para pelaksana inovasi sehingga inovasi sendiri mampu meposisikan diri sebagaimana mestinya.
Evaluasi Program Inovasi adalah proses evaluasi yang dilakukan terhadap kegiatan inovasi. Ketika Evaluasi dilakukan dengan benar, para pelaksana, penerima, dan bahkan organisasi memperoleh manfaat dengan memastikan bahwa usaha-usaha inovasi berperan dalam mengarahkan strategi organisasi. Dalam praktiknya, evaluasi program inovasi dipengaruhi oleh aktivitas lain dalam organisasi, dan pada gilirannya mempengaruhi keberhasilan organisasi secara keseluruhan.
i. Tujuan Evaluasi Program Inovasi adalah :
• Memberikan umpan balik kepada pelaksana program dalam rangka memperbaiki kinerja inovasi yang lebih tpat sesuai dengan tingkat kemampuan dan potensi yang dimiliki.
• Memberikan informasi kepada masyarakat tentang keberhasilan program, dengan tujuan untuk memperbaiki atau mengembangkan program inovasu lanjutan.
• Menentukan tingkat keberhasilan yang dibutuhkan untuk rancangan laporan kepada pihak yang berwenang, seperti Dinas Pendidikan, Kepala Sekolah, dan bahkan masyarakat.
ii. Manfaat Evaluasi Program Inovasi juga berguna untuk :
• mendukung objektivitas pengamatan yang dilakukan petugas evaluasi dan monitoring.
• menimbulkan perilaku di bawah kondisi yang relatif terkontrol.
• mengukur sampel kemampuan individu,
• memperoleh kemampuan-kemampuan mengukur hasil yang sesuai dengan tujuan dan standar yang ditetapkan,
• mengungkapkan kondisi yang tidak kasat mata, atau hal-hal yang tidak terduga,
• mendeteksi karakteristik dan komponen-komponen perilaku,
• meramalkan kegiatan yang akan datang,
• menyediakan data sebagai umpan balik dan membuat keputusan.
iii. Fungsi Evaluasi pada Program Inovasi adalah:
Memberikan gambaran atau potret keberhasilan inovasi dalam semua aspek. Potret ini merupakan potret diri, potret program, potret prosedur bagi pelaksana dan penerima program. Potret ini dapat berbentuk laporan kegiatan inovasi.
• Menumbuhkan ketelian pelaksanaan program, sehingga program lanjutan dapat dilaksanakan dengan tingkat ketelitian yang lebih dari sebelumnya.
• Menempatkan program inovasi dalam situasi yang tepat. Artinya terdapat kesesuaian dalam berbagai aspek, baik aspek eksternal maupun internal.
iv. Prinsip-prinsip Monitoring dan Evaluasi Program
Beranalog kepada prinsip-prinsip evaluasi secara umum maka prinsip monitoring dan evaluasi program inovasi adalah:
• Prinsip menyeluruh
Monitoring dan evaluasi mencakup berbagai aspek, yaitu:
Relativitas keuntungan program, atau keuntungan relatif program terhadap upaya-upaya pengembangan pendidikan. Sejauh mana inovasi dianggap menguntungkan bagi penerimanya. Tingkat keuntungan atau manfaat suatu inovasi dapat diukur berdasarkan nilai ekonominya, atau mungkin dari faktor status sosial, kesenangan, kepuasan, atau karena mempunyai komponen yang sangat penting. Makin menguntungkan bagi penerima makin cepat tersebarnya inovasi. Oleh karena itu, monitoring harus sampai pada bagaimana mengawasi tingkat keuntungan program dengan cara membandingkannya secara ekonomi.
a. Konsistensi program, atau keajegan program terhadap tujuan yang hendak dicapai. Ini berkaitan dengan kemapanan program, komitmen, termasuk kesepakatan menjalankan program inovasi sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
b. Kemudahan, artinya kemudahan dalam try-out, kemudahan penggunaan, kemudahan dalam pengujian, dan sebagainya. Ini artinya program dapat dengan mudah diakses, mudah dcioba, dan mudah ditindaklanjuti. Inovasi yang tdak mudah dicoba, akan menyebabkan tidak diterimanya program tersebut oleh penerima inovasi.
c. Observatibiltas, atau kemudahan untuk diobservasi. Program bukan sesuatu yang tertutup, namun sesuatu yang bersifat terbuka. Suatu inovasi yang hasilnya mudah diamati akan makin cepat diterima oleh masyarakat, dan sebaliknya yang sukar diamati, akan lama diterima oleh masyarakat.
d. Kompleksitas, mencakup keseluruhan program, apakah ada keterlibatan usaha untuk pelatihan, kertas kerja, dan sebagainya. Kompleksitas ialah tingkat kesukaran untuk memahami dan menggunakan inovasi bagi penerima. Suatu inovasi yang tidak mudah dimengerti dan tidak mudah dipahami oleh penerima.
• Prinsip Kontinuitas
Prinsip kontinuitas mengandung makna adanya upaya untuk terus-menerus mengikuti pertumbuhan, perkembangan, dan perubahan situasi dan kondisi dan segala hal yang menyangkut upaya inovasi. Dalam mengikuti perlembangan-perkembangan itu, monitoring dan evaluasi tetap ditujukan untuk keberhasilan program itu.
• Prinsip Obyektivitas
Prinsip obyektif mengandung makna keikhlasan dan kearifan ketka melakukan monitoring dan evaluasi, mengedepankan kepentingan ilmiah dari pada kepentingan perasaan. Ini penting untuk menjaga kualitas hasil evaluasi yang obyektif.
v. Objek Monitoring dan Evaluasi Program
Objek monitoring dan evaluasi program inovasi pendidikan adalah menyangkut semua aspek proses inovasi yang meliputi:
Proses permulaan, memonitor bagaimana kegiatan pengumpulan informasi dilakukan, konseptualisasinya, dan perencanaan untuk menerima inovasi.
Implementasi , Sasaran monitor dan evaluasinya adalah :
- Kejadian
- Kegatan
- Keputusan, dan
- Penggunaan inovasi
Redefinisi, Sasarannya adalah :
Kegiatan modifikasi atau reinvensi sehubungan dengan kegiatan inovasi yang dilaksanakan.
Modifikasi atau restrukturisasi organisasi sehubungan dengan kegiatan inovasi yang dilaksanakan.
Klarifikasi, Sasarannya adalah :
- Hubungan inovasi dengan organisasi
- Tindak lanjut inovasi
Rutinisasi, Pada bagian ini dimonitor dan dievaluasi; apakah inovasi kemudian daat diterima sebagai kostum penggunaan seherĂ-hari. Atau dengan kata lain, apakah inovasi sudah menjadi bagian dari kegiatan seharĂ-hari.
BAB.III
KESIMPULAN
Manajemen adalah “seni kelola organisasi yang di dalamnya meliputi proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya dari anggota organisasi serta penggunaan sumua sumber daya yang ada pada organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya”.
Inovasi pendidikan adalah suatu fikiran, gagasan, praktek atau pendekatan, strategi, produk baru atau yang dianggap sebagai sesuatu yang baru yang mampu memperbaiki keadaan, memecakan masalah-masalah terkait pendidikan, sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan.
Faktor-faktor kegagalan Inovasi diantaranya adalah:
buruknya proses dalam menselaraskan tindakan untuk mencapai tujuan;
buruknya partisipasi anggota tim;
buruknya pengawasan proses dan hasil
buruknya
Langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam merancang dan mengimplementasikan program inovasi diantaranya:
1. Analisis Akar Masalah
2. Menentukan Tujuan Program Inovasi
3. Penetapan dan Penyusunan Konsep Program inovasi
4. Analisis SWOT
5. Penentuan Strategi-strategi( langkah-langkah Strategic)
6. Merumuskan/ menyusun Program-program Strategic
7. Implementasi Program Inovasi
8. Monitoring Dan Evaluasi
Analisis akar masalah adalah suatu metoda pemecahan masalah dengan mengungkap semua factor-faktor penyebab yang mungkin, dan menentukan factor penyebab yang paling dominan dengan tujuan untuk menemukan solusi terbaik untuk permasalahan yang muncul dalam suatu organisasi.
Analisis ini dilaksanakan sebelum perancangan inovasi, sehingga ketika program inovasi dirancang dan dilaksanakan akan menjadi solusi terhadap permasaahan-permasalahan yang muncul sehingga pada akhirnya akan memperludah terwujudnya tujuan dan target yang ditetapkan bersama.
Tujuan Program Inovasi segera dirumuskan setelah akar masalah diketemukan.
Langkah berikutnya dalam merancang inovasi adalah menetapkan program apa yang akan dilaksanakan kemudian menyusun konsep secara garis besar.
Setelah itu dilanjutkan dengan analisa situasi /lingkungan internal dan eksternal dengan alat SWOT Analysis, dengan tujuan untuk mengukur sejauh mana kesiapan organisasi terhadap program inovasi yang akan dilaksanakan. Analisis ini sangat perlu dilaksanakan oleh semua pihak agar informasi tersusun secara lengkap dan menyeluruh. Analisa SWOT merupakan sebuah alat analisis yang cukup baik, efektif, dan efisien serta sebagai alat yang cepat dalam menemukenali kemungkinan-kemungkinan yang berkaitan dengan pengembangan awal program-program inovasi baru di dalam sekolah kejuruan, disamping dapat digunakan sebagai alat pengambilan keputusan dalam organisasi atau komite bahkan individu. Juga sebagai alat bantu untuk memperluas dan mengembangakan visi dan misi suatu organisasi. Analisa SWOT dapat melihat seluruh kemungkinan perubahan masa depan sebuah institusi melalui pendekatan sistematik melalui proses instropeksi dan mawas diri ke dalam, baik bersifat positif maupun negatif. Makna dan pesan yang paling mendalam dari analisa SWOT adalah apapun cara-cara serta tindakan yang diambil, proses pembuatan keputusan harus mengandung dan mempunyai prinsip berikut ini; kembangkan kekuatan, minimalkan kelemahan, t Hasil analisisa SWOT dimanfaatkan untuk menetapkan langkah-langkah strategik yang perlu dilakukan oleh lembaga. angkap kesempatan/peluang, dan hilangkan ancaman.
Hasil analisisa SWOT dimanfaatkan untuk menetapkan langkah-langkah strategik yang perlu dilakukan oleh lembaga. Seorang manajer perlu mengenal factor-faktor kunci keberhasilan dan factor-faktor kunci kegagalan dalam melaksanakan inovasi seperti dijelaskan sebelumnya.
Dengam mengenali factor-faktor tersebut seorang manajer dapat menyusun strategi-strategi (dengan melibatkan seluruh komponen yang terlibat dalam program inovasi) untuk mencapai tujuan inovasi.
Strategi-strategi disusun dengan mengoptimalkan menggalang seluruh kekuatan yang dimiliki, menekan kelemahan-kelemahan-kelemahan yang ada untuk dapat meraih peluang sebanyak-banyaknya, dan menghadang ancaman yang mungkin datang.
Selanjutnya strategi-strategi tersebut dijabarkan kedalam bentuk program yang lebih rinci dan jelas. Penyusunan program dilaksanakan oleh masing-masing bidang. Dengan demikian program akan mudah dibaca, difahami, dan dipergunakan sebagai pedoman dalam melaksanakannya. Setelah selesai program maka tiba saatnya untuk mengimplemenasikan program inovasi. Lakukan Monev internal untuk mengontrol jalannya proses implementasi dan jika ada permasalahan dapat diselesaikan. Dengan monev maka program diharapkan dapat berhasil sesuai tujuan dan target yang sudah ditetapkan bersama.
Selain itu dengan monev kita dapat merancang dan melaksanakan program inovasi berikutnya dengan lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
1. Suherli Kusmana, Prof. Dr., M.Pd, 2010, Manajemen Inovasi Pendidikan, Ciamis, Pascasarjana Unigal Press.
2. Uhar Saputra/uharsputra.wordpress.com/pendidikan/inovasi-pendidikan
3. Euis Rachwati Sakinah, 2009, SMANSACIS-RPS BLUE PRINT, Ciamis
4. Kuat Ismanto, SHI., M. Ag(2009), ANALISA SWOT DALAM INOVASI PENDIDIKAN
5. Euis Rachwati Sakinah, 2007, Analisis Lingkungan Internal dan External SMA Negeri 1 Ciamis, Hand-out, Ciamis
6. Ari Harsono, P.(2008) Analisis Akar Masalah dan Solusi, Jakarta, Makara Sosial Humaniora
7. http://blog.unila.ac.id/redha/2009/05/11/renstra-bandar-lampung/
8. http://www.quickmba.com/strategy/swot/
9. en.wikipedia.org/wiki/Innovation
10. sistem-inovasi.blogspot.com/
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan sektor kunci yang memegang peranan penting dalam pergerakan SDM. Dalam perjalanan perkembangan dunia pendidikan kita selalu berhadapan dengan berbagai kendala, halangan, serta permasalahan-permasalahan pendidikan dalam bentuk dan dimensi yang relative berbeda-beda.
Selama pendidikan masih ada, maka selama itu pula masalah-masalah tentang pendidikan akan selalu muncul, dan orang pun tak akan henti-hentinya untuk terus membicarakan dan memperdebatkan tentang keberadaannya, mulai dari hal-hal yang bersifat fundamental-filsafah sampai dengan hal–hal yang sifatnya teknis-operasional. Sebagian besar pembicaraan tentang pendidikan terutama tertuju pada bagaimana upaya untuk menemukan cara yang terbaik guna mencapai pendidikan yang bermutu dalam rangka menciptakan sumber daya manusia yang handal, baik dalam bidang akademis, sosio-personal, maupun vokasional.
Salah satu masalah pendidikan yang belakangan ini mulai menarik perhatian para pengamat pendidikan maupun para peneliti adalah masalah Inovasi Pendidikan.
Inovasi merupakan suatu fikiran, gagasan, praktek atau pendekatan, strategi, produk baru atau yang dianggap sebagai sesuatu yang baru baik oleh seorang individu, organisasi, atau institusi yang dapat memperbaiki atau memecahkan masalah-masalah yang dihadapi individu, organisasi, atau institusi tersebut”.
Inovasi pendidikan adalah suatu fikiran, gagasan, praktek atau pendekatan, strategi, produk baru atau yang dianggap sebagai sesuatu yang baru yang mampu memperbaiki keadaan, memecakan masalah-masalah terkait pendidikan, sehingga dapat meningkatkan kualitas pendidikan.
Dalam prakteknya implementasi Inovasi Pendidikan tak lepas dari permasalahan-permasalahan yang perlu dicermati.
Sebagai stake holder pendidikan kita dituntut untuk senantiasa melakukan inovasi-inovasi seiring dengan berkembengnya ilmu dan teknologi yang brdampak cukup signifikan terhadap seluruh tatanan pendidikan. Saat ini inovasi sudah merupakan kebutuhan, bukan sesuatu yang harus dihindari. Sedangkan dalam implementasinya sebuah inovasi menuntut peran serta seluruh warga institusi terutama para manajer yang ada di lembaga tersebut.
Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengetengahkan makalah ini dengan judul: ” Implementasi Manajemen Dalam Inovasi Pendidikan”.
Tulisan ini akan memaparkan secara rinci konsep manajemen, Inovasi, Inovasi Pendidikan, Implementasi manajemen dalam Inovasi Pendidikan (Analisis Akar Masalah, Analisis SWOT, sampai Monitoring dan Evaluasi terhadap program inovasi).
B. Tujuan Penulisan
Makalah ini ditulis dengan tujuan:
1. Memberikan referensi kepada para pembaca terutama pihak-pihak yang terlibat dalam perancangan sebuah inovasi dalam pendidikan, dimana peran managemen sangat penting.
2. Memberikan gambaran tentang analisa Akar Masalah, Analisis SWOT, Inovasi Pendidikan dan Bagaimana aplikasi Manajemen Dalam Inovasi pendidikan.i
3. Memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Inovasi Pendidikan
BAB.II
IMPLEMENTASI
MANAJEMEN DALAM INOVASI PENDIDIKAN
A. KONSEP DASAR MANAJEMEN
1. Pengertian/ Definisi Manajemen
Di bawah ini adalah beberapa definisi tentang “manajemen”:
a) Pengertian Manajemen Menurut James A.F. Stoner
Manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya dari anggota organisasi serta penggunaan sumua sumber daya yang ada pada organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya.
b) Pengertian Manajemen Menurut Mary Parker Follet
Manajemen adalah suatu seni, karena untuk melakukan suatu pekerjaan melalui orang lain dibutuhkan keterampilan khusus.
c) Menurut Dr. SP. SIAGIAN Manajemen dapat diartikan sebagai “kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui orang lain”.
d) Menurut Prof. Dr. H. Arifin Abdurrahman dalam buku “Kerangka Pokok-pokok manajemen”
a. Manajemen adalah Kegiatan-kegiatan atau aktifitas-aktifitas.
b. Proses, yakni Kegiatan dalam rentetan urutan-urutan.
c. Institut atau orang-orang yang melakukan kegiatan dan proses kegiatan.
Dari serentetan definisi manajemen diatas penulis mencoba memberikan batasan tentang manajemen sebagai “seni kelola organisasi yang di dalamnya meliputi proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya dari anggota organisasi serta penggunaan sumua sumber daya yang ada pada organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya”.
Sedangkan fungsi-fungsi manajemen menurut para ahli diantaranya sbb:
1. Menurut George R.Terry
a. Perencanaan (Planning);
b. Pengorganisasian
c. Organizing);Penggerakan
d. (Actuating);
e. Pengawasan (Controlling).
2. Menurut Luther M. Gulick yang disadur oleh Dr. BN.Silalai
a. Perencanaan
b. Planning);
c. Pengorganisir
d. (Organizing);
e. Melengkapkan
f. Tenaga Kerja (Staffing);
g. Mengarahkan (Directing);
h. Menyelaras/Mengkoordinir (Coordinating);
i. Melaporkan (Reporting);
j. Menyusun Anggaran (Budgeting).
3. Menurut Henry Fayol
a. Perencanaan (Planning);
b. Mengorganisir (Organizing);
c. Memerintah (Commanding);
d. Mengkoordinir (Coordinating);
e. Mengawasi (Controlling).
4. Menurut Koontz dan O. Donnel
a. Perencanaan
b. Planning);
c. Mengorganisir (Organizing);
d. Melengkapkan Tenaga Kerja (Staffing);
e. Mengarahkan (Directing);
f. Mengawasi (Controlling).
Pada prinsipnya pengelopokan-pengelompokan fungsi-fungsi manajemen diatas memiliki kemiripan, karena pada pelaksanaannya ke empat pengelompokan itu memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing.
Seorang manajer yang baik akan menerapkan model yang sesuai dengan situasi internal dan external lembaga.
B. INOVASI PENDIDIKAN
1. Pengertian Inovasi
Inovasi adalah memperkenalkan ide baru, barang baru, pelayanan baru dan cara-cara baru yang lebih bermanfaat.
Amabile et al. (1996) mendefinisikan inovasi yang hubungannya dengan kreativitas adalah: Inovasi atau innovation berasal dari kata to innovate yang mempunyai arti membuat perubahan atau memperkenalkan sesuatu yang baru. Inovasi kadang pula diartikan sebagai penemuan, namun berbeda maknanya dengan penemuan dalam arti discovery atau invention (invensi). Discovery mempunyai makna penemuan sesuatu yang sebenarnya sesuatu itu telah ada sebelumnya, tetapi belum diketahui.
Prof. Dr. Anna Poejiadi (2001) memberikan penjelasan: Secara harfiah to discover berarti membuka tutup. Artinya sebelum dibuka tutupnya, sesuatu yang ada di dalamnya belum diketahui orang. Sedangkan invent yang dalam kamus didefinisikan sebagai menciptakan sesuatu yang baru yang tidak pernah ada sebelumnya. Contoh invention adalah penemuan Thomas Alva Edison (1847-1931), yaitu penemuan perekam suara elektronik, penyempurnaan mesin telegram yang secara otomatis mencetak huruf mesin, mesin piringan hitam, dan pengembangan bola lampu pijar.
Inovasi diartikan penemuan dimaknai sebagai sesuatu yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang baik berupa discovery maupun invensi untuk mencapai tujuan atau untuk memecahkan masalah tertentu. Dalam inovasi tercakup discovery dan invensi.
Kata kunci lainnya dalam pengertian inovasi adalah baru. Santoso S. Hamijoyo dalam Cece Wijaya dkk (1992 : 6) menjabarkan bahwa kata baru diartikan sebagai apa saja yang belum dipahami, diterima atau dilaksanakan oleh si penerima pembaharuan, meskipun mungkin bukan baru lagi bagi orang lain. Akan tetapi, yang lebih penting dari sifatnya yang baru adalah sifat kualitatif yang berbeda dari sebelumnya. Kualitatif berarti bahwa inovasi itu memungkinkan adanya reorganisasi atau pengaturan kembali dalam bidang yang mendapat inovasi.
Kita berada di tengah-tengah samudera hasil inovasi. Ada inovasi: pengetahuan, teknologi, ICT, ekonomi, pendidikan, sosial, dsb. Inovasi dapat dikelompokkan pula atas inovasi besar dan inovasi kecil-kecil namun sangat banyak. Inovasi itu tidak harus mahal. Inovasi itu dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, dimana saja. Kalau leluhur kita tidak inovatif, kita semuanya akan tetap tinggal di gua-gua, dalam kegelapan, tanpa busana.
Inovasi dapat menjadi positif atau negatif. Inovasi positif didefinisikan sebagai proses membuat perubahan terhadap sesuatu yang telah mapan dengan memperkenalkan sesuatu yang baru yang memberikan nilai tambah bagi pelanggan. Inovasi negatif menyebabkan pelanggan enggan untuk memakai produk tersebut karena tidak memiliki nilai tambah, merusak cita rasa dan kepercayaan pelanggan hilang.
Menurut Joseph Schumpeter definisi inovasi dalam ekonomi,1934:
Mengenalkan barang baru dimana para pelanggan belum mengenalnya atau kualitas baru dari sebuah barang;
a. Mengenalkan metoda produksi baru yang dibutuhkan, ditemukan melalui serangkaian uji coba ilmiah;
b. Membuka pasar baru, dimana perusahaan sejenis tidak memasukinya, baik pasar tersebut ada atau belum ada ketika perusahaan memasukinya;
c. Menguasai sumber bahan baku baru untuk industri barang;
d. Menjalankan organisasi baru, seperti menciptakan monopoli, atau membuka monopoli perusahaan lain.
Dalam OECD, (1995) definisi Inovasi Teknologi adalah: Mengimplementasikan produk dan proses teknologi baru yang dapat meningkatkan pangsa pasar. Penciptaan proses dan produk baru melibatkan penelitian ilmiah, teknologi, organisasi, finansial dan aktifitas periklanan.
Menurut Regis Cabral (1998, 2003) bahwa Inovasi adalah elemen baru yang diperkenalkan dalam jaringan yang dapat mengubah, meskipun hanya sesaat, baik harganya, pelakunya, elemen-nya atau simpul dalam jaringan.
Dari berbagai definisi tentang definisi penulis dapat memberikan sebuah definisi bahwa:
“Inovasi merupakan suatu fikiran, gagasan, praktek atau pendekatan, strategi, produk baru atau yang dianggap sebagai sesuatu yang baru baik oleh seorang individu, organisasi, atau institusi yang dapat memperbaiki atau memecahkan masalah-masalah yang dihadapi individu, organisasi, atau institusi tersebut”.
Inovasi pendidikan adalah suatu fikiran, gagasan, praktek atau pendekatan, strategi, produk baru atau yang dianggap sebagai sesuatu yang baru yang mampu memperbaiki keadaan, memecakan masalah-masalah terkait pendidikan, sehingga dapat meningkatkan kualitas pendidikan.
2. Tipe inovasi
Ada 5 tipe inovasi menurut para ahli, yaitu:
a. Inovasi produk; yang melibatkan pengenalan barang baru, pelayanan baru yang secara substansial meningkat. Melibatkan peningkatan karakteristik fungsi juga, kemampuan teknisi, mudah menggunakannya. Contohnya: telepon genggam, komputer, kendaraan bermotor, dsb;
b. Inovasi proses; melibatkan implementasi peningkatan kualitas produk yang baru atau pengiriman barangnya;
c. Inovasi pemasaran; mengembangkan metoda mencari pangsa pasar baru dengan meningkatkan kualitas desain, pengemasan, promosi;
d. Inovasi organisasi; kreasi organisasi baru, praktek bisnis, cara menjalankan organisasi atau perilaku berorganisasi;
e. Inovasi model bisnis; mengubah cara berbisnis berdasarkan nilai yang dianut.
Karakteristik inovasi ditentukan oleh pasar dan bisnis. Inovasi yang mengikuti kondisi, memungkinkan pasar dapat dijalankan seperti biasanya. Inovasi yang terpisah, dapat mengubah pasar atau produk contohnya penemuan barang murah, tiket pesawat murah. Inovasi inkrementasi (penambah) muncul karena berlangsungnya evolusi dalam berpikir inovasi, penggunaan teknologi yang memperbesar peluang keberhasilan dan mengurangi produk yang tidak sempurna.
Inovasi radikal, mengubah proses manual menjadi proses berbasis teknologi keseluruhannya.
3. Sumber inovasi
Terdapat dua sumber utama inovasi, yaitu:
a. Secara tradisional, sumbernya adalah inovasi fabrikasi. Hal tersebut karena agen (orang atau bisnis) berinovasi untuk menjual hasil inovasinya.
b. Inovasi pengguna; hal tersebut dimana agen (orang atau bisnis) mengembangkan inovasi sendiri (pribadi atau di rumahnya sendiri), hal itu dilakukan karena produk yang dipakainya tidak memenuhi apa yang dibutuhkannya.
4. Tujuan Inovasi
Tujuan utama inovasi adalah:
a. meningkatkan kualitas
b. menciptakan pasar baru;
c. memperluas jangkauan produk;
d. mengurangi biaya tenaga kerja;
e. meningkatkan proses produksi;
f. mengurangi bahan baku;
g. mengurangi kerusakan lingkungan;
h. mengganti produk atau pelayanan;
i. mengurangi konsumsi energi;
J. menyesuaikan diri dengan undang-undang;
5. Kegagalan Inovasi
Hasil survey menunjukkan, bahwa dari 3000 ide tentang sebuah produk, hanya satu yang sukses di pasaran. Kegagalan inovasi mengakibatkan hilangnya sejumlah nilai investasi, menurunkan moral pekerja, meningkatkan sikap sinis, atau penolakan produk serupa dimasa datang. Padahal produk yang gagal seringkali memiliki potensi menjadi ide yang baik, penolakan terjadi karena kurangnya modal, keahlian yang kurang, atau produk tidak sesuai kebutuhan pasar. Kegagalan harus diidentifikasi dan diselesksi ketika proses berlangsung. Penyeleksian dini memungkinkan kita dapat menghindari uji coba ide yang tidak cocok dengan bahan baku, sehingga dapat menghemat biaya produksi.
Penyebab umum gagalnya suatu proses inovasi, dapat disaring kedalam 5 macam, yaitu: definisi tujuan yang buruk
1. buruknya mensejajarkan aksi untuk mencapai tujuan;
2. buruknya partisipasi anggota tim;
3. buruknya pengawasan produk;
4. buruknya komunikasi dan akses informasi.
6. Siklus Inovasi
Siklus inovasi berlangsung seperti kurva difusi dimana pada tahap awal, tumbuh relatif lambat, ketika kemudian pelanggan merespon produk tersebut sebagai sebuah kebutuhan maka pertumbuhan produk meningkat secara eksponensial. Pertumbuhan produk akan terus meningkat bila dilakukan inkrenetori inovasi atau mengubah produk. Di akhir kurva pergerakannya melambat kembali dan cenderung menurun.
Perusahaan yang inovatif akan bekerja dengan cara inovasi baru, yang menggantikan cara lama untuk mempertahankan tumbuhnya kurva melalui pembaharuan teknologi, bila teknologi tidak dilakukan pembaharuan pertumbuhan akan cenderung stagnan atau bahkan menurun.
C. MANAJEMEN DALAM INOVASI PENDIDIKAN
Seperti informasi yang sering kita temukan dari berbagai sumber bahwa pada dasarnya inovasi pendidikan dilaksanakan karena adanya permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam penyelenggaraan program pokok dalam suatu instansi pendidikan. Jadi Inovasi dimaksudkan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan inti.
Ada beberapa langkah yang perlu dilaksanakan ketika kita mengimplementasikan program inovasi diantaranya:
1. Analisis Akar Masalah
2. Menentukan Tujuan Program Inovasi
3. Penentuan dan Penyusunan Konsep Program inovasi
4. Analisis SWOT
5. Penentuan Strategi-strategi( langkah-langkah Strategic)
6. Merumuskan/ menyusun Program-program Strategic
7. Implementasi Program Inovasi
8. Monitoring Dan Evaluasi
1. Analisis Akar Masalah
a. Konsep Dasar Analisis Akar Madalah
Metode Analisis Akar Masalah dan Solusi (MAAMS) menyajikan suatu cara berpikir yang diperagakan dengan tata-alir (flow chart). Penerapan MAAMS membantu penggunanya untuk berpikir induktif maupun deduktif, kualitatif maupun kuantitatif, lebih mendalam dan menyeluruh, serta mempermudah kerjasama inter, multi, atau transdisiplin.
Perbincangan tentang suatu masalah yang berlangsung dalam rapat, sidang, diskusi, maupun talk show seperti diatas sering kali berkembang menjadi semakin rumit. Ketika itulah, walaupun amat sangat jarang, dirasakan pentingnya mengetahui apa yang menjadi akar atau duduk perkara dari masalah. Sayangnya ketika ada seseorang yang menyatakan sesuatu sebagai akar masalah, peserta lain pun mengemukakan sesuatu yang lain sebagai akar masalah. Masing-masing mengklaim pernyataannya sebagai akar masalah, tetapi tidak disertai penjelasan yang gamblang, eksplisit, sistematik, dan mudah diperagakan; dengan kata lain tidak metodis.
Akibatnya, perbincangan lisan maupun tertulis menjadi bertele-tele dan tidak berakhir dengan solusi (yang mendasar); menghamburkan pikiran, waktu/ ruang, dan biaya; serta tetap membingungkan hadirin maupun banyak orang yang awam. Secara keseluruhan perbincangan tersebut tidak mencerdaskan, tidak meningkatkan kualitas berpikir, dan tidak membantu masyarakat mengatasi masalah. Oleh karena itu diperlukan adanya suatu metode – sekurang-kurangnya sesuatu yang lebih metodis dan dapat diperagakan– untuk membantu proses berpikir dan proses perbincangan agar produktif.
Metode berpikir dengan menggunakan tata alir (flow chart) terutama dimaksudkan untuk mendapatkan “sebab terdalam atau akar suatu masalah”, dan kemudian, berdasarkan itu, dapat membuat alternatif solusi dasar. Metode ini dilengkapi dengan beberapa konsep dan syarat yang perlu digunakan dalam menerapkannya”. Konsep yang terpenting adalah pendekatan terhadap masalah (realitas); sumber-sumber kebenaran (hati nurani, ilmu, filsafat, agama, ditambah seni sebagai fasilitator); dan teori-teori kebenaran (theory of truth), yang secara keseluruhan mengarahkan kecerdasan akal dan kejujuran dalam proses berpikir.
b. Beberapa Konsep Pendukung
Sebelum analisis dilakukan perlu diperhatikan lebih dulu tiga komponen konseptual yang melengkapi Metode Analisis Akar Masalah dan Solusi (. AAMS) yaitu:
1. Sumber kebenaran, yang tidak hanya satu seperti hakikatnya penampakan realitas yang beragam. Ia mencakup hati nurani, ilmu, filsafat, dan agama (ditambah seni sebagai fasilitatornya); semuanya digunakan secara menyeluruh dan saling melengkapi. Sedangkan teori kebenaran antara lain: teori korespondensi, teori konsistensi/ koherensi, teori pragmatis (Muhadjir, 2001), dan teori konsensus dari Habermas (Budi Hardiman, 1990).
2. Pendekatan masalah (dan solusi) yang dibedakan menjadi dua. Ada masalah sosial dan kemanusiaan yang khas individual artinya: “tergantung pada individu masing-masing atau ada pula masalah yang khas sistemik. Masalah sosial dan kemanusiaan sebagian besar membutuhkan kedua-duanya.
a. Pendekatan individual/personal/mentalistik beranggapan bahwa letak sebab dari masalah adalah di dalam diri manusia pelaku (aktor/agen), kualitas perorangan seperti niat, iman, disiplin-diri, nilai-budaya, kadar moralitas, kognisi, dan sebagainya, yang proses internalisasinya tak dapat dikenai sanksi hukum (lebih bersifat imbauan).
b. Pendekatan sistemik/struktural/ institusional/legalistik beranggapan bahwa letak sebab dari masalah adalah di luar diri manusia berupa kesempatan, kualitas sistem, kualitas hukum, undang-undang, peraturan yang mempunyai sifat memaksa.
3. Kecerdasan (IQ) dan kejujuran (EQ dan SQ) dalam berpikir, khususnya dalam mengidentifikasi sebab-sebab. Di samping kecerdasan yang memadai, yang lebih diutamakan adalah kejujuran yang merupakan keutamaan moral dasar (Magnis-Suseno, 1989). Kejujuran sangat dituntut, khususnya ketika menemukan sebab negatif yang ternyata berkait dengan diri sendiri. Pada titik ini sering orang menghindar untuk tidak mengidentifikasinya, dan sebagai gantinya menyebut sebab lain yang juga masuk akal, bahkan tampak sangat masuk akal, tapi tidak berkait dengan dirinya. Jika ini yang terjadi akar masalah/penyebab tidak ditemukan, atau kalaupun dianggap sebagai akar masalah, jadinya semu bahkan menyesatkan secara sengaja (manipulasi). Dari kesembilan unsur kejujuran, yang terpenting adalah pengakuan yang tulus bahwa diriku atau pendapatku lebih keliru dibanding orang lain (Harsono P., 2002). Jika ketulusan tidak muncul perlu pengkondisian agar pengakuan akhirnya muncul, seperti yang dilakukan di pengadilan (dengan sumpah dan lie detector).
c. Metode dengan Peragaan Tata-Alir
Umumnya metode yang digunakan adalah metode atau model verbal, Model verbal hanya berupa rangkaian “mengapa–sebab(-sebab)–mengapa, dan seterusnya” yang ditujukan pada kasus atau masalah sosial tertentu. Setelah diujicoba dalam kuliah, dibuat model verbal berikutnya berupa “mengapa–sebab (sebab)–benarkah (ya/tidak)–mengapa, dan seterusnya”. Kemudian, agar lebih mudah lagi, kongkrit, dan dapat ditirukan mahasiswa, dibuat peraga/model visualnya berupa tata-alir (flow chart).
Ari Harsono dalam Metode Analisis Akar Masalah dan Solusi terilhami pernyataan sederhana “Kalau mau berpikir mendalam, ajukanlah pertanyaan “mengapa” secara berulang-ulang”. Lalu secara apa adanya, terhadap berbagai masalah sosial yang ramai diperbincangkan beliau ajukan pertanyaan “mengapa/ mengapa terjadi” secara berulang-ulang mengiringi setiap jawaban yang dikemukakan sendiri. Praktik latihan ini tidak memberi hasil yang memuaskan bagi beliau. Anjuran atau saran tersebut ternyata tidak dapat dilaksanakan begitu saja atau sesederhana itu. Jawaban yang muncul demikian banyak kemungkinannya dan “tanpa akhir”. Karena itu model diperbaiki lagi dengan membuat beberapa pembatasan atau syarat.
d. Langkah-langkah menjalankan MAAMS:
1. Rumuskan suatu masalah (sosial dan kemanusiaan) dalam bentuk yang dapat diajukan pertanyaan “apa sebab-sebabnya.” Misalnya, apa penyebab timbulnya perkelahian pelajar; mengapa kualitas SDM kita rendah, mengapa Malaysia berani mengincar Ambalat, apa sebab penularan HIV/AIDS, juga pemakaian narkoba yang semakin meluas? Jenis pertanyaan yang mengarah pada solusi ini harus didukung fakta. Jika dari judul (artikel, makalah, skripsi, tesis, disertasi) tidak dapat diajukan pertanyaan (“Apa Sebabnya” atau “Mengapa”), identifikasi lebih dulu alasan-alasan atau fakta-fakta yang biasanya ditulis sebagai latar belakang masalah. Terhadap alasan-alasan atau fakta-fakta inilah diajukan pertanyaan mengapa atau apa sebab-sebabnya.
2. Identifikasi sebab-sebab negatif yang paling lang-sung dari X. Misalnya ada 4 faktor, ditandai dengan Sa1, Sb1, Sc1, Sd1. (S=sebab; abcd=masing-masing faktor; angka 1=tahap pertama penelusuran sebab). Sebab negatif yaitu suatu keadaan salah-buruk yang perlu diatasi atau diperbaiki; sedangkan paling langsung yaitu sebab yang tidak diantarai oleh sebab lain. Dalam fenomena sosial hampir tidak ditemukan adanya satu faktor yang menyebabkan satu fakta lain, melainkan beberapa faktor sekaligus, baik secara kausal maupun korelasional. Di sinilah muncul kebutuhan untuk berpikir dan berkerjasama secara interdisiplin, multidisiplin, atau transdisiplin.
3. Terhadap masing-masing sebab (faktor) diajukan pertanyaan “benarkah?” dalam arti apakah ia memang menjadi sebab dari masalah X. Untuk itu lebih dulu dilakukan pengkajian atau penelitian, baik secara logis (formal) ataupun empiris (material), kualitatif maupun kuantitatif, induktif maupun deduktif (Hayon, 2005). Jika hasilnya benar, tahap kedua dari penelusuran sebab dapat dilakukan, yang berarti mencari sebab-sebab dari setiap sebab pada tahap pertama (Sa1, Sb1 dan seterusnya). Jika hasilnya salah, sebab tersebut diabaikan dan kembali ke awal dengan mengidentifikasi kemungkinan sebab lainnya. Pada langkah ketiga inilah keseluruhan pengetahuan tentang kebenaran dan pendekatan terhadap masalah diterapkan secara kritis.
4. Tahap kedua dan seterusnya (tahap ke n) caranya sama seperti tahap pertama. Bedanya adalah bahwa kemungkinan sebab (faktor) yang diidentifikasi menjadi semakin sedikit karena adanya kesamaan sehingga bukan a,b,c,d lagi tapi a,b,c, dan pada akhirnya a dan b sebagai sebab terdalam atau akar masalah (a dan b menunjukkan bahwa sebab dasar terdiri lebih dari satu sebab).
5. Penelusuran dapat dihentikan dengan memperhatikan dua syarat.
a) Pertama, apa yang dipandang sebagai akar masalah tersebut dapat secara sekaligus dicarikan solusi individual/ personal/mentalistik –berupa imbauan pada nurani atau niat seseorang– maupun solusi sistemik/ struktural/ institusional/ legalistik –berupa UU atau peraturan dengan sanksi hukum. Solusi individual relatif mudah dilaksanakan, sedangkan solusi sistemik lebih sulit dilaksanakan. Oleh karena itu untuk memenuhi syarat solusi sistemik ini, rumusan sebab atau akar masalah hendaknya memperlihatkan perilaku nyata yang cukup mudah diamati, dan tentu saja layak untuk dijatuhi sanksi hukum. Jika syarat ini tidak terpenuhi, proses diulang dari tahap sebelumnya atau dari awal lagi.
b) Kedua, terdapat persetujuan dari peserta yang terlibat perbincangan.
e. Contoh-contoh penerapan metode MAAMS :
MAAMS (Metoda Analisis Akar Masalah dan Solusi) memiliki sejumlah manfaat sebagai berikut:
a) Menyediakan alternatif metode berpikir (mendalam) yang disertai dengan model atau peraga visual.
b) Memberi dasar epistemologis bagi penerapan mixed methodology ataupun multimethods.
c) Memfasilitasi pengkajian masalah dan solusi fundamental secara interdisipliner, multidisipliner, transdisipliner; berpikir out of the box.
d) Memperbaiki, mempercepat, meningkatkan, dan meluruskan proses berpikir, diskusi, perbincangan, dsb. yang bermaksud mencari solusi.
e) Menghindarkan kekeliruan identifikasi sebab/akar masalah (dari gejala masalah).
f) Mengkategorikan masalah secara hirarkhis: permukaan, tengah, dan dasar. Hal ini secara praktis dapat digunakan untuk menyusun agenda dan program penelitian dari visi research university, dan menyeleksi daftar usulan penelitian.
g) Mempermudah pengkategorian penyelesaian masalah secara strategis dan kronologis (menghasilkan jenjang solusi suatu masalah): jangka pendek, menengah, panjang.
h) Membedakan mana kegiatan yang seharusnya sementara saja dan mana yang harus berkelanjutan (mencegah vested interest “aktivitas sosial” tertentu yang lebih menguntungkan pelakunya (popularitas dan finansial).
i) Mengajak penggunanya berpikir dengan menyertakan nilai-nilai dan norma kebenaran dan kebaikan, mengarahkan pemikiran pada kebenaran dan kebaikan perilaku, bukan hanya sukses pencapaian teknis.
Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa analisis akar masalah adalah suatu metoda pemecahan masalah dengan mengungkap semua factor-faktor penyebab yang mungkin, dan menentukan factor penyebab yang paling dominan dengan tujuan untuk menemukan solusi terbaik untuk permasalahan yang muncul dalam suatu organisasi.
.
e. Diagram Tulang Ikan; Sebuah Alat Analisis Masalah
Selain dengan metoda AAMS, seperti digambarkan diatas mencari penyebab atau akar masalah bisa dilakukan melalui analisa yang menggunakan alat berupa Diagram Tulang Ikan(Fishbone /Ishikawa Diagram).
Dr Kaoru Ishikawa, seorang pengendali mutu statistic bangsa Jepang, menemukan alat analisis ini. Oleh karena itu, sering disebut sebagai diagram Ishikawa. Diagram tulang ikan adalah sebuah alat analisis yang menyediakan cara sistematis untuk melihat efek dan sebab-sebab yang menciptakan atau berkontribusi pada munculnya permasalahan-permasalahan.
Desain diagram terlihat mirip seperti kerangka ikan. Oleh karena itu, sering disebut sebagai diagram tulang ikan. Apa pun nama yang Anda pilih, yang perlu diingat adalah bahwa fungsi dari diagram tulang ikan adalah untuk membantu dalam mengkategorikan factor-faktor yang berpotensi sebagai
Bagaimana diagram fishbone dibangun?
Langkah-langkah pokok
1. 1. Gambarkan diagram tulang ikan ....
2. 2. Daftar masalah / isu yang akan dipelajari di kepala "ikan".
3. 3. Beri nama masing-masing "" tulang "ikan" ". Kategori-kategori utama biasanya digunakan adalah:
The 4 M's: M 4's:
(Methods, Machines, Materials, Manpower/ Metode, Mesin, Material, Manusia)
The 4 P's: P 4's:
(Place, Procedure, People, Policies /Place, Prosedur, Orang, Kebijakan )
The 4 S's: S 4's:
(Surroundings, Suppliers, Systems, Skills) Sekitarnya, Pemasok, Sistem, Manusia(keMampuan Manusia)
Catatan: Anda dapat menggunakan salah satu dari empat kategori yang disarankan, menggabungkan mereka dalam satu model atau mambuat sendiri modelyang lebih mudah difahami sendirii. Kategori tersebut adalah untuk membantu Anda mengatur ide-ide Anda.
Contoh Analisa Akar Masalah dengan menggunakan Alat Fishbondnya Ishikawa.
2. Menentukan Tujuan Program Inovasi
Tahapan selanjutnya setelah kita menemukan akar permasalahan inti yang paling berpengaruh terhadap suatu masalah(masalah inti) maka kita perlu menentukan tujuan dilaksanakannya program inovasi, yaitu yang diharapkan dapat menjadi solusi terhadap akar masalah tadi, dan diharapkan dengan program ini selain menjadi solusi terhadap akar masalah tadi maka dalam arah yang sama akan mampu menyelesaikan masalah-masalah yang lainnya terkait tujuan organisasi.
Misalnya suatu hari penulis berbincang-bincang dengan seorang stakeholder pendidikan di Dinas pendidikan kabupaten Ciamis. Pada saat itu beliau diminta informasi tentang permasalahan yang dialami dunia pendidikan di Ciamis, beliau mengungkapkan bahwa sertifikasi guru di Ciamis belum memberikan dampak positif terhadap kinerja guru. Namun sepertinya beliau hanya membaca sebuah data tertentu dan belum meneliti secara lebih detail.
Untuk menemukan jawaban mengapa dan factor apa penyebab terjadinya kondisi ini, terlebih dahulu perlu dilakukan Analisis Akar Aasalahnya. Banyak factor yang mungkin menjadi penyebab dan yang mempengaruhi kondisi guru tersertifikasi yang berkinerja rendah diantaranya; Sebut saja Proses Sertifikasi yang tidak bermutu yang paling dominan. Hal ini juga mungkin dipengaruhi banyak factor diantaranya:
• Guru Yang Bersangkutan
( Pemahaman terhadap konsep Sertifikasi guru,
Mindset guru yang rendah memungkinkan adanya prilaku tidak jujur dll)
• Metode Assessement
Portofolio merupakan bentuk Evaluasi program yang cukup baik namun ternyata yang dianggap baik tidak selamanya tepat untuk digunakan.
• Pengawasan
Apakah sudah dilakukan pengawasan yang betul-betul terencana dan terprogram dengan segala kemungkinan yang ada?
Mungkin belum ada system pengawasan yang memadai dari pemerintah terhadap pelaksanaan sertifikasi guru tersebut.
• Tim Pelaksana Sertifikasi
Lagi-lagi kita perlu menganalisa apakah TIM sudah solid? Apakah TIM mampu melaksanakan program sertifikasi dengan adil? Apakah masih terdapat praktek-praktek diskriminatif? Apakah kriteria-kriteria yang dipakai untuk menentukan A, B, atau C yang harus mengikuti program sertifikasi sudah benar?
• Asessor
Asessor juga manusia. Apakah individu-induvidu yang dianggap penentu nasib bangsa ini sudah benar-benar teruji kredibilitasnya?
• Masih adakah diantara petinggi-petinggi manusia ini yang menerima titipan-titipan, pesan-pesan, kapan kinerja guru bisa meningkat sesuai harapan program? Dll.
Masih puluhan bahkan mungkin ratusan factor yang mungkin dapat mempengaruhi proses pelaksanaan sertifikasi guru.
Dari sekian banyak factor secara brain storming ditarik benang merahnya yang mana yang benar-benar berpengaruh terhadap rendahnya proses sertifikasi guru. Misalnya akar permasalahannya itu adalah Metode/teknik Assessement-nya.
Maka pada tahapan ini kita merumuskan tujuan dilaksanakannya program inovasi ini misalnya:
“Meningkatkan mutu Proses Sertifikasi Guru”.
3. Penentuan dan Penyusunan Konsep Program Inovasi
Setelah menentukan tujuan pelaksanaan inovasi guru barulah kita menyusun Konsep Program Inovasi: Perencanaan, Implementasi, Monitoring dan Evaluasi.
Apa nama Program Inovasi tersebut.
Berapa orang yang diperlukan? Siapa-siapa saja?
Kapan kemungkinan Waktunya? Dimana? Bagaimana?
Berapa Dana Yang dibutuhkan?
Dan lain-lain sampai konsep implementasi dan monev secara rinci dan jelas.
4. Analisis SWOT
Langkah selanjutnya dalam manajemen inovasi adalah melakukan Analisa SWOT untuk melihat sejauh mana kesiapan organisasi menghadapi program inovasi yang akan dilaksanakan.
A. Pengertian
Analisa SWOT adalah sebuah bentuk analisa situasi dan kondisi yang bersifat deskriptif (memberi gambaran). Analisa ini menempatkan situasi dan kondisi sebagai sebagai faktor masukan, yang kemudian dikelompokkan menurut kontribusinya masing-masing. Satu hal yang harus diingat baik-baik oleh para pengguna analisa SWOT, bahwa analisa SWOT adalah semata-mata sebuah alat analisa yang ditujukan untuk menggambarkan situasi yang sedang dihadapi atau yang mungkin akan dihadapi oleh organisasi, dan bukan sebuah alat analisa ajaib yang mampu memberikan jalan keluar yang cespleng bagi masalah-masalah yang dihadapi oleh organisasi.
Analisa ini terbagi atas empat komponen dasar yaitu :
1. Strength (S), adalah situasi atau kondisi yang merupakan kekuatan dari organisasi atau program pada saat ini.
2. Weakness (W), adalah situasi atau kondisi yang merupakan kelemahan dari organisasi atau program pada saat ini.
3. Opportunity (O), adalah situasi atau kondisi yang merupakan peluang diluar organisasi dan memberikan peluang berkembang bagi organisasi dimasa depan.
4. Threat (T), adalah situasi yang merupakan ancaman bagi organisasi yang datang dari luar organisasi dan dapat mengancam eksistensi organisasi dimasa depan.
Selain empat komponen dasar ini, analisa SWOT, dalam proses penganalisaannya akan berkembang menjadi beberapa Sub. komponen yang jumlahnya tergantung pada kondisi organisasi. Sebenarnya masing-masing subkomponen adalah pengejawantahan dari masing-masing komponen, seperti Komponen Strength mungkin memiliki 12 subkomponen, Komponen Weakness mungkin memiliki 8 subkomponen dan seterusnya.
Jenis-Jenis Analisis SWOT
1. Model Kuantitatif
Sebuah asumsi dasar dari model ini adalah kondisi yang berpasangan antara S dan W, serta O dan T. Kondisi berpasangan ini terjadi karena diasumsikan bahwa dalam setiap kekuatan selalu ada kelemahan yang tersembunyi dan dari setiap kesempatan yang terbuka selalu ada ancaman yang harus diwaspadai. Ini berarti setiap satu rumusan Strength (S), harus selalu memiliki satu pasangan Weakness (W) dan setiap satu rumusan Opportunity (O) harus memiliki satu pasangan satu Threath (T).
Kemudian setelah masing-masing komponen dirumuskan dan dipasangkan, langkah selanjutnya adalah melakukan proses Evaluasi program. Evaluasi program dilakukan dengan cara memberikan skor pada masing -masing subkomponen, dimana satu subkomponen dibandingkan dengan subkomponen yang lain dalam komponen yang sama atau mengikuti lajur vertikal. Subkomponen yang lebih menentukan dalam jalannya organisasi, diberikan skor yang lebih besar. Standar Evaluasi program dibuat berdasarkan kesepakatan bersama untuk mengurangi kadar subyektifitas Evaluasi program.
2. Model Kualitatif
Urut-urutan dalam membuat Analisa SWOT kualitatif, tidak berbeda jauh dengan urut-urutan model kuantitatif, perbedaan besar diantara keduanya adalah pada saat pembuatan subkomponen dari masing-masing komponen. Apabila pada model kuantitatif setiap subkomponen S memiliki pasangan subkomponen W, dan satu subkomponen O memiliki pasangan satu subkomponen T, maka dalam model kualitatif hal ini tidak terjadi. Selain itu, SubKomponen pada masing-masing komponen (S-W-O-T) adalah berdiri bebas dan tidak memiliki hubungan satu sama lain. Ini berarti model kualitatif tidak dapat dibuatkan Diagram Cartesian, karena mungkin saja misalnya, SubKomponen S ada sebanyak 10 buah, sementara subkomponen W hanya 6 buah. Sebagai alat analisa, SWOT berfungsi sebagai panduan pembuatan peta. Ketika telah berhasil membuat peta, langkah tidak boleh berhenti karena peta tidak menunjukkan kemana harus pergi, tetapi peta dapat menggambarkan banyak jalan yang dapat ditempuh jika ingin mencapai tujuan tertentu. Peta baru akan berguna jika tujuan telah ditetapkan. Bagaimana menetapkan tujuan adalah bahasan selanjutnya yaitu membangun visi-misi organisasi atau program.
Analisa SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats) telah menjadi salah satu alat yang berguna dalam dunia industri. Namun demikian kini mulai digunakan sebagai alat bantu pembuatan keputusan dalam hamper semua institusi termasuk institusi pendidikan.
Proses penggunaan manajemen analisa SWOT menghendaki adanya suatu survei internal tentang strengths (kekuatan) dan weaknesses (kelemahan) produk, serta survei eksternal atas opportunities (ancaman) dan threats (peluang). Pengujian eksternal dan internal yang terstruktur adalah sesuatu yang unik dalam dunia perencanaan dan pengembangan produk pendidikan.
Contoh pengembangan produk lembaga pendidikan menggunakan analisa SWOT, adalah suatu cara yang berguna dalam menguji kondisi lingkungan tentang produk baru yang ditawarkan suatu lembaga lembaga pendidikan. Sebuah tinjauan atas aplikasi potensial SWOT dalam jangkauan yang luas juga merupakan tujuan dari pada tulisan ini.
Lingkungan eksternal mempunyai dampak yang sangat berarti pada sebuah lembaga pendidikan. Selama dekade terakhir abad ke duapuluh, lembaga-lembaga ekonomi, masyarakat, struktur politik, dan bahkan gaya hidup perorangan dihadapkan pada perubahan-perubahan baru.
Para administrator atau pengelola lembaga pendidikan harus berperan sebagai penggagas atau inovator dalam merancang masa depan lembaga yang mereka kelola. Strategi-strategi baru yang inovatif harus dikembangkan untuk memastikan bahwa lembaga pendidikan akan melaksanakan tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan masyarakat mendatang khusunya pada abad 21 dan setelahnya. Untuk melakukan hal ini, antara lain dibutuhkan sebuah pengujian mengenai bukan saja lingkungan lembaga itu sendiri tetapi juga lingkungan eksternalnya (Brodhead, 1991). Analisis kekuatan, kelemahan, kesempatan/peluang, dan ancaman atau SWOT (juga dikenal sebagai analisis TOWS dalam beberapa buku manajemen), menyediakan sebuah kerangka pemikiran untuk para pengelola dalam memfokuskan secara lebih baik pada layanan kebutuhan dalam masyarakat.
Meskipun sebenarnya analisis ini banyak ditujukan untuk penerapan dalam bisnis konvensional, namun demikian penggunaan perangkat ini dalam bidang pendidikan bukanlah hal dilarang. Penulis memandang bahwa analisis SWOT merupakan alat yang cukup efektif sebagai pendekatan manajemen. Perangkat manajemen yang sedianya ditujukan untuk bidang industri seringkali bisa diolah untuk diterapkan di bidang jasa, karena adanya kemiripan yang fundamental dalam tugas-tugas administratif.
SWOT adalah sebuah teknik yang sederhana, mudah dipahami, dan juga bisa digunakan dalam merumuskan strategi-strategi dan kebijakan-kebijakan untuk pengelolaan pegawai administrasi (administrator). Sehingga, SWOT disini tidak mempunyai akhir, artinya akan selalu berubah sesuai dengan tuntutan zaman. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk menunjukkan bagaimana SWOT dapat digunakan oleh para pengelola lembaga pendidikan dalam menganalisis dan memulai pembuatan program baru yang inovatif untuk ditawarkan dalam lembaga pendidikan.
2. Perkembangan Analisis SWOT
Analisis SWOT secara sederhana dipahami sebagai pengujian terhadap kekuatan dan kelemahan internal sebuah organisasi, serta kesempatan dan ancaman lingkungan eksternalnya. SWOT adalah perangkat umum yang didesain dan digunakan sebagai langkah awal dalam proses pembuatan keputusan dan sebagai perencanaan strategis dalam berbagai terapan (Johnson, dkk., 1989; Bartol dkk., 1991). Jika hal ini digunakan dengan benar, maka dimungkinkan bagi sebuah sekolah kejuruan untuk mendapatkan sebuah gambaran menyeluruh mengenai situasi sekolah itu dalam hubungannya dengan masyarakat, lembaga-lembaga pendidikan yang lain, dan lapangan industri yang akan dimasuki oleh murid-muridnya. Sedangkan pemahaman mengenai faktor-faktor eksternal, (terdiri atas ancaman dan kesempatan), yang digabungkan dengan suatu pengujian mengenai kekuatan dan kelemahan akan membantu dalam mengembangkan sebuah visi tentang masa depan. Prakiraan seperti ini diterapkan dengan mulai membuat program yang kompeten atau mengganti program-program yang tidak relevan serta berlebihan dengan program yang lebih inovatif dan relevan.
Langkah pertama dalam analisis SWOT adalah membuat sebuah lembaran kerja dengan jalan menarik sebuah garis persilangan yang membentuk empat kuadran, keadaan masing-masing satu untuk kekuatan, kelemahan, peluang/kesempatan, dan ancaman. Secara garis besar lembaran kerja tersebut diperlihatkan dalam lembar-1. Langkah berikutnya adalah membuat daftar item spesifik yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi di bawah topik masing. Dengan membatasi daftar sampai 10 poin atau lebih sedikit, untuk menghindari generalisasi yang berlebihan (Johnson, et al., 1989).
SWOT dapat dilaksanakan oleh para karyawan secara individual atau secara kelompok dalam organisasi. Teknik secara kelompok akan lebih efektif khususnya dalam pengadaan struktur, objektifitas, kejelasan dan fokus untuk diskusi mengenai strategi, sehingga tidak akan cenderung melantur, dan bahkan akan terkena pengaruh politik atau kesenangan (interest) perseorangan yang kuat (Glass, 1991). Hal yang harus disadari jika bekerja secara kelompok dalam bidang keuangan, maka akan muncul tiga sikap yang terangan-terangan dari para karyawan di mana tergantung masa kerja mereka masing-masing. Karyawan yang mempunyai pengalaman dan masa kerja lebih lama lebih cenderung menjadi yang paling partisipatif dan receptive akan ide-ide baru.
SWOT harus mencakup semua aspek/area berikut ini, yang masing-masing dapat merupakan sumber kekuatan, kelemahan, kesempatan, atau ancaman, misalnya:
1. Beberapa contoh factor lingkungan internal lembaga pendidikan:
a) SDM ( staf pengajar, official, laboran, pimpinan)
b) Input (siswa)
c) Sarana Prasarana (Keberadaan, Kelengkapan, Jumlah, Variasi, Penataan, Kecocokan, Ukuran, dll. Euis)
Misalnya : Ruang kegiatan Belajar, Perpustakaan, sarana ibadah, fasilitas Olah-raga dll.)
2. Kurikulum (KTSP, Silabus, RPP, Evaluasi program/Evaluasi dll)
3. Bebrapa contoh lingkungan eksternal di lembaga Pendidikan:
a) Pelanggan lembaga pendidikanpesaing lainnya;
b) Demografi sosial dan ekonomi penduduk;
c) Para pemegang saham.
3. Survei Internal tentang Kekuatan dan Kelemahan
Secara historis, para guru dan warga sekolah berupaya menarik minat pelanggan agar memasuki/memlih lembaga mereka dengan cara meningkatkan produk dan layanan tanpa memperhatikan kelemahan dan kekuatan lembaga pendidikan yang mereka kelola. Apabila, keadaan audit internal seperti ini dilaksanakan, maka akan timbul area/aspek yang menghendaki beberapa perubahan. Lebih dari itu, potensi dan kemungkinan-kemungkinan akan adanya service dan program-program inovasi baru bisa juga muncul. Dengan membuat seluruh daftar tentang kelemahan internal maka akan tampak area/aspek yang bisa diubah guna untuk memperbaiki kinerja lembaga tersebut, termasuk segala sesuatunya yang berada di luar jangkauan kontrol. Contoh mengenai kelemahan inheren adalah cukup banyak. Misalnya sebagai berikut:
a) Kemampuan pendidik dan tenaga kependidikan akan IT dan Bahasa Inggris masih lemah; bangunan infrastruktur yang kurang memadai;
b) fasilitas sarana prasarana, serta langkanya sumber-sumber daya instruksional; dan termasuk lokasi lembaga pendidikan tersebut.(akses masuk area sekolah kurang mendukung)
Sedangkan kekuatan yang ada perlu juga didaftar, sebagai contoh kekuatan potensial dapat berupa:
(a) kualifikasi guru yang pada umumnya memadai.
(b) para pendidik yang berdedikasi dan bermoral tinggi.
(c) akses dengan lembaga pendidikan yang lain, dimana pelanggan dapat melakukan transaksi dengan lembaga lain, termasuk lembaga pendidikan kejuruan.
(d) reputasi yang baik dalam menyediakan layanan; dan
(e) perbedaan latar belakang pelanggan.
Penaksiran kekuatan dan kelemahan juga bisa dilakukan melalui survei, kelompok-kelompok fokus, wawancara dengan pelanggan, dan sumber-sumber lain yang dapat dipercaya. Begitu kelemahan dan kekuatan tergambar, maka akan memungkinkan untuk mengkonfirmasi item-item tersebut. Harus kita fahami bahwa persepsi yang berbeda-beda bisa timbul, tergantung pada kelompok-kelompok representatif yang dihubungi dan dimintai pendapatnya.
4. Analisis Eksternal (Ancaman dan Peluang)
Gambaran eksternal bersifat komplementer terhadap self-study internal di dalam analisis SWOT. Pengaruh-pengaruh nasional dan regional seperti masalah-masalah lokal dan negara adalah yang paling penting dalam memutuskan program baru apa saja yang perlu ditambah atau program yang sudah ada dan perlu dimodifikasi atau diganti. Gilley dkk. (1986) menetapkan sepuluh dasar-dasar institusi yang “on-the-move” (sedang maju), salah satunya adalah kemampuan institusi atau lembaga untuk menjaga pengawasan yang lebih dekat atas masyarakat. Tidak hanya karyawan saja yang harus mengawasi masyarakatnya, namun mereka juga memainkan perananan kepemimpinan dengan memberikan isu-isu itu yang berkaitan secara langsung maupun tidak.
Informasi tentang iklim dan trend bisnis yang ada dan perubahan penduduk harus dipertimbangkan dalam tahap studi pengembangan ini. Sejumlah sumber informasi harus diliput, tidak hanya terbatas kepada pendidik saja, melainkan pelanggan , tokoh masyarakat, surat kabar, majalah, jurnal bisnis, dewan pengawas syari’ah, dunia industri, dan lainnya. Sehingga masing-masing dapat merupakan sumber potensial sebagai informasi yang sangat berharga.
Salah satu strategi dalam bisnis adalah mengenali ancaman. Kita perlu mengenali ancaman atau musuh kita agar kita bisa mengatur langkah kerja yang tepat. Ingat bahwa ancaman dapat berwujud dalam berbagai bentuk.
a) Besarnya anggaran pendidikan yang terbatas dianggap suatu peraturan daripada dianggap sebagai suatu pengecualian.
b) Adanya suatu perubahan kesadaran atau pola pikir masyarakat akan menciptakan kesempatan potensial untuk memberikan isu-isu baru dengan jalan memberikan layanan yang lebih bermutu dan berkualitas.
c) Kepedulian masyarakat terhadap lingkungan yang bersifat global, juga mempunyai areal/aspek kesempatan.
d) Industri atau bisnis baru apa yang dapat muncul di masa akan datang, dengan mencari karyawan berketrampilan serta terlatih baik.
Harus dipahami juga bahwa kesempatan dan ancaman tidak absolut sifatnya. Ancaman dan Peluang kadang-kadang bisa bertukar posisi. Oleh sebab itu kita perlu melangkah dengan cermat. Apa yang pertama-tama nampak akan menjadi suatu kesempatan/peluang, mungkin tidak muncul bila dikaitkan dengan sumber-sumber daya atau harapan masyarakat. Makin banyak sumber daya atau harapan masyarakat, maka makin besar pula tantangan dalam menggunakan metode analisis SWOT, sehingga memungkinkan untuk membuat Evaluasi program yang benar dan tepat serta lebih menguntungkan baik secara institusi maupun lingkungan masyarakat.
1. Kelemahan SWOT
Pada umumnya SWOT hanya mencerminkan pandangan seseorang atau kelompok, dimana hanya mencerminkan keberpihakan dalam menilai tindakan yang telah ditentukan sebelumnya, daripada digunakan sebagai alat untuk menemukenali kemungkinan-kemungkinan peluang baru. Hal penting yang perlu perhatikan bahwa kadang-kadang ancaman juga dapat dipandang sebagai kesempatan, tergantung orang atau kelompok yang terlibat. Ada pepatah yang menyatakan, “Seorang yang pesimis adalah orang yang melihat kegagalan di dalam suatu kesempatan, dan seorang yang optimis adalah orang yang melihat kesempatan di dalam suatu kegagalan.” Dalam contoh lembar-2, kesempatan yang diberikan para ahli dalam industri untuk melatih siswa, mungkin dianggap oleh sebagian anggota lembaga pendidikan (pengajar dan staf) sebagai suatu ancaman terhadap posisi atau pekerjaan mereka sendiri.
SWOT memungkinkan sebuah institusi untuk mengambil cara yang singkat daripada melakukan sebuah penelitian khusus kekuatannya yang sesuai dengan kesempatan, sehingga mengabaikan kesempatan yang tidak dirasakan. Metode yang lebih pro-aktif dalam identifikasi kesempatan/peluang adalah paling menarik, baru kemudian merencanakan dan menemukembangkan strategi institusi untuk memenuhi kesempatan-kesempatan tersebut. Hal ini akan menciptakan strategi efektif, menurut Glass (1991), dalam menghadapi tantangan, daripada sekedar menemukan kekuatan yang ada dan kesempatan yang dipilih untuk dikembangkan kemudian.
Contoh Analisa SWOT terhadap kesiapan SMAN 1 Ciamis dalam melaksanakan Program Inovasi RSMABI.
1. Analisis SWOT (Analisa Tingkat Kesiapan Fungsi)
NO FUNGSI DAN FAKTORNYA KONDISI IDEAL KONDISI NYATA TINGKAT KESIAPAN
SIAP TIDAK
A Fungsi Proses Belajar Mengajar
1. Faktor Internal a Jadwal Pelajaran Jadwal Pelajaran diketahui oleh guru dan siswa Jadwal pelajaran telah diketahui oleh guru dan siswa Kekuatan
b Waktu Kegiatan Pembelajaran dilaksanakan tepat waktu Masih terdapat guru dan siswa kesiangan Kelemahan
c Interaksi Interaksi pembelajaran menggunakan pengantar berbahasa inggris Inter aksi pembelajaran baru sebagian kecil menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar Kelemahan
d Media Menerapkan media pembelajaran berbasis ICT 50 % guru menggunakan media berbasis ICT Kekuatan
e Pendekatan Menerapkan pendekatan dan strategi pembelajaran beorientasi kepada aktivitas siswa Pada umumnya guru telah menerapkan strategi pembelajaran yang beorientasi pada aktivitas swa Kekuatan
f Pemanfatan Lingkungan Kegiatan pembelajaran memanfatkan sumber belajar yang ada dilingkunan sekolah seperti perpustakaan, kebus sekolah dan kantin Lingkungan sekolah tela diamanfaatkan untuk kegiatan pembelajran Kekuatan
g Supervisi Kepala sekolah Kepala sekolah melakukan supervise secara berkala Kepala sekolah telah melakukan supervisi secara berkala Kekuatan
h Hasil belajar siswa Nilai UN, UAS, dan portofolio masing siswa tersedia dalam Bhs. Inggris dan Indonesia dan terdokumentasi dengan baik Nilai UN,UAS, dan portofolio belum tersedia dalam bahasa Inggris Kelemahan
2.Faktor Eksternal a Pengawas Pembina Pengawas pembina melakukan bimbinga dan pengawasan secara berkala a Pengawas Pembina telah melaksanakan bimbingan dan pengawasan Peluang
b Pengawas Mata Pelajaran Pengawas mata Pelajaran malakukan bimbingan dan penagwasan secara berkala Pengawas mata Pelajaran belum malakukan bimbingan dan pengawasan secara berkala Ancaman
c Custumer Mengadakan kerja sama dengan perguruan tinggi atau lembaga tertentu Telah menjalin kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi dan lembaga tertentu Peluang
B Fungsi Pendukung PBM : Kurikulum
1. Faktor Internal a Kurikulum Menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yang telah disyahkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi a Memilki KTSP dengan siste Satuan Kredit Semester, telah disyahkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Kekuatan
b Silabus Silabus disusun secara mandiri menggunakan bahasa Indoensia dan Bahasa Inggris b Belum tersedia silabus dalam Bahasa Inggris Kekuatan
c Bahan Ajar c Bahan Ajar Kekuatan
a. Buku Teks Siswa Tersedia dalam bahasa Indonesia dan Bhs. Inggris Telah tersedia buku teks siswa tetapi belum dalam Bahasa Inggris Kekuatan
b. Buku Teks Guru Tersedia dalam bahasa Indonesia dan Bhs. Inggris Telah tersedia buku teks guru tetapi belum dalam Bahasa Inggris Kekuatan
c. LKS / Student Worksheet Tersedia dalam bahasa Indonesia dan Bhs. Inggris Telah tersedia LKS siswa tetapi belum dalam Bahasa Inggris Kekuatan
d Rencana Pembelajaran Dibuat dalam Bhs. Inggris & Bhs. Indonesia d Rencana Pembelajaran sudah ada tapi belum dibuatdalam Bahasa Inggris Kekuatan
e Software Pembelajaran Tersedia software yang memadai dalam jumlah rasional e Software Pembelajaran
Belum proporsional Kelemahan
a. Software Pembelajaran Tersedia dalam bahasa Indonesia dan Bhs. Inggris a. Tersedia dalam jumlah terbatas kelemahan
f Instrumen Evaluasi Tersedia instrument evaluasi dalam bahasa Inggris f Belum tersedia Instrumen Evaluasi berbahasa Inggris Kelemahan
a. Soal-soal Utama Tersedia dalam bahasa Indonesia dan Bhs. Inggris Soal Sudah ada tetapi belum berbahasa Ingris Kekuatan
b. Remedial Tersedia dalam bahasa Indonesia dan Bhs. Inggris Soal Sudah ada tetapi belum berbahasa Ingris Kekuatan
c. Pengayaan Tersedia dalam bahasa Indonesia dan Bhs. Inggris Soal Sudah ada tetapi belum berbahasa Ingris Kekuatan
2. Faktor Eksternal a Fasilitator Menguasai pembelajaran Matematika dalam Bhs. Inggris, berijazah min S2 Matematika/Pendidikan Matematik a Belum tersedia fasilitator mata pelajaran Science dan matik yang yang mampu membimbing tenaga pendidik dan kependidikan untuk mampu menguasai bahasa Inggris.secara berkala. Ancaman
b Ujian Nasional Malaksnakan Ujian NasionalSesuai dengan POS UN b Telah MelaksanaknUjian Nasional Sesuai dengan POS UN Peluang
C. Fungsi Pendukung PBM : Ketenagaan
3 1. Faktor Internal a Kepala Sekolah Berijazah minimal S1, dapat berkomunikasi dlm Bhs. Inggris, , dapat mengoperasikan ICT, dan menguasai MBS a Berijazah S1, Menguasai MBS, dapat mengoperasikan ICT, komunikasi dalam bahasa Inggris masih terbatas Kekuatan
b Guru Berijazah S1, dapat berkomunikasi dlm Bhs. Inggris, TOEFL > 500, menguasai mata pelajaran yang diampu dan dapat menggunakan ICT dalam proses pembelajaran b 50% guru dapat menggunakan ICT dalam mengajar, 25% dapat berkomunikasi dalam bahasa Inggris; belum melaksanakan TOEFL Kekuatan
c Laboran Tersedia laboran yang memiliki kompetensi untuk melakukan tugasnya dan dapat berkomunikasi dlm Bhs. Inggris (TOEFL > 400) c Belum tersedia laboran Fisika Kelemahan
d Teknisi Tersedia teknisi Lab. Komputer yang memiliki kompetensi untuk melakukan tugasnya dan dapat berkomunikasi dlm Bhs. Inggris (TOEFL > 400) d Belum tersedia teknisi Komputer yang mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris Kelemahan
e Pustakawan Tersedia Pustakawan yang memiliki kompetensi untuk melakukan tugasnya dan dapat berkomunikasi dlm Bhs. Inggris (TOEFL > 400) e Belum Tersedia Pustakawan yang memiliki kompetensi; belum mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris Kelemahan
f Pegawai TU Tersedia tenaga TU yang memiliki kompetensi untuk melakukan tugasnya dan dapat berkomunikasi dlm Bhs. Inggris (TOEFL > 400) f Tersedia tenaga TU yang memiliki kompetensi; tapi belum mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris Kekuatan
g Pengem. Profesi Guru Berkompetensi dalam pembelajaran secara profesional g Kompetensi guru baik Kekuatan
h Forum pengem. komp. guru Tersedia satu hari 'off duty' bagi semua guru untuk mengikuti kegiatan forum pengembangan profesi h Belum tersedia hari "off duty" bagi guru Kekuatan
i IHT Diselengarakan dengan rutin oleh sekolah i Telah dilaksanakan IHT untuk meningkatkan komptenesi guru Kekuatan
2. Faktor Eksternal a Pelatihan Guru mengikuti pelathan yang diselengarakan oleh Departmen pendidikan atau lembaga lain a Hanya sebagian kecil guru memilki kesempatan mengikuti pelatihan Peluang
b Lomba kreataivitas Guru Guru mengikuti lomba kreatifitas guru b Baru 10 % guru yang mengikuti lomba kreativitas Guru Peluang
C.
Fungsi Pendukung PBM : Sarana Prasarana
1. Faktor Internal a Media Pembelajaran a Media Pembelajaran
a. Laptop, LCD/TV, OHP Tersedia Laptop, LCD/TV, OHP minimal masing-masing 1 unit per kelas a. Tersedia Laptop, LCD, TV; untuk kelas X dan Lab Komputer Kekuatan
b Peralatan Lab Bahasa Tersedia standard diknas b Belum Memilki Lab Bahasa Kelemahan
c Lab dan Perpus Tersedia standard diknas*) c Laboratorium dan Perpustakaan sudah tersedia
Lab. Fisika Tersedia minimal 1 laboratorium Fisika lengkap dengan peralatan dan bahan yang diperlukan untuk pembelajaran Peralatan lab Fisika belum lengkap Kelemahan
Lab Kimia Tersedia minimal 1 laboratorium Kimia lengkap dengan peralatan dan bahan yang diperlukan untuk pembelajaran Tersedia lab Kimia lengkap dengan peralatan yang diperlukan Kekuatan
Lab Biologi Tersedia minimal 1 laboratorium Fisika lengkap dengan peralatan dan bahan yang diperlukan untuk pembelajaran Tersedia lab Biologi lengkap dengan peralatan yang diperlukan Kekuatan
Lab Bahasa Tersedia minimal 1 laboratorium Bahasa lengkap dengan peralatan yang diperlukan untuk pembelajaran Belum Tersedia lab Bahasa lengkap dengan peralatan yang diperlukan Kelemahan
Lab Komputer Tersedia minimal 1 laboratorium Komputer lengkap dengan peralatan yang diperlukan untuk pembelajaran Tersedia lab komputer lengkap dengan peralatan yang diperlukan Kekuatan
Lab. Multimedia Tersedia minimal 1 laboratorium Multimedia lengkap dengan peralatan yang diperlukan untuk pembelajaran Belum Tersedia lab Multimedia, Kelemahan
Perpustakaan Tersedia minimal 1 perpustakaan lengkap dengan buku dan bahan pustaka berbahasa inggris serta dilengkapi peralatan yang diperlukan untuk pembelajaran dan berbasis digital (Elecctric Librally) Perpustakaan sudah ada tetapi belum lengkap, dab belum berbasis TIK (Electric Libarally) Kelemahan
d Ruang d Ruang
a. Ruang kelas Tersedia sesuai dengan jumlah rombongan belajar a. Sudah tersedia ruang kelas sesuai jumlah rombongan belajar Kekuatan
b. Ruang Kepala Sekolah Tersedia dan berfungsi b. Sudah tersedia ruang Kepala Sekolah dan berfungsi Kekuatan
c. Ruang Guru Tersedia dan berfungsi c. Sudah tersedia ruang guru dan berfungsi Kekuatan
d. Ruang TU Tersedia dan berfungsi d. Sudah tersedia ruang TU dan berfungsi Kekuatan
e. Ruang Serbaguna Tersedia dan berfungsi e. Sudah tersedia ruang serbaguna dan berfungsi Kekuatan
f. Ruang UKS Tersedia dan berfungsi f. Sudah tersedia ruang UKS dan berfungsi Kekuatan
g. Ruang MGMP/TRRC Tersedia sesuai dg jumlah rombel g. Belum tersedia ruang MGMP mandiri Kelemahan
h. KM/WC Tersedia dan berfungsi h. Tersedia Kamar Mandi dan WC dan berfungsi Kekuatan
i. Gudang Tersedia dan berfungsi i. Tersedia gudang dan berfungsi Kekuatan
j. Ruang Koperasi Tersedia dan berfungsi j. Tersedia ruang koperasi dan berfungsi Kekuatan
k. Ruang ibadah Tersedia dan berfungsi k. Tersedia ruang ibadah dan berfungsi Kekuatan
l. Ruang BK Tersedia dan berfungsi l. Tersedia ruang BK dan berfungsi Kekuatan
m. Ruang OSIS Tersedia dan berfungsi m. Tersedia ruang OSIS dan berfungsi Kekuatan
n. Kantin Tersedia dan berfungsi n. Tersedia kantin yang cukup memadai Kekuatan
o. Ruang Multi Media Tersedia ruang multi media yang memadai minimal 2 unit dan berfungsi dengan baik Tersedia baru 1 unit dan peralatannya belum lengkap kelemahan
e Website Tersedia, berfungsi dan terupdate secara teratur e Tersedia; terupdate secara teratur Kekuatan
f TIK Tersedia berfungsi dan terawat e Belum lengkap dan terawat kelemahan
D Fungsi Pendukung PBM : Kesiswaan
1. Faktor Internal 1 Sistem Seleksi Kriteria jelas, tegas dan terbuka 1 Sudah memiliki kriteria sistem seleksi yang tegas dan jelas Kekuatan
2 Pemb. & Pengemb. Intrakur Terprogram, didukung dana, dan sarana prasarana dari sekolah Pembinaan dan pengembangan Intrakurikuler terprogram Kekuatan
a. MIPA Siswa menguasai materi pelajaran sesuai dengan SI dan SKL 30 % siswa menguasai materi pembelajaran MIPA Kekuatan
b. Bhs. Inggris Siswa menguasai materi pelajaran sesuai dengan SI dan SKL dan mampu berkomunikasi dalam bhs. Inggris. Skor TOEFL > 500 2 30 % siswa mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris Kekuatan
c. ICT Siswa menguasai ICT 80% siswa menguasai ICT Kekuatan
3 Pemb.& Pengemb. Kokur Terprogram untuk seluruh warga sekolah, didukung dana, dan sarana prasarana dari sekolah 1 Pembinaan dan pengembangan Kokurikuler sudah terprogram, dan dukungan dana dari sekolah kurang memadai Kekuatan
1.Pengembangan diri Sekolah memilki program pengembangan diri 2 Sekolah sudah memiliki program pengembangan diri dana memadai Kekuatan
2. English Experience Day Terprogram minimal 2 hari per minggu 3 Belum melaksanakan English experience day Kelemahan
4 Pemb.& Pengemb Ekstraku Terprogram dan siswa aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minatnya Pembinaan danpengembangan ekstra kurikuler terprogram dan dukungan dana dari sekolah kurang memadai Kekuatan
a. KIR Terprogram dan siswa aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minatnya a. KIR sudah terprogram dan dilaksanakan Kekuatan
b. Pramuka Terprogram dan siswa aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minatnya b. Pramuka sudah terprogram dan dilaksanakan Kekuatan
c. Kesenian tradisional Terprogram dan siswa aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minatnya c. Kesenian tradisional sudah terprogram dan dilaksanakan Kekuatan
d. Olah raga Terprogram dan siswa aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minatnya d. Olah raga sudah terprogram dan dilaksanakan Kekuatan
e. Seni Musik Terprogram dan siswa aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minatnya e. Terprogram dan dilaksanakan Kekuatan
f. Seni lukis Terprogram dan siswa aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minatnya f. Belum terprogram Kelemahan
g. Seni suara Terprogram dan siswa aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minatnya g. Sudah terprogram dan dilaksanakan Kekuatan
h. Fotografi Terprogram dan siswa aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minatnya h. Belum terprogram Kelemahan
i. Komputer Terprogram dan siswa aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minatnya i. Sudah terprogram dan dilaksanakan Kekuatan
j. Debat Bhs. Inggris Terprogram dan siswa aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minatnya j. Sudah terprogram dan dilaksanakan Kekuatan
k. Jurnalistik Terprogram dan siswa aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minatnya k. Sudah terprogram dan dilaksanakan Kekuatan
l. Ikatan Remaja Mesjid Terprogram dan siswa aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minatnya l. Sudah terprogram dan dilaksanakan Kekuatan
m. PASKIBRA Terprogram dan siswa aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minatnya m. Sudah terprogram dan dilaksanakan Kekuatan
n. Palang Merah Remaja Terprogram dan siswa aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minatnya n. Sudah terprogram dan dilaksanakan
2. Faktor Eksternal a Lomba kreativitas siswa Mengikutsertakan siswa dalam berbagai lmba dan meraih peringkat kejuaraan a Mengikuti berbagai lomba kreativitas siswa dan berhasil meraih juara Peluang
b Lomba siswa Beprestasi Mengikutsertakan siswa dalam berbagai lmba dan meraih peringkat kejuaraan b Selalu megikuti lomba dan meraih juara Peluang
c Lomba Cerdas Cermat UN Mengikutsertakan siswa dalam berbagai lomba dan meraih peringkat kejuaraan c Selalu mengikuti dan berhasil meraih juara ! Peluang
d Orang Tua/wali mengadaan pertemuan dengan orang tua siswa minimal dua kali dalam sau tahuan d Mengadakan pertemuan dengan orang tua siswa dua kali dalam 1 ahuan Peluang
e Alumni Bekerja sama dengan alumni dalam melaksanakan berbagai even baik akademi maupun non akademik e Telah melakukan kerja sama dalam melaksanak berbagai epen di sekolah Peluang
f Beasiswa Siswa berprestasi dan kurang mampuh difasilitasi dengan beasiswa f Memberikan bea siswa kepada siswa berprestasi baiak akademik maupn non akademik. Peluang
E Fungsi Pendukung PBM : Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
1. Faktor Internal a Warga SMA Sosialisasi Progaram sekolah ke seluruh warga sekolah a Sudah melaksanakan Sosialisasi program ke seluruh warga sekolah Kekuatan
2. Faktor Eksternal a Sekolah Setara
a. Dalam Negeri Terprogram secara bertahap a Memiliki program kemitraan dengan sekolah dalam negeri Peluang
b. Luar Negeri Terprogram secara bertahap b. Belum memiliki program kemitraan dengan sekolah luar negeri Ancaman
b Universitas
a. Dalam Negeri Terprogram secara bertahap b a. Sudah memiliki program kemitraan dengan Universitas dalam negeri Peluang
b. Luar Negeri Terprogram secara bertahap b. Belum memiliki program kemitraan dg Universitas luar negeri Ancaman
c Institusi lainnya c Instansi lain
a. Dalam Negeri Terprogram secara bertahap a. Memiliki program kemitraan dengan Instansi dalam negeri Peluang
b. Luar Negeri Terprogram secara bertahap b. Belum memiliki program kemitraan dengan instansi luar negeri Ancaman
d SMP, MTs, N/S sekitar Sosialisasi ke seluruh sekolah untuk promosi program d Sosialisasi program belum menyeluruh Ancaman
e Komite sekolah Sosialisasi ke Orang tua siswa untuk mendapatkan dukungan finansial e Sosialisasi program ke orang tua untuk mendapatkan dukungan finansial belum memadai Peluang
f Pemkab/kota Sosialisasi ke Pemkab/kota untuk mendapatkan dukungan finansial f Sudah melaksanakan Sosialisasi program dengan Pemkab Peluang
g Pemprov Sosialisasi ke Pemprov untuk mendapatkan dukungan finansial g Sudah melaksanakan sosialisasi program dengan Pemprov Peluang
h Lainnya Sosialisasi ke instansi lainnya untuk mendapatkan dukungan finansial h Bekerja sama dengan koperasi dan telkom untuk mendapatkan dukungan dana
F Fungsi Pengelolaan Pendidikandan Administrasi
1. Faktor Internal a Jumlah Tersedia anggaran dalam jumlah yang cukup untuk membiayai program program sekolah a Tersedia jumlah anggaran yang cukup untuk membiayai program sekolah Kekuatan
b Sumber Sumber dana jelas dari berbagai institusi b Sumber anggaran jelas
c Data c Data
a. Akademik Tersedia, mudah diakses Data akademik tersedia, dalam komputer dan print out. Kekuatan
b. Kesiswaan Tersedia, mudah diakses Data kesiswaan tersedia, dalam komputer dan print out. Kekuatan
c. Keuangan Tersedia, mudah diakses Data keungan tersedia, dalam komputer dan print out. Kekuatan
d. sarana prasarana Tersedia, mudah diakses Data sarana prasarana tersedia, dalam komputer dan print out. Kekuatan
e. Alumni Tersedia, mudah diakses Data alumni tersedia, dalam komputer dan print out. Kelemahan
f. Personalia / SDM Tersedia, mudah diakses Data personalia belum terakses di internet Kekuatan
d Struktur organisasi Tersedia, terpasang di ruang guru, KS dan dokumen sekolah d Sudah tersedia struktur Organisasi sekolah Kekuatan
e Uraian Jabatan Tersedia, terinci dan diketahui oleh masing masing guru/pegawai e Sudah tersedia dan diketahui oleh guru dan pegawai Kekuatan
f ICT Memanfaatkan ICT dalam administrasi dan proses pembelajaran f Belum semua guru menggunakan ICT dalam pembelajaran Kekuatan
2. Faktor Eksternal a Standar ISO Sekolah memiliki sertifikasi ISO a Sekolah belum memiliki sertifikasi ISO Ancaman
G Fungsi Pengembangan Iklim Sekolah G
a Kebersihan: f Kebersihan
a. WC Bersih, tidak bau, ada air mengalir a. WC cukup bersih Kekuatan
b. Ruang Kelas Lantai, dinding maupun plafon bersih, ada tempat sampah. b. Ruang Kelas cukup bersih Kekuatan
c. Lab/perpus Lantai, dinding maupun plafon bersih, ada tempat sampah. c. Lab/ perpustakaan bersih, ada tempat sampah Kekuatan
d. Tempat Ibadah Lantai, dinding, plafon dan tempat bersuci bersih. d. Tempat ibadah bersih , ada tempat bersuci Kekuatan
e. Kantin Lantai, dinding maupun plafon bersih, ada tempat sampah, sampah tidak berserakan, air cukup dan mengalir. e. Kantin cukup bersih, ada tempat sampah Kekuatan
f. Halaman Bersih, sampah tidak berserakan dan tersedia tempat sampah yang cukup f. Halaman bersih , tersedia tempat sampah yng cukup Kekuatan
b Kerapihan : g Kerapihan : Kekuatan
1. Ruang Kelas Ada hiasan dinding yang tertata serasi a. Ruang kelas rapih,ada hiasan dinding Kekuatan
2. Lab/perpus Buku dan papan peringatan tertata di tempatnya b. Lab/ perpustakaan tertata rapih Kekuatan
3. Tmp Ibadah Perlengkapan ibadah dan hiasan tertata ditempatnya c. Tempat ibadah rapih Kekuatan
4. Kantin Perlangkapan makan/minum, meja, kursi dan hidangan tertata di tempatnya d. Penataan kantin kurang Ancaman
5. Ruang Kantor/TU Peralatan kerja, meja, kursi, hiasan tertata di tempatnya e. Ruang kantor/ TU tertata rapih Kekuatan
6. Ruang Guru Peralatan kerja, meja, kursi, hiasan tertata di tempatnya f. Ruang guru cukup rapih Kekuatan
7. Pakaian Warga Sekolah Logo dan atribut seragam terpasang, alas kaki sepatu berkaos kaki, rambut disisir rapih. g. Pakaian Warga sekolah baik, dan rapih Kekuatan
c Keamanan Bebas dari pencurian, pengrusaan dan gangguan lainnya h Keamanan Kekuatan
1. Ruang kantor/TU Bebas dari pencurian, pengrusaan dan gangguan lainnya a. Ruang kantor/TU sangat baik Kekuatan
2. Lab/perpustakaan Bebas dari pencurian, pengrusaan dan gangguan lainnya b. Lab/ Perpustakaan sangat baik Kekuatan
3. Ruang Ibadah Bebas dari pencurian, pengrusaan dan gangguan lainnya c. ruang ibadah sangat baik Kekuatan
4. Ruang Kelas Bebas dari pencurian, pengrusaan dan gangguan lainnya d. Ruang kelas sangat baik Kekuatan
5. Halaman/ruang terbuka Bebas dari pencurian, pengrusaan dan gangguan lainnya e. Halaman terbuka, sangat baik Kekuatan
d Keindahan i Keindahan Kekuatan
1. Gedung Warna cat serasi dan tidak pudar a. Gedung , baik Kekuatan
2. Taman Jenis tanaman bervariasi dan warna-warni b. Taman, baik Kekuatan
3. Ruang Ada hiasan serasi dengan ruangan c. Ruang , baik Kekuatan
e Kerindangan j Kerindangan Kekuatan
1. Pohon Pelindung tersedia, jumlah memadai a. Pohon pelindung kurang Kekuatan
2. Tempat duduk tersedia, memadai, nyaman b. Tempat duduk, tersedia cukup nyaman Kekuatan
f Bebas Asap rokok k Bebas asap rokok Kekuatan
a. Papan peringatan Tersedia, memadai, terpasang di beberapa tempat a. Tersedia papan peringatan Kekuatan
b. Penegakan sanksi Tersedia lembar perjanjian b. Tersedia lembar perjanjian untuk penegakkan sanksi Kekuatan
g Bebas Narkoba l Bebas narkoba Kekuatan
1. Papan peringatan Tersedia, memadai, terpasang di beberapa tempat a. Tersedia papan peringstan Kekuatan
2. Penegakan sanksi Tersedia lembar perjanjian b. Tersedia lembar perjanjian untuk penegakkan sanksi Kekuatan
h Disiplin m Disiplin Kekuatan
1. Waktu belajar Tepat waktu a. Waktu belajar tepat waktu Kekuatan
2. Tata tertib sekolah Tersedia dan terpasang di tiap ruang kelas b. Tata tertib tersedia terpasang di tiap ruang kelas Kekuatan
i Budaya Baca n Budaya Baca Kekuatan
1. Buku Siswa terbiasa membaca buku di lingkungan sekolah a. Budaya baca masih kurang Kelemahan
2. Forum diskusi bedah buku Ada forum diskusi bedah buku yang terjadwal b. Belum memiliki forum diskusi bedah buku yang terjadwal Kekuatan
2. Faktor Eksternal a Penlaian Adipura Melaksanakan dan memelihara kebersihan secara berkala Telah melaksanakan dan memelihara kebersiahan
5. Penentuan Strategi-strategi( langkah-langkah Strategic)
Setelah melakukan Analisis SWOT perlu dilakukan penentuan Strategi-strategi dengan mempertimbangkan factor-faktor internal dan factor-faktor external hasil analisa SWOT.
Gunakan Matrik Faktor Internal dan Faktor External dalam merumuskan Langkah-langkah Strategik
a. Merumuskan Strategi-strategi untuk mencapai tujuan/sasaran program
Dari table Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman diatas kita dapat membuat strategi-strategi untuk setiap fungsi yang ada sbb:
Faktor Internal
Faktor External Kekuatan-kekuatan
(Strengths) Kelemahan-kelemahan
(Weakneses)
Peluang
(Opportunities) S-O
Memanfaatkan kekuatan –kekuatan yang dimiliki untuk meraih peluang W-O
• Tekan Kelemahan untuk dapat meraih Peluang
• Raih Peluang untuk menekan Kelemahan
Ancaman
(Threaths) S-T
Galang Kekuatan untuk menghadang ancaman W-T
Tekan Kelemahan dan Hindari Ancaman
b. Contoh Perumusan strategi-strategi dengan menggunakan Matrik factor
Internal dan external.
Perumusan Strategi-strategi dengan menggunakan Matrik Faktor Internal dan External yang sudah diperoleh sebelumnya di SMAN1 CIAMIS
Untuk Fungsi Sumberdaya Manusia.
INTERNAL FACTORS
EKSTERNAL FACTORS STRENGTH
1. Sekitar 60% tenaga guru sudah mahir dalam menerapkan & memanfaatkan IT untuk berbagai keperluan WEAKNESSES
2. Kondisi mental siswa usia belasan relatif rentan terhadap pengaruh. PROGRAM /KEGIATAN
OPPORTUNITIES
1 Tersedianya begitu banyak sumber informasi, pengetahuan teknology, seni, budaya, politik, dll melalui internet
STRATEGI S-O(1-1)
1. Mengoptimalkan kualitas proses pembelajaran dengan memanfaatkan IT.
STRATEGI W-O(1-1)
2. Meningkatkan kemampuan IT guru dan tenaga kependidikan agar dapat mengakses dan memanfaatkan internet sebagai sumber belajar dalam berbagai kesempatan serta mampu melaksanakan pembelajaran berbasis internet.
a) Melaksanakan proses pembelajaran berbasis IT bagi guru-guru yang sudah menguasai IT.
b) Melaksanakan pembelajaran dengan memanfaatkan internet sebagai sumber belajar baik di dalam maupun di luar kelas.
c) Mengikutsertakan guru-guru dalam berbagai kegiatan pengembangan profesi baik sebagai narasumber, kepanitiaan.
2. Adanya program
Penyelenggaraan program peningkatan dan pengembangan kompetensi dan profesionalisme guru seperti seminar, lokakarya, pelatihan, dll baik tingkat kecamatan, kabupaten, prov, nasional, atau inter- nasional oleh berbagai instansi seperti Disdikkab/Disdikprof/diknas/LPMP/ Dll. STRATEGI S-O(1-2.)
3. Mengembangkan professionalisme guru melalui partisipasinya dalam kegiatan pelatihan (IT) sebagai pelatih atau narasumber dalam berbagai level kegiatan STRATGI W-O(1-2)
4. Meningkatkan kemampuan IT guru dan tenaga kependidikan yang lainnya dengan memberikan kesempatan untuk mengikuti program peningkatan dan pengembangan kompetensi dan profesionalisme guru seperti seminar, lokakarya, pelatihan, dll baik tingkat kecamatan, kabupaten, prov, nasional, atau inter- nasional oleh berbagai instansi seperti Disdikkab/Disdikprof/diknas dll.
d) Mengikutsetakan guru-guru pada pelatihandan seminar IT baik di tingkat kabupaten, Profinsi maupun nasional.
e) Melaksanakan program Pelatihan IT bagi para guru dan tenaga kependidikan yang membutuhkannya
THREATS
1. Berkembanynya Teknologi
memungkinkan masuknya budaya luar dan dikhawatirkan dapat berdampak terhadap terjadinya degradasi moral. STRATEGI S-T(1-1)
6. Meningkatkan system control dan penyaringan terhadap situs-situs yang riskan.
STRATEGI W-T(1-1)
7. Meningkatkan pemahaman warga sekolah terhadap baik buruknya internet dan bagaimana seharusnya kita mengendalikan teknologi. f) Melakukan pemblokiran terhadap situs-situs tertentu.
g) Melaksanakan sosialisasi terhadap warga sekolah tentang manfaat dan bahaya dari teknologi dan internet.
Langkah-langkah Strategik inilah yang kemudian dijabarkan kedalam program-program secara lebih rinci.
6. Merumuskan/ menyusun Program-program Strategic
Tugas perumusan dan penyusunan program ini diberikan kepada orang-orang yang bertanggungjawab dalam pelaksanaan program tersebut. Program dibuat sesuai strategi-strategi yang sudah ditentukan bersama. Program merupakan pedoman kerja yang akan selalu dijadikan acuan oleh semua orang yang terlibat.
Contoh Penjabaran Strategi ke program
Strategi Program
STRATEGI S-O(1-1)
Mengoptimalkan kualitas proses pembelajaran dengan memanfaatkan IT.
STRATEGI S-O(1-2.)
5. Mengembangkan professionalisme guru melalui partisipasinya dalam kegiatan pelatihan (IT) sebagai pelatih atau narasumber dalam berbagai level kegiatan. a. Melaksanakan proses pembelajaran berbasis IT bagi guru-guru yang sudah menguasai IT.
b. Melaksanakan pembelajaran dengan memanfaatkan internet sebagai sumber belajar baik di dalam maupun di luar kelas.
c. Mengikutsertakan guru-guru dalam berbagai kegiatan pengembangan profesi baik sebagai narasumber, kepanitiaan.
d. Mengikutsetakan guru-guru pada pelatihandan seminar IT baik di tingkat kabupaten, Profinsi maupun nasional.
e. Melaksanakan program Pelatihan IT bagi para guru dan tenaga kependidikan yang membutuhkannya
STRATEGI S-T(1-1)
6. Meningkatkan system control dan penyaringan terhadap situs-situs yang riskan.
f. Melakukan pemblokiran terhadap situs-situs tertentu.
g. Melaksanakan sosialisasi terhadap warga sekolah tentang manfaat dan bahaya dari teknologi dan internet.
STRATEGI W-O(1-1)
7. Meningkatkan kemampuan IT guru dan tenaga kependidikan agar dapat mengakses dan memanfaatkan internet sebagai sumber belajar dalam berbagai kesempatan serta mampu melaksanakan pembelajaran berbasis internet. h. Melaksanakan program pelatihan IT secara berkala bagi guru-guru yang memerlukannya.
i. Melaksanakan lomba karya IT bagi warga sekolah.
STRATGI W-O(1-2)
8. Meningkatkan kemampuan IT guru dan tenaga kependidikan yang lainnya dengan memberikan kesempatan untuk mengikuti program peningkatan dan pengembangan kompetensi dan profesionalisme guru seperti. j. Melibatkan para guru dan tenaga kependidikan secara merata berkeadilan kedalam acara seminar, lokakarya, pelatihan, dll baik tingkat kecamatan, kabupaten, prov, nasional, atau inter- nasional oleh berbagai instansi seperti Disdikkab/Disdikprof/diknas dll.
STRATEGI W-T(1-1)
7. Meningkatkan pemahaman warga sekolah terhadap baik buruknya internet dan bagaimana seharusnya kita mengendalikan teknologi. Dan menjauhi pengaruh buruk teknologi. k. Membuat dan Melaksanakan Pembinaan terhadap siswa akan pentingnya filter diri terhadap pengaruh buruk teknologi(terutama internet(melalui berbagai media)
l. Melaksanakan program pembloiran situs-situs internet yang sangat rawan terhadap kontribusi pengaruh buruk
6. Implementasi Program Inovasi
Pada tahapan ini seluruh warga sekolah sudah memiliki peran, tugas, fungsi, tanggung jawab, serta wewenang masing-masing. Semua warga bekerja secara kompak dan bersinergi. Peran manajemen disini bergantung pada peran, tugas, fungsi, tanggung jawab, serta wewenang masing-masing pula.
Namun demikian top leader memegang tangungjawab penuh terhadap sukses tidaknya pelaksanaan program dan sama halnya tercapai-tidaknya tujuan dan target program inovasi yang sudah dirancang.
7. Monitoring Dan Evaluasi
a. Monitoring Program Inovasi
Monitoring merujuk kepada pengertian usaha memberikan tindakan monitor terhadap sesuatu. Monitoring inovasi adalah kegiatan yang bertujuan melihat perkembangan pelaksanaan penyelenggaraan program inovasi, apakah sesuai dengan yang direncanakan atau tidak, sejauh mana kendala dan hambatan ditemukan, dan bagaimana upaya-upaya yang sudah dan harus ditempuh untuk mengatasi kendala dan hambatan yang muncul selama pelaksanaan program. Monitoring lebih berpusat kepada pengontrolan selama program berjalan dan lebih bersifat klinis (Rohiat, 2008 : 115).
Melalui monitoring, dapat diperoleh umpan balik bagi sekolah atau pihak lain yang terkait untuk menyukseskan ketercapaian tujuan. Oleh karena itu, pihak-pihak yang berwnang dalam melaksanakan monitoring harus melakukan monitoring sesuai dengan kapasitas dan tanggung jawabnya masing-masing.
Kegiatan monitoring berhubungan dengan salah fungsi manajemen, yaitu controlling atau pengawasan. George R. Terry menerangkan, bahwa controlling adalah proses penentuan apa yang harus diselesaikan berkenaan dengan pelaksanaan, Evaluasi program pelaksanaan, bila perlu dilakukabn tindakan korektif agar pelaksanaan tetap sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan (standar). Di bagian lain, H, Koontz dan O’Donnell, controlling adalah tindakan Evaluasi program/perbaikan terhadap bawahan untuk menjamin agar pelaksanaannya sesuai dengan rencana.
Controlling merupakan kegiatan mengawasi yang terdiri atas:
1) Menetapkan standar pelaksanaan, artinya pelaksanaan inovasi harus terlebih dahulu
melakukan standadisasi, sehingga ada sesuatu yang menjadi kejaran target. Pelaksanaan inovasi bukan hanya sekedar kegiatan tanpa arah, tanpa tujuan, tanpa kepastian target. Kegiatan inovasi adalah sesuatu yang bertujuan untuk mencapai makna dan kemudian makna itu berguna bagi kepentingan pendidikan secara keseluruhan. Utamanya adalah untuk mencaai kualitas pendidikan yang selama ini didambakan.
2) Pengukuran pelaksanaan pekerjaan dibandingkan dengan standar. Standar pada tahapan kerja selanjutnya akan menjadi sebuah tolok ukur. Ketercapaian standar, berarti indikasi positif terhadap tercapainya keberhasilan. Namun jika terjadi kesenjangan, ketercapaian hanya akan menjadi sebuah mimpi. Maka, para pelaksana inovasi akan berusaha mencapai kedekatan standar seoptimal mungkin. Sehingga, kalaupun tidak tercapai seluruhnya, ukuran ketidaktercapaiannya hanya dalam prosentase yang kecil, tidak terlalu signifikan.
3) Menentukan kesenjangan antara pelaksanaan dengan standar dan rencana.
Kesenjangan artinya bentangan jarak antara hasil dan standar. Tindak lanjut akan dapat ditentukan ketika kesenjangan tampak jelas ukurannya.
Proses pengawasan akan menghasilkan informasi yang penting untuk kegiatan inovasi. Informasi tersebut menyangkut beberapa temuan selama pengawasan yang kemudian dijadikan umpan balik bagi kegiatan inovasi. Pengawasan pada prinsipnya merupakan pengendalian, Evaluasi program, dan koreksi agar inovasi terarah kepada tercapainya tujuan yang ingin dicapai. Dalam hubungan dengan kegiatan inovasi, monitoring dilaksanakan untuk mengawasi dan mengecek kegiatan inovasi. Dari tindakan ini akan diketahui berbagai hal yang menyangkut pelaksanaan inovasi, kelebihan, kekurangan, kekuatan, dan kelemahannya. Jika terdapat kekeliruan, artinya suatu inovasi tidak sesuai dengan yang diharapkan, maka pihak yang melakukan monitoring melakukan tindakan-tindakan yang sekiranya dapat merubah atau setidaknya membuat program menjadi sesuai dengan apa yang diharapkan. Tindakan-tindakan itu antara lain :
• Memperbaiki (peralatan atau sarana yang rusak, tidak memadai, atau bahkan tidak menunjang program). Misalnya, dalam pembelajaran berbasis ICT, peralatan internet rusak. Ini akan menjadi hambatan tidak tercapainya program. Perbaikan harus segera dilakukan agar program bisa dilanjutkan. Bila mungkin, mengganti program dengan program yang baru, dengan susunan dan perencanaan yang lebih baik dari sebelumnya.
• Mengubah perilaku (para pelaku inovasi atau pun para penerima inovasi). Kembali mereka diarahkan kepada kesadaran, bahwa mereka sedang melaksanakan inovasi. Re-komitmen dalam hal ini harus dibangun, agar semua anggota memiliki tanggung jawab yang sama demi keberhasilan program.c) Melakukan re-organisasi organisasi atau institusi. Ini penting mengingat keberhasilan program inovasi berkaitan dengan keberadaan organisasi. Di sekolah, organisasi dimaksud adalah susunan organisasi kepengurusan sekolah, sejak dari Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Komite sekolah, Urusan Tata Usaha, Para pembantu Kepala Sekolah yang mengurusi masing-masing bidang, guru-guru, dan siswa. Restruturisasi memungkinkan terjadinya pemikiran-pemikiran baru yang dapat menunjang terlaksananya program.
b. Evaluasi Program Inovasi
Keterangan tentang monitoring atau pengawasan di atas pada hakikatnya berhubungan dengan masalah evaluasi. Sebagaimana diketahui, bahwa evaluasi adalah suatu proses mendapatkan berbagai informasi secara berkesinambungan dan menyeluruh, tentang proses dan hasil yang telah dicapai melalui kegiatan sesuai standar yang ditetapkan sehingga dapat dijadikan dasar untuk menentukan perlakuan selanjutnya.
Setiap individu atau human being pasti memiliki tujuan hidup. Apa pun tujuannya itu. Apakah tujuan sementara, tujuan perantara, tujuan akhir, dan tujuan-tujuan lain yang dapat didefinisikan. Untuk mencapai tujuan itu perlu dilakukan suatu usaha atau tindakan. Orang selalu ingin mengetahui sejauh mana usaha yang telah dilakukan itu dapat mencapai tujuan yang ditetapkan sebelumnya.
Kegiatan evaluasi pada dasarnya adalah untuk mengetahui sejauh mana kesuksesan pelaksanaan penyelenggaraan program inovasi dan sejauh mana keberhasilan yang sudah dicapai.
Inovasi pendidikan merupakan salah satu usaha manusia untuk mencapai perubahan dan pembaharuan sebagaimana di atas telah dibahas. Inovasi pendidikan memiliki makna hakiki tentang bagaimana individu atau sekelompok ndividu melakukan perubahan terhadap sesuatu yang selama ini menjadi pekerjaan atau bidang kegiatannya. Rutinitas yang biasa dilakukan akan sampai pada puncak stagnasi dan kecenderungan untuk bosan.
Menghilangkan kejenuhan dan stagnansi semacam ini harus dilalui dengan upaya mengalami sesuatu yang baru. Dan inovasi pendidikan adalah salah satu jawabannya.
Sebagai suatu usaha yang mempunyai tujuan, sudah sewajarnya baik secara implisit maupun eksplisit, inovasi pendidikan mengandung masalah Evaluasi program. Hal ini dilakukan sebab setiap saat orang perlu mengetahui dengan alasan bermacam-macam sampai sejauh mana standar yang ditetapkan itu sudah terwujud atau terlaksana dalam usaha-usaha yang dijalankan (Suryabarata, 1984 : 317).
Bagi para pelaksana inovasi, Evaluasi adalah masalah yang selalu implisit dalam pelaksanaan inovasinya, sehingga oleh karena itu Evaluasi menjadi bagian penting dalam kelengkapan program inovasi pendidikan. Evaluasi menjadi bagian integral dalam usaha inovasi pendidikan. Pemahaman ini harus dikuasai para pelaksana inovasi sehingga inovasi sendiri mampu meposisikan diri sebagaimana mestinya.
Evaluasi Program Inovasi adalah proses evaluasi yang dilakukan terhadap kegiatan inovasi. Ketika Evaluasi dilakukan dengan benar, para pelaksana, penerima, dan bahkan organisasi memperoleh manfaat dengan memastikan bahwa usaha-usaha inovasi berperan dalam mengarahkan strategi organisasi. Dalam praktiknya, evaluasi program inovasi dipengaruhi oleh aktivitas lain dalam organisasi, dan pada gilirannya mempengaruhi keberhasilan organisasi secara keseluruhan.
i. Tujuan Evaluasi Program Inovasi adalah :
• Memberikan umpan balik kepada pelaksana program dalam rangka memperbaiki kinerja inovasi yang lebih tpat sesuai dengan tingkat kemampuan dan potensi yang dimiliki.
• Memberikan informasi kepada masyarakat tentang keberhasilan program, dengan tujuan untuk memperbaiki atau mengembangkan program inovasu lanjutan.
• Menentukan tingkat keberhasilan yang dibutuhkan untuk rancangan laporan kepada pihak yang berwenang, seperti Dinas Pendidikan, Kepala Sekolah, dan bahkan masyarakat.
ii. Manfaat Evaluasi Program Inovasi juga berguna untuk :
• mendukung objektivitas pengamatan yang dilakukan petugas evaluasi dan monitoring.
• menimbulkan perilaku di bawah kondisi yang relatif terkontrol.
• mengukur sampel kemampuan individu,
• memperoleh kemampuan-kemampuan mengukur hasil yang sesuai dengan tujuan dan standar yang ditetapkan,
• mengungkapkan kondisi yang tidak kasat mata, atau hal-hal yang tidak terduga,
• mendeteksi karakteristik dan komponen-komponen perilaku,
• meramalkan kegiatan yang akan datang,
• menyediakan data sebagai umpan balik dan membuat keputusan.
iii. Fungsi Evaluasi pada Program Inovasi adalah:
Memberikan gambaran atau potret keberhasilan inovasi dalam semua aspek. Potret ini merupakan potret diri, potret program, potret prosedur bagi pelaksana dan penerima program. Potret ini dapat berbentuk laporan kegiatan inovasi.
• Menumbuhkan ketelian pelaksanaan program, sehingga program lanjutan dapat dilaksanakan dengan tingkat ketelitian yang lebih dari sebelumnya.
• Menempatkan program inovasi dalam situasi yang tepat. Artinya terdapat kesesuaian dalam berbagai aspek, baik aspek eksternal maupun internal.
iv. Prinsip-prinsip Monitoring dan Evaluasi Program
Beranalog kepada prinsip-prinsip evaluasi secara umum maka prinsip monitoring dan evaluasi program inovasi adalah:
• Prinsip menyeluruh
Monitoring dan evaluasi mencakup berbagai aspek, yaitu:
Relativitas keuntungan program, atau keuntungan relatif program terhadap upaya-upaya pengembangan pendidikan. Sejauh mana inovasi dianggap menguntungkan bagi penerimanya. Tingkat keuntungan atau manfaat suatu inovasi dapat diukur berdasarkan nilai ekonominya, atau mungkin dari faktor status sosial, kesenangan, kepuasan, atau karena mempunyai komponen yang sangat penting. Makin menguntungkan bagi penerima makin cepat tersebarnya inovasi. Oleh karena itu, monitoring harus sampai pada bagaimana mengawasi tingkat keuntungan program dengan cara membandingkannya secara ekonomi.
a. Konsistensi program, atau keajegan program terhadap tujuan yang hendak dicapai. Ini berkaitan dengan kemapanan program, komitmen, termasuk kesepakatan menjalankan program inovasi sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
b. Kemudahan, artinya kemudahan dalam try-out, kemudahan penggunaan, kemudahan dalam pengujian, dan sebagainya. Ini artinya program dapat dengan mudah diakses, mudah dcioba, dan mudah ditindaklanjuti. Inovasi yang tdak mudah dicoba, akan menyebabkan tidak diterimanya program tersebut oleh penerima inovasi.
c. Observatibiltas, atau kemudahan untuk diobservasi. Program bukan sesuatu yang tertutup, namun sesuatu yang bersifat terbuka. Suatu inovasi yang hasilnya mudah diamati akan makin cepat diterima oleh masyarakat, dan sebaliknya yang sukar diamati, akan lama diterima oleh masyarakat.
d. Kompleksitas, mencakup keseluruhan program, apakah ada keterlibatan usaha untuk pelatihan, kertas kerja, dan sebagainya. Kompleksitas ialah tingkat kesukaran untuk memahami dan menggunakan inovasi bagi penerima. Suatu inovasi yang tidak mudah dimengerti dan tidak mudah dipahami oleh penerima.
• Prinsip Kontinuitas
Prinsip kontinuitas mengandung makna adanya upaya untuk terus-menerus mengikuti pertumbuhan, perkembangan, dan perubahan situasi dan kondisi dan segala hal yang menyangkut upaya inovasi. Dalam mengikuti perlembangan-perkembangan itu, monitoring dan evaluasi tetap ditujukan untuk keberhasilan program itu.
• Prinsip Obyektivitas
Prinsip obyektif mengandung makna keikhlasan dan kearifan ketka melakukan monitoring dan evaluasi, mengedepankan kepentingan ilmiah dari pada kepentingan perasaan. Ini penting untuk menjaga kualitas hasil evaluasi yang obyektif.
v. Objek Monitoring dan Evaluasi Program
Objek monitoring dan evaluasi program inovasi pendidikan adalah menyangkut semua aspek proses inovasi yang meliputi:
Proses permulaan, memonitor bagaimana kegiatan pengumpulan informasi dilakukan, konseptualisasinya, dan perencanaan untuk menerima inovasi.
Implementasi , Sasaran monitor dan evaluasinya adalah :
- Kejadian
- Kegatan
- Keputusan, dan
- Penggunaan inovasi
Redefinisi, Sasarannya adalah :
Kegiatan modifikasi atau reinvensi sehubungan dengan kegiatan inovasi yang dilaksanakan.
Modifikasi atau restrukturisasi organisasi sehubungan dengan kegiatan inovasi yang dilaksanakan.
Klarifikasi, Sasarannya adalah :
- Hubungan inovasi dengan organisasi
- Tindak lanjut inovasi
Rutinisasi, Pada bagian ini dimonitor dan dievaluasi; apakah inovasi kemudian daat diterima sebagai kostum penggunaan seherĂ-hari. Atau dengan kata lain, apakah inovasi sudah menjadi bagian dari kegiatan seharĂ-hari.
BAB.III
KESIMPULAN
Manajemen adalah “seni kelola organisasi yang di dalamnya meliputi proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya dari anggota organisasi serta penggunaan sumua sumber daya yang ada pada organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya”.
Inovasi pendidikan adalah suatu fikiran, gagasan, praktek atau pendekatan, strategi, produk baru atau yang dianggap sebagai sesuatu yang baru yang mampu memperbaiki keadaan, memecakan masalah-masalah terkait pendidikan, sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan.
Faktor-faktor kegagalan Inovasi diantaranya adalah:
buruknya proses dalam menselaraskan tindakan untuk mencapai tujuan;
buruknya partisipasi anggota tim;
buruknya pengawasan proses dan hasil
buruknya
Langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam merancang dan mengimplementasikan program inovasi diantaranya:
1. Analisis Akar Masalah
2. Menentukan Tujuan Program Inovasi
3. Penetapan dan Penyusunan Konsep Program inovasi
4. Analisis SWOT
5. Penentuan Strategi-strategi( langkah-langkah Strategic)
6. Merumuskan/ menyusun Program-program Strategic
7. Implementasi Program Inovasi
8. Monitoring Dan Evaluasi
Analisis akar masalah adalah suatu metoda pemecahan masalah dengan mengungkap semua factor-faktor penyebab yang mungkin, dan menentukan factor penyebab yang paling dominan dengan tujuan untuk menemukan solusi terbaik untuk permasalahan yang muncul dalam suatu organisasi.
Analisis ini dilaksanakan sebelum perancangan inovasi, sehingga ketika program inovasi dirancang dan dilaksanakan akan menjadi solusi terhadap permasaahan-permasalahan yang muncul sehingga pada akhirnya akan memperludah terwujudnya tujuan dan target yang ditetapkan bersama.
Tujuan Program Inovasi segera dirumuskan setelah akar masalah diketemukan.
Langkah berikutnya dalam merancang inovasi adalah menetapkan program apa yang akan dilaksanakan kemudian menyusun konsep secara garis besar.
Setelah itu dilanjutkan dengan analisa situasi /lingkungan internal dan eksternal dengan alat SWOT Analysis, dengan tujuan untuk mengukur sejauh mana kesiapan organisasi terhadap program inovasi yang akan dilaksanakan. Analisis ini sangat perlu dilaksanakan oleh semua pihak agar informasi tersusun secara lengkap dan menyeluruh. Analisa SWOT merupakan sebuah alat analisis yang cukup baik, efektif, dan efisien serta sebagai alat yang cepat dalam menemukenali kemungkinan-kemungkinan yang berkaitan dengan pengembangan awal program-program inovasi baru di dalam sekolah kejuruan, disamping dapat digunakan sebagai alat pengambilan keputusan dalam organisasi atau komite bahkan individu. Juga sebagai alat bantu untuk memperluas dan mengembangakan visi dan misi suatu organisasi. Analisa SWOT dapat melihat seluruh kemungkinan perubahan masa depan sebuah institusi melalui pendekatan sistematik melalui proses instropeksi dan mawas diri ke dalam, baik bersifat positif maupun negatif. Makna dan pesan yang paling mendalam dari analisa SWOT adalah apapun cara-cara serta tindakan yang diambil, proses pembuatan keputusan harus mengandung dan mempunyai prinsip berikut ini; kembangkan kekuatan, minimalkan kelemahan, t Hasil analisisa SWOT dimanfaatkan untuk menetapkan langkah-langkah strategik yang perlu dilakukan oleh lembaga. angkap kesempatan/peluang, dan hilangkan ancaman.
Hasil analisisa SWOT dimanfaatkan untuk menetapkan langkah-langkah strategik yang perlu dilakukan oleh lembaga. Seorang manajer perlu mengenal factor-faktor kunci keberhasilan dan factor-faktor kunci kegagalan dalam melaksanakan inovasi seperti dijelaskan sebelumnya.
Dengam mengenali factor-faktor tersebut seorang manajer dapat menyusun strategi-strategi (dengan melibatkan seluruh komponen yang terlibat dalam program inovasi) untuk mencapai tujuan inovasi.
Strategi-strategi disusun dengan mengoptimalkan menggalang seluruh kekuatan yang dimiliki, menekan kelemahan-kelemahan-kelemahan yang ada untuk dapat meraih peluang sebanyak-banyaknya, dan menghadang ancaman yang mungkin datang.
Selanjutnya strategi-strategi tersebut dijabarkan kedalam bentuk program yang lebih rinci dan jelas. Penyusunan program dilaksanakan oleh masing-masing bidang. Dengan demikian program akan mudah dibaca, difahami, dan dipergunakan sebagai pedoman dalam melaksanakannya. Setelah selesai program maka tiba saatnya untuk mengimplemenasikan program inovasi. Lakukan Monev internal untuk mengontrol jalannya proses implementasi dan jika ada permasalahan dapat diselesaikan. Dengan monev maka program diharapkan dapat berhasil sesuai tujuan dan target yang sudah ditetapkan bersama.
Selain itu dengan monev kita dapat merancang dan melaksanakan program inovasi berikutnya dengan lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
1. Suherli Kusmana, Prof. Dr., M.Pd, 2010, Manajemen Inovasi Pendidikan, Ciamis, Pascasarjana Unigal Press.
2. Uhar Saputra/uharsputra.wordpress.com/pendidikan/inovasi-pendidikan
3. Euis Rachwati Sakinah, 2009, SMANSACIS-RPS BLUE PRINT, Ciamis
4. Kuat Ismanto, SHI., M. Ag(2009), ANALISA SWOT DALAM INOVASI PENDIDIKAN
5. Euis Rachwati Sakinah, 2007, Analisis Lingkungan Internal dan External SMA Negeri 1 Ciamis, Hand-out, Ciamis
6. Ari Harsono, P.(2008) Analisis Akar Masalah dan Solusi, Jakarta, Makara Sosial Humaniora
7. http://blog.unila.ac.id/redha/2009/05/11/renstra-bandar-lampung/
8. http://www.quickmba.com/strategy/swot/
9. en.wikipedia.org/wiki/Innovation
10. sistem-inovasi.blogspot.com/